My Wedding Dream

My Wedding Dream
26. Pop Ice



"Sayang, kalau misalnya nanti aku dagang di depan rumah boleh enggak?" saat mereka berdua sedang berada dikamar tidur, Salma bertanya.


"Mau dagang pop ice?" Tanya Fiky.


"Enggak cuma itu. Aku juga mau jualan makanan gitu. Daripada enggak tahu mau ngapain. Bosen aja gitu pasti di rumah. Biasa ada kesibukan jadi kalau nganggur gitu kayak ada yang kurang. Lagian juga kan enggak ada yang salah , uangnya juga halal kok."


Fiky diam saja, ia tampak seperti berpikir. Otaknya mulai mengingat saat ia pernah mengejek seorang teman yang habis nikah terus jualan pop ice. Walaupun sambil bercanda waktu itu . Selesai ia berkata, sambil tertawa temannya bilang kalau nanti dia bakal mengalami hal yang sama.


Fiky merasa kualat sekarang. Kalau mengiyakan apa kata orang rasanya agak gimana, tapi kalau menolak juga itu bukan sesuatu yang buruk . Fiky bingung sendiri.


Ia paham istrinya itu. Dulu saat masih pacaran dia bekerja di sebuah toko ritel yang punya banyak cabang. Ia keluar karena sudah waktunya untuk nikah. Dia pernah bilang ingin kerja lagi, tapi Fiky merasa keberatan dengan keputusannya.


"Hmmm, kamu serius mau dagang?" tanya Fiky kemudian.


"Aku serius. Lagian kalau cuma dagang gitu kan bisa sambil ngurusin rumah. Lagian lumayanlah nanti uangnya kan bisa untuk nabung juga. Biar nanti kalau ada sesuatu yang mendesak bisa dipakai."


"Kamu enggak malu jualan?"


"Enggaklah. Lagian kan aku dah biasa ketemu banyak orang baru. Tahu sendirilah dulu aku kan kasir. Ngomong-ngomong kamu ingat kan mengapa kita bisa dekat? Kan itu semuanya karena aku jadi kasir. Dari dulu aku pingin banget punya usaha sendiri, males terus-menerus nungguin dagangannya orang."


"Aku ingat kok waktu kita kenal dekat dulu. Itu karena karena aku terus-menerus membeli rokok ditempat kerjamu dulu sambil terus godain kamu," Jawab Fiky. Ia merasa konyol sekali setiap kali mengingatnya, tapi begitulah cerita cintanya dengan Salma dulu.


"Jadi gimana? Boleh kan?"


"Tapi jangan sekarang ya. Masih malam soalnya," jawab Fiky garing.


"Apaan sih? Enggak jelas banget. Kalau nanti aku jual barang online kamu mau enggak nganterin barang?"


"Kalau itu aku saat ini kayaknya kurang sanggup. Tapi mungkin kalau pas libur bisa ."


"Besok aku kalau langsung kerja boleh enggak?"


"Boleh kok sayang. Berangkat jam berapa besok?" tanya Salma.


"Mungkin habis subuh."


"Mau dibawain bekal enggak?"


"Boleh."


"Besok kalau aku masak protes aja kalau rasanya enggak enak atau mungkin kamu enggak suka. Lebih enak kalau dengar langsung dari mulutmu daripada orang lain yang ngomong," kata Salma.


"Soalnya ada tetanggaku dulu gitu. Gara-gara masalah masakan akhirnya mereka berantem terus pisahan."


"Aku pasti ngomong kok. Tapi ya nanti kalau ngomong pasti kamu sakit hati."


"Enggaklah. Lagian lebih baik aku tahu daripada salah terus."


"Ya udah. Aku pingin tidur lho, tapi sambil dipeluk. Mau enggak kau meluk aku?" Fiky berkata sambil menguap.


"Siap sayang," jawab Salma. Tangannya segera memeluk bahu suaminya itu.


"Sayang, aku kok pingin anu ya. Tapi besok aku kerja," saat tangannya menyambut tangan istrinya, ia tiba-tiba berkata begitu.


"Besok aja lagi . Aku juga lagi datang bulan," sambil malu-malu Salma berkata.


"Ya udah kalau gitu. Selamat tidur ya."