My Wedding Dream

My Wedding Dream
20. Bimbang



Abangnya Salma segera melihat keadaan teman adiknya itu. Mungkin benar kata adiknya kalau dia menang ada sedikit ketertarikan padanya. Tapi ia tidak ingat buru-buru. Bukan karena ia sudah tidak perawan lagi, tapi belum lama ini ia baru putus dengan seorang wanita yang hendak diajaknya menikah. Lagipula setelah dia pergi belum tentu bakal bertemu lagi. Walaupun ia berharap untuk terus melihat wajahnya, tapi apa mungkin?


Mengenai mantan pacarnya itu sebenarnya ia pernah membicarakan pada Salma. Namun ternyata, apa yang diharapkan tak bisa tercapai. Dia akhirnya harus pasrah menikah dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Padahal sudah bukan jamannya lagi perjodohan. Tapi kenapa harus orang tua yang memilihkan jodoh? Padahal bukan mereka yang menjalani kehidupan rumah tangga. Kenapa coba?


Tanpa sepucuk undangan yang datang padanya, sebuah tenda berwarna biru didirikan di depan rumahnya. Ingin rasanya dia menghancurkan segala persiapan yang telah matang itu. Atau bisa saja saat akan berlangsung dia menyelonong masuk menghentikan ijab qobul seperti yang pernah ia lihat di sinetron yang kadang ia tonton dikala sedang senggang.


Bisa saja dia bilang kalau dia telah menghamili wanita itu. Tapi dia enggan melakukan. Dia pasrah dengan semuanya. Sambil berharap suatu saat jodohnya akan datang. Dia tidak tahu kapan, tapi biasanya doa orang terdhzolimi cepat dikabulkan.


***


"Gimana kondisinya sekarang?" Saat melihat Centini sedang duduk di pinggiran kasur dia langsung bertanya.


"Udah baikan. Mungkin nanti jam tiga aku mau pergi lagi nyari bus. "


"Nanti aja pulangnya bareng kakakku. Biar sekalian, lagian kau juga udah mau menerima kerja ditempat temannya kakakku," sambil membawakan makanan Salma masuk dan langsung berkata begitu.


"Tapi kayaknya aku ngerepotin banget. Maaf ya aku disini malah cuma tidur aja."


"Enggak masalah. Dari dulu kau memang paling enggak bisa kalau disuruh begadang. Aku dah paham kebiasaan mu . Kita kan teman," sambil menaruh makanan Salma berkata begitu. Nampaknya ia kali ini sudah mulai bisa menerimanya. Setelah menaruh makanan ia keluar, sebenarnya kurang baik juga jika seorang lelaki berada satu kamar bersama seorang wanita yang bukan muhrimnya. Tapi Salma tidak menegurnya karena ia sangat paham debgan abangnya itu.


"Oh ya, gimana kalau kita melaporkan polisi mengenai hal ini? Bagaimanapun juga ini adalah tindakan yang sudah melanggar hukum."


"Aku rasa tidak perlu. Sebenarnya aku ingin , tapi aku tidak ingin lagi berurusan dengan orang seperti dia. Aku tidak ingin melihat mukanya lagi."


"Kalau dia ku singkirkan dari dunia ini enggak masalah berarti?"


"Enggak. Kalau sampai hal itu terjadi, keadaannya malah memburuk. Aku tidak ingin ada darah yang mengalir karena masalahku ini. Biar, biar dia menerima hukumannya sendiri."


"Saat menikah, sebenarnya dia punya anak yang masih kecil. Jika dia terbunuh bagaimana nasib anaknya kelak? Kalau soal aku, enggak usah dipikirin. Lagipula aku sudah dewasa, aku ingin mengatur diriku sendiri."


"Anaknya cowok atau cewek?"


"Cowok, masih kelas 4 SD dia sekarang."


"Ya kalau maunya kau gitu ya udah. Aku enggak maksa juga," Melihat Centini yang mengkhawatirkan soal adik tirinya itu, Abangnya Salma menjadi paham. Anak umur segitu tidak seharusnya menerima dampak dari perilaku ayahnya yang bejat.


Tapi keputusannya bulat, ia akan mengirimkan hasil rekaman itu kepada ibunya Centini. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti akan berat juga, tapi kebenaran itu harus diungkapkan. Cuma, bagaimana caranya agar adik tirinya Centini itu tetap mendapatkan kasih sayang ia masih memikirkan hal itu. Ia tak ingin karena keegoisannya dia menjadi korban.


Kasihan juga anak umur segitu harus hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan harus tinggal bersama ayah yang bejat. Beban pikirannya pasti akan sangat berat, apalagi dia masih kecil. Belum mengerti apa-apa. Apakah kebulatan niatnya itu akan goyah?


"Mending kau makan dulu . Mau disuapin enggak?" Abangnya Salma berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Enggak. Aku bisa makan sendiri kok," dia berkata dengan ucapan yang tidak yakin karena yang didengarnya tadi terasa mengejutkan.


"Ya udah. Kalau gitu ku tinggal dulu ya. "


***


Abangnya Salma yang keluar langsung mendengar suara rekaman yang ia tadi ia rekam setelah lumayan puas memukulinya. Dengan menggunakan earphone ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sebenarnya tadi ia ingin memberikan hasil rekaman itu kepada ibunya Centini, tapi ia jadi ragu sekarang. Masalahnya ia tidak ingin menghancurkan nasib adik tirinya yang pasti akan entah bagaimana jika tadi ia langsung mengirimkannya.


Dia punya nomor ibunya Centini karena sebelum mengikat ayah tirinya, ia mengambil ponselnya dan segera menyalin nomor yang ada disana. Sekarang mau diapakan rekaman itu? Rasanya seperti buah simalakama. Kebimbangan yang mendera kian lama kian membesar.


Terdengar suara adzan , daripada bingung lebih baik bergegas mandi kemudian sholat saja. Kali aja setelah itu ia akan mendapatkan pencerahan. Itu lebih baik daripada ia terus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak terlalu dipikirkan olehnya.