My Wedding Dream

My Wedding Dream
35. Saat Hendak Pulang



"Menurutmu mana yang bagus?" tanya Fiky sambil memegang dua buah kaus berwarna hitam.


"Warnanya sama saja. Menurutku keduanya bagus," jawab Salma. Memang keduanya tidak terlihat ada beda diantara keduanya.


"Untuk adikku. Aku pingin banget ngasih pakaian baru untuk dia. Hitung-hitung untuk ucapan maaf. Kayaknya aku sering banget berbuat salah sama dia."


"Oh gitu. Baguslah kamu sadar dengan kelakuanmu," sambil tersenyum tipis Salma berkata. Nampaknya ia maklum. Ia sendiri sebenarnya agak kesal juga saat Fiky terkadang mengeluarkan kata kata yang kelewat batas kepada adiknya, tapi ia tidak mau ikut campur dalam urusan mereka.


Mungkin kalau hubungan kakak adik memang kadang begitu, Salma sendiri juga terkadang ribut dengan saudaranya yang lain. Ada saja yang dipermasalahkan, walaupun begitu ia sama sekali tidak dendam dengan mereka. Justru ada rasa kangen setiap kali berdamai. Sesuatu yang nampaknya tidak mungkin terulang lagi sekarang .


"Kamu tidak sekalian membeli jaket? Ku pikir itu perlu juga. Beberapa hari yang lalu ia pernah cerita pingin punya jaket lagi. Ia ingin membeli cuma belum gajian," Salma memberi saran.


"Jaket ya? Oh ya dia juga suka memakai jaket. Kalau begitu menurutmu yang bagus yang mana?"


"Enggak tahu. "


"Ya sudah kalau begitu," jawab Fiky. Setelah itu ia langsung mengambil salah satu jaket yang menurutnya lumayan bagus. Dan setelahnya ia langsung membayar barang-barang yang dibelinya.


"Kita pindah yuk ke toko sebelah. Aku ingin kamu juga punya baju baru," setelah keluar dari sana Fiky berkata .


"Kayaknya kamu lagi banyak uang, semuanya dibelikan."


"Enggak juga. Cuma ya khusus hari ini aja sih aku pingin manjain kamu."


"Dari kita udah kebanyak tempat . Habis ini kita pulang ya, capek kaki rasanya. Maklum enggak biasa jalan-jalan seharian gini," Sebelum ia mengiyakan ajakan suaminya ia berkata.


"Iya, tapi kami harus memilih baju dulu."


***


"Kamu dimana?" saat baru keluar dari toko pakaian wanita, Fiky ditelpon ibunya.


"Ini aku lagi di jalan mau pulang. Ada apa Bu ? Tumben nelpon,", tanya Fiky penasaran.


"Nanti pulangnya mampir di rumah sakit ya, adikmu tadi kecelakaan. Sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit," jawab ibunya.


"Ini aku enggak salah dengar kan?" Fiky ingin menyangkal kabar duka yang baru ia dengar.


"Ibu juga waktu dikabarin juga enggak percaya. Kamu enggak salah dengar kok."


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan segera kesana," dengan nada sedih Fiky berkata.


"Ada apa?"


"Kita ke rumah sakit sekarang. Adikku katanya kecelakaan, aku harap dia tidak mendapatkan luka serius," ia menjawab pertanyaan istrinya.


Tanpa banyak pertanyaan, Salma mengikuti Suaminya itu naik motor. Dia membawa beberapa barang belanjaan. Hatinya Fiky pasti sangat hancur saat mendengar berita itu. Walaupun bagaimana juga mereka adalah saudara yang sangat dekat.


Walaupun kadang sering bertengkar, atau saling mengejek tapi pasti ada rasa sedih yang dia rasakan. Apalagi tadi dia bilang mau memberikan pakaian sebagai tanda permintaan maafnya karena selama ini tanpa sengaja ia berkata buruk.


Fiky melajukan motornya sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia ingin segera sampai di rumah sakit untuk melihat kondisi adiknya itu. Ia benar-benar tidak menyangka kalau adiknya mengalami kecelakaan. Sambil terus melajukan motornya, ia terus berdoa agar adiknya dalam kondisi baik-baik saja.