
Waktu yang terasa sangat lama akhirnya berlalu juga tanpa terasa. Fiky merasa lega, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Dia pulang dengan memacu kendaraannya agak cepat, rindu yang terasa berat di punggung menginginkan hal itu, walaupun ia hampir saja menabrak orang lain tapi untungnya ia berkata bisa pulang dengan selamat.
"Gimana hari ini? Menyenangkan?" tanya Fiky yang langsung masuk ke kamar kemudian memeluk istrinya yang nampak baru selesai mandi.
"Kamu itu mandi dulu lho. Pulang langsung asal nemplok aja kayak cicak. Mandi terus Sholat baru nemplok sepuasnya," dengan lembut Salma berkata.
"Ya udah iya, tapi janji ya?"
"Aman soal itu sih," jawab Salma memberi kepastian.
"Ada apa bang?" saat Fiky masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba saja abangnya menelpon.
"Kamu lagi bersama suami mu enggak?"
"Dia lagi mandi, ada apa?"
"Baguslah. Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu soalnya. Aku enggak enak kalau sampai suamimu denger. "
"Emangnya ada apa?" Salma jadi penasaran.
"Kau pernah kenal dengan Hendra enggak?"
Hendra?" Salma berpikir sebentar. Sepertinya ia pernah sangat mengenal nama itu.
"Dia datang kerumah?" tanya Salma kemudian.
"Kamu beneran pernah kenal sama dia?"
"Dia mantanku. Sebenarnya dulu aku sempat berharap kepadanya tapi tanpa alasan yang jelas dia meninggalkan aku. Tapi itu rasanya sudah lama sekali. Kalau dia datang jangan katakan alamat rumah suamiku ini. Aku takut hal itu bisa menyakiti hatinya."
"Aku paham. Tadi dia sempat memohon untuk dipertemukan denganmu . Lain kali bakal ku hajar dia."
"Ya udah. Enggak masalah kok," telepon terputus.
Salma setelah telepon dengan abangnya terputus segera mengingat kejadian yang lalu. Saat dimana dirinya ingin menikah dengan seorang kekasih yang berujung kepahitan. Dia pergi dengan wanita lain di depan matanya. Yang lebih parah, ia tanpa pemberitahuan apapun diberikan surat undangan pernikahannya. Apa yang dilakukannya benar-benar jahat sekali.
Sekarang untuk apa lagi mencari? Bukankah dia seharusnya sudah bahagia dengan wanitanya itu? Atau mungkin dia menyesal? Tapi sepertinya yang lebih menyesal adalah wanita itu karena harus mendapatkan lelaki yang jahat seperti itu.
Cinta susah berubah menjadi kebencian. Luka-luka yang sudah hilang kembali mengoyak hati . Pil pahit dari masa lalu terasa kembali.
"Tadi sepertinya kamu sedang berbicara dengan seseorang? Aku mendengarnya sekilas cuma memang tidak terlalu jelas ."
"Tadi aku di telpon abangku. Dia bicara mengenai sesuatu yang tidak mengenakkan."
"Tentang apa?" sambil berpakaian Fiky bertanya.
"Gimana ya bilangnya? Aku takut kamu sakit hati."
"Bicaralah."
"Tadi abangku bilang. Katanya mantanku datang kerumah , aku pikir itu sesuatu yang sangat tidak baik. Aku sudah membuang semua kenangan bersamanya. Mantanku katanya mohon dengan sangat minta bertemu denganku. Tapi aku harap hal itu tidak terjadi."
"Cuma gitu kirain ada apa. Lagian dia cuma mantan, kamu kan milikku sekarang," sambil memeluk tubuh Salma dari belakang Fiky berkata.
"Kamu enggak masalah?"
"Namanya juga bagian dari masa lalu. Yang penting kan kehidupanmu yang sekarang. Kalau dia datang kesini bilang ke aku ya. Biar dia kalau macam-macam bisa langsung ku kirim ke neraka."
"Aku dah bilang sama abangku untuk tidak memberi alamat rumah ini . Aku benar-benar sudah tidak ingin melihat mukanya lagi ."
"Terserah mu saja. Mau gimana juga dia datang kesini takkan ada gunanya," sambil terus memeluk Salma Fiky berkata. Tampak tangannya terlihat sedang meremas dengsn penuh nafsu dua gantungan dadanya yang terlihat sangat menggoda itu.