My Wedding Dream

My Wedding Dream
23. Menuju 7 Harian



Selama memasak makanan untuk acara nanti malam, Salma terus-menerus memikirkan reaksi suaminya namun melihatnya memakai baju seksi . Ia ingin tahu apakah ia akan terkejut atau tidak. Apapun reaksinya ia tentu bakal menerimanya, lebih baik mikir begini daripada harus pusing mikir bagaimana nanti hidup di rumah mertua yang kata beberapa temannya tidak enak sama sekali.


Walaupun mertuanya baik kata mereka tapi tetap saja ada beban yang harus ditanggung. Sekali saja kalau bisa jangan membuat kesalahan. Pokoknya harus terlihat seperti mantu idamannya walaupun tidak benar sama persis minimal mendekati.


Selain dari pengalaman beberapa temannya, ia juga takut kalau nanti bakal kayak di sinetron. Walaupun sebenarnya mungkin bakal kecil kemungkinannya tapi tetap saja ia agak takut juga. Sebenarnya ia sudah membicarakan hal itu kepada suaminya, tapi dia hanya menjawabnya dengan santai sekaligus tersenyum tipis. Katanya manusiawi, tapi kita takkan tahu kalau belum mencobanya.


Sebenarnya ia tahu maksudnya, tapi kenapa ya rasa takut itu tetap saja ada walaupun sudah berusaha untuk menjadi biasa saja. Ngomong aja sih gampang, melakukannya yang sulit. Kira-kira bakal berjalan lancar tidak ya saat sudah berada di rumah mertua?


"Kau ngapa ngelamun terus Sal? awas lho entar tanganmu ikut kepotong pisau," sambil membawa beberapa papan telur ayam kakaknya berkata begitu. Nampak ia menyadari sesuatu.


"Mikirin gimana nanti hidup sama mertua ya? Santai aja jangan terlalu dipikirkan, entar kau sakit lho. Aku dulu juga sama kayak kau soalnya, tapi nyatanya semuanya berjalan lancar," lanjut kakaknya.


"Oh ya Centini dimana?" tanya kakaknya kemudian.


"Lagi nyuci ayam nampaknya. Kenapa kak?"


"Enggak, cuma nanya aja," dia kemudian berlalu pergi.


"Mau merebus telur kayaknya. Ada apa?"


"Itu pada nangis, mana enggak mau di diemin lagi sama aku," Fiky mengeluhkan soal dua keponakannya itu.


"Kok bisa?"


"Namanya anak kecil. Pura-pura berantem malah berantem beneran. Aku juga pernah sih pengalaman pas waktu masih bocah," Fiky menceritakan apa yang terjadi kepada Salma.


"Walaupun kelihatannya seru tapi enggak enak juga dilihat orang lain, mana enggak mau di diemin lagi sama aku, besok gimana ya kalau kita punya anak jarak umur kayak mereka juga, masa aku enggak bisa diemin nanti ," kali ini nadanya Fiky lebih ke kayak orang lagi curhat.


Salma diam saja, ia sebenarnya masih ngeri saat membayangkan saat ia hamil, pasti bakal susah mau tidur, terlentang salah, tengkurep tidak mungkin, hadap kanan atau hadap kiri rasanya kayak gimana gitu. Belum lagi obat-obatan yang harus ia konsumsi, walaupun roti untuk ibu hamil rasanya enak tapi susahnya lebih banyak. Ya kan tidak mungkin juga hamil cuma demi makan roti ibu hamil lebih puas.


Yang paling membuatnya merinding mungkin saat melahirkan, ia pernah melihat kakaknya lahiran secara normal di sebuah puskesmas. Pas mau melahirkan dia seperti menahan rasa sakit yang amat sangat . Terdengar suaranya berteriak memenuhi ruangan.


Walaupun kadang rasanya ingin juga punya bayi sendiri, tapi Salma merasa tidak yakin bakal kuat menghadapi masa kehamilan hingga persalinan tanpa mengeluh. Dia tahu , diluar sana banyak sekali wanita yang ingin hamil sampai berobat sampai keluar negeri segala. Rela menghabiskan uang yang sangat banyak demi bisa hamil. Sekarang ini pun ia sedang berusaha untuk siap jika seandainya ia hamil.