My Wedding Dream

My Wedding Dream
19. Ada Rasa?



Setelah Ayahnya Centini pingsan, Abangnya Salma segera melepas ikatannya. Segera dibawanya ke tempat yang berada agak dekat dari rumah warga. Sebenarnya ia masih ingin bermain-main dengan tubuh itu, tapi kalau dipikir apa yang dilakukannya hanyalah luapan dari ketidakmampuannya terhadap kasus serupa di masa lalu. Yang penting ia sudah mendapatkan bukti yang kuat untuk bisa membuatnya jera.


Ia ingin melaporkan kasus ini ke polisi, tapi ia akan melakukannya jika yang bersangkutan mau. Kalau misalnya ditolak juga ia masih punya rencana cadangan yang menurutnya lebih efektif. Segera ditaruhnya ia di antara semak belukar sebelum ada orang yang tahu. Ditanggalkannya topeng yang tadi membalut wajahnya tadi. Mau bagaimanapun ia tidak ingin orang itu tahu.


Kalau misalnya tahu bakal parah juga efeknya. Kecuali nanti kalau sudah masuk penjara, mau memandang wajahnya sepuas yang ia mau pun bisa. Soalnya kalau sudah di penjara dia sudah tidak berkutik lagi. Bahkan jika ia mengomel sampai berbusa pun bisa ditinggalkan dengan mudah.


Ia segera pulang meninggalkan lelaki setengah baya itu. Ia tak ingin membawanya lebih jauh lagi. Menurutnya di taruh di semak juga sudah bagus. Daripada di tinggal di hutan , setidaknya itu sudah tak jauh dari rumah warga.


***


"Maaf ya ngerepotin kalian, pokoknya lain kali enggak akan aku minta hal semacam ini lagi," saat berada di salah satu rumah makan ia segera berkata kepada temannya melalui jaringan telepon. Ternyata menghajar orang dengan nafsu yang meluap membutuhkan banyak tenaga.


"Janji ya ini untuk yang terakhir?"


"Iya. Lain kali aku enggak bakal lagi kayak gini ."


"Harus. Lagian ngapain sih ikut campur masalah orang lain?"


"Lain kali enggak deh. Aku cuma terbawa suasana aja tadi," sambil menunggu pesanan ia berkata.


"Ya udah. Kali ini dimaafkan."


"Makasih ya."


"Enggak usah ngomong makasih. Ya udah, bye bye," sambungan telepon langsung terputus.


Sambil makan ia merasa bersalah juga pada mereka. Seharusnya reuni dengan penuh canda dan cerita ini malah suruh menculik orang. Andai mereka tidak menganggapnya lagi pasti sudah ditolak mentah-mentah. Walaupun dia mengakui bahwa apa yang dilakukannya hanya pelampiasan, tapi berbuat sejauh itu memang tidak bagus.


Centini juga kalau mendengarnya pasti dia tidak akan senang, oleh karena itu ia tidak berkompromi dengannya. Mengenai penganiayaan yang ia lakukan tadi ia tidak merasa bersalah sama sekali dengan orang itu bahkan jika mati sekalipun. Daripada mikirin hal yang lain, lebih enak menikmati makanan yang sudah terhidang di depannya.


***


"Sal, temanmu itu mau enggak jadi pembantu? " Saat keluar dari kamar abangnya , Salma langsung ditanyai begitu oleh kakaknya .


"Kayaknya sih mau dia. Lagian dia juga katanya enggak punya tujuan lagi. Daripada luntang-lantung enggak jelas kenapa enggak?"


"Baguslah. Lagian kerjanya juga enggak berat banget kok. Paling beres-beres sama ngurusin anak umur 7 tahun. Udah enggak terlalu ribet juga sih umur segitu. Paling enggak udah lumayan ngerti lah."


"Boleh enggak minta alamatnya?"


"Nanti kutanya dia, semoga aja dia mau. Soalnya dia kayak takut banget ketahuan kalau misalnya disini ."


"Gimana ya. Aku juga ngerti sih kondisinya gimana. Kalau dia mau cepat ya enggak masalah juga nanti biar ku kasih tahu ke temanku ."


***


Setelah kenyang, abangnya Salma pulang . Diperjalanan entah kenapa terbayang-bayang terus wajah temannya yang dulu pernah mengalami hal yang sama dengan yang dialami temannya itu. Setiap kali teringat, selaku ada perasaan perasaan bersalah yang menghinggapinya.


Walaupun dia meninggal dengan cara yang menyedihkan, tapi abangnya Salma selalu berdoa agar ia bisa tenang di alam yang tak terlihat oleh matanya. Ia harap ia bisa bahagia disana.


Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Ayahnya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri saat dimana ia bisa melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Setidaknya sekarang ia bisa berkunjung kapanpun ia mau tanpa perlu terhalang jarak yang jauh seperti sebelumnya.


Disana, ia menceritakan hal-hal yang mengganggunya . Diceritakan juga olehnya bagaimana ia ingin dimanja lagi seperti saat dahulu. Sebelum pulang, ia mendoakan ayahnya yang telah tergeletak di dalam tanah.


***


"Gimana keadaan temanmu itu Sal?" Begitu pulang ke rumah, Abangnya Salma langsung bertaniya begitu. Nampaknya ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.


"Udah lumayan. Tapi dia tadi nampaknya udah mau pergi cuma ya ku bilang sama dia untuk istirahat dulu ."


"Menang harusnya gitu sih. Kau dah tahu kemana tujuannya bakal pergi?"


"Dia katanya mau jadi pembantu. Kebetulan kakak tadi ngomong temannya ada yang butuh pembantu. Dia bilang ke aku terus ku tawarkan dia. Daripada enggak tahu mau kemana lagi kan lebih baik diterima aja ."


"Baguslah . Setidaknya dia punya tujuan sekarang."


"Bang, boleh nanya enggak?"


"Abang ada rasa enggak sama dia?"


"Kenapa rupanya?"


"Kayaknya perhatian kali sama dia."


"Emangnya kalau ngasih perhatian enggak boleh ya?"


"Boleh kok. Boleh banget ," terlihat senyum nakal Salma saat mengatakan hal itu .