
Sore hari, semuanya bersiap untuk mengantarkan Salma dan juga Yusuf. Hari itu juga mereka bersiap untuk pergi setelah menyewa sebuah mobil milik tetangga. Karena acaranya hanya kecil-kecilan saja maka tidak banyak yang ikut serta. Hanya beberapa tetangga terdekat saja yang diajak.
Selama perjalanan Salma merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Pikirannya tidak tenang saat membayangkan hari-hari dirumahnya mertua. Memang orangnya baik, tapi tetap saja ia merasa cemas. Kata beberapa temannya, sebaik apapun mertua lebih baik segera memisahkan diri. Membangun keluarga kecil berdua lebih baik daripada ikut mertua.
Salma paham maksudnya, tapi ia belum sempat membicarakan hal ini kepada suaminya. Lagipula suaminya adalah tulang punggung keluarga, ia tidak ingin suaminya terbebani karena hal ini. Selama dia senang Salma juga juga tidak masalah mau tinggal dimana saja yang penting ada suaminya disisinya.
"Santai aja Sal, jangan tegang. Anggap aja seperti di rumah sendiri," kakaknya yang melihatnya seperti sedang memikirkan sesuatu berusaha menenangkannya.
"Siapa yang tegang sih kak? Aku udah siap kok mau dibawa kemana aja yang penting bisa sama si Abang terus ."
"Ah, so sweet. Bisa romantis juga ya kau Salah," kakaknya meledek.
"Ya kan kalau dah nikah harus gitu kan?" Salma salah tingkah saat menjawab ledekan yang keluar dari mulut kakaknya itu .
"Kamu bisa saja Sal. Semoga kalian cepat dapat momongan ya. Biar enak nanti kalau mau mengejek abangmu Rizal."
"Ya enggak gitu juga kali. Mentang-mentang aku belum nikah . Awas aja besok, aku bakal bawa cewek yang cantik biar kalian berdua iri."
"Besoknya kapan?"
"Baru aja pulang dari Kalimantan. Ya kan enggak mungkin langsung besok aku bawa cewek. Ya walaupun bisa sih nyewa."
"Otaknya Abang kayaknya geser deh. Coba nanti periksa ke dokter ."
"Enggak ya, otakmu yang geser. Aku ngomong sesuai kenyataan kok."
"Ini masih jauh enggak?"
"Enggak kok. Tinggal melewati belok kanan terus ada belokan belok kiri terus belok lagi kanan habis itu belok lagi kiri," Fiky menjelaskan.
"Pusing enggak tuh yang nyupir dengernya."
"Ya gimana ya, namanya rumahnya di sana kan. Enggak mungkin dipindah juga."
Tak lama , mereka akhirnya sampai juga di rumah yang dimaksud oleh Fiky. Di sana telah terbangun sebuah tenda yang terbuat dari terpal. Sederhana tapi ini sudah cukup untuk menyambut tamu. Saat Fiky keluar dari mobil , rasanya lega sekali. Rasanya sudah lama ia tidak menghirup udara yang terbiasa masuk paru-paru sejak ia masih kecil. Semuanya nampaknya sudah sedikit berubah dibandingkan dengan 7 hari yang lalu.
Sementara Salma nampak sedikit tertekan. Ia sudah ikhlas, tapi rasa ingin pulang mulai muncul dihatinya. Baru juga diantar, rasanya memang berat untuk pertama kali. Apalagi ia sekarang berada dilingkungan yang benar-benar asing. Apapun yang dilakukan pasti akan menjadi sorotan.
Tetangga yang baru bakal julid enggak ya? Salah satu pikirannya Salma itu juga sebenarnya agak membebani. Mau bagaimanapun juga kalau ada yang julid kan serba salah juga. Di respon baik membuat sakit hati, dibiarin malah makan hati.
"Akhirnya ya Sal sampai juga. Enggak sabar aku nunggu malam," Ucap Fiky kepada Salma.
"Parah kali, tapi bagus," yang menanggapi malah kakaknya.
"Itu bisa di bicarakan. Malu tau."
"Enggak usah malu . Santai aja, orang dah halal juga," Kakaknya memberi respon atas ucapan Salma barusan.