
Tanpa pikir panjang, saat tiba di rumah sakit dengan setengah berlari ia langsung menuju ketempat dimana adiknya sedang terbaring lemah. Nampaknya dia sedang koma, melihatnya rasanya hancur sekali hatinya Fiky . Dipeluknya erat-erat adik kesayangannya itu.
"Kamu kenapa bisa sampai terbaring disini? Aku mohon jawab aku! buka matamu!" sambil menahan tangis, Fiky berbicara dengan adiknya yang masih belum sadarkan diri.
"Siapa yang sudah membuatmu jadi begini? Jawab aku! kamu masih marah sama aku?" sebenarnya Fiky tahu kalau dia tak akan mendapatkan jawaban. Walaupun begitu, tetap saja ia berlaku demikian.
Salma berada diluar ruangan. Ia sebenarnya ingin sekali menyadarkan suaminya. Tapi mungkin menurutnya itu bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Biar saja kondisinya begitu, setelah agak tenang baru ia akan memberikan semangat.
Dia ingat waktu Ayahnya meninggalkannya untuk selamanya sehari setelah pernikahannya digelar. Waktu itu Fiky juga berusaha memberinya waktu untuk agar rasa sedihnya berkurang. Hatinya yang hancur jika tak diberi kesempatan untuk sendiri malah jadi sebuah masalah baru.
Saat ia melihat suaminya memeluk adiknya itu, rasanya paham seberapa hancur hatinya itu. Walaupun mereka terkadang terlihat tidak akur sama sekali, namun di hati mereka sebenarnya tersimpan rasa sayang yang amat sangat.
Ternyata dia kalau lagi sangat sedih sampai segitunya juga, selama ini dihadapannya ia selalu bersikap sok kuat. Ia bahkan tidak menangis saat ia kemarin dipecat dari tempat kerjanya. Baru kali ini Salma melihat sisi lain suaminya yang ternyata begitu rapuh.
"Bu, ini kenapa dia bisa sampai koma begitu?" Salma berbicara dengan ibu mertua yang berada disampingnya.
"Ibu juga enggak terlalu paham gimana kejadiannya. Ibu juga masih belum bisa menerima kalau adikmu itu kondisinya sampai segitu Sal, padahal dia anak yang baik . Mungkin sudah takdirnya. Mungkin malam ibu akan bertanya kepada polisi," kata ibu mertuanya.
"Semoga aja polisi bisa mengusut tuntas kasus ini ya Bu."
"Semoga saja ."
***
"Innailaihi wa Inna ilaihi Raji'un, sekarang lagi di rumah sakit?"
"Iya bang," jawabnya .
"Ya sudah kalau begitu, nanti malam aku kesana sama ibu. Oh ya, gimana kronologisnya sampai dia bisa koma?"
"Entah, tadi juga baru dikabarin. Tadi aku sama suami aku jalan-jalan seharian, ceritanya dia pingin romantis-romantisan kayak pas pacaran dulu terus pas mau pulang tiba-tiba dapat kabar buruk. Dia begitu masuk terus langsung masuk nengokin adiknya. Dia sedih banget, enggak tega aku ngelihatnya nangis dihadapan adiknya."
"Wajar sih. Kalau itu kau juga aku bakal ngelakuin hal yang sama," jawab abangnya.
"Ya udah dulu ya bang. Assalamualaikum," Salma segera mematikan telponnya.
***
Salma setelah selesai memberi kabar buruk kepada abangnya ia segera masuk untuk melihat adiknya yang sedang tak sadarkan diri itu. Ia mendekat kearah suaminya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia mengusap-usap punggungnya untuk memberikan kekuatannya.
Sebenarnya ia tahu kalau hal itu sama sekali tidak membantu, tapi ia ingin memberi tahu suaminya kalau dia tak sendirian. Setelah beberapa kali mengusap punggungnya, Fiky dengan tangis yang sangat pecah segera memeluk istrinya. Kesedihan tak dapat disembunyikan dari wajahnya.
"Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku yang disana? Aku tidak tega melihatnya begitu," sambil memeluk , dengan suara suara yang bercampur tangis ia berbicara kepada Salma.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin Tuhan pasti punya maksudnya sendiri. Kamu harus kuat , jangan buat dia sedih," sebisa mungkin Salma menghibur suaminya yang benar-benar sedang hancur hatinya.