My Wedding Dream

My Wedding Dream
27. Hari Yang Baru



Salma pagi sekali sudah bangun. Sebelum subuh ia sudah bersiap untuk memasakkan sarapan lagi untuk istrinya tercinta. Saat adzan subuh menggema di seluruh penjuru, masakan yang dimasak oleh Salma sudah matang.


"Mas bangun, sudah subuh," dengan lembut Salma membangunkan suaminya tercinta itu.


"Aku sudah masak, sholat dulu mas. Katanya hari ini mau kerja kan?" lanjut Salma.


Fiky tak menjawab, ia mengucek matanya kemudian mengambil handuk dan mandi, setelah itu ia langsung sholat dan sarapan. Ternyata begini ya rasanya punya istri, bangun tinggal makan. Rasanya mantap juga ternyata.


"Mau bawa bekal enggak mas?"


"Boleh. Kau enggak ikut makan bareng aku?" jawab Fiky.


"Gampang itu sih. Aku siapin bekal dulu ya."


"Aku berangkat duluan ya. Baik-baik di rumah ya," setelah selesai makan Fiky langsung berkata begitu kepada istrinya. Salma segera mencium tangan suaminya kemudian Fiky langsung berangkat kerja. Perasaannya campur aduk, tapi ia sangat senang akhirnya bisa bekerja lagi setelah mengambil cuti sekitar seminggu. Ia berharap ia bisa semangat terus demi seseorang yang kini telah halal untuknya.


***


Ditempat lain, Centini sedang bersiap-siap untuk membereskan rumah sebelum ia pergi bersama kakaknya Salma untuk mengadu nasib ditempat yang sama sekali belum pernah ia ketahui. Walaupun begitu, ia tak peduli lagi. Lebih baik pergi ke tanah orang daripada kembali kerumahnya lagi . Ia sudah tidak ingin lagi merasakan yang pernah ia rasakan dulu.


Ia hanya berpikir untuk bisa hidup dan menjalani hari-hari tanpa rasa takut . Ia tak peduli jika ia tidak mendapatkan pasangan. Lagipula menurutnya ia sudah tak lantas untuk siapapun lagi. Tak ada yang diharapkan olehnya lagi semuanya telah terkubur begitu saja setelah perlakuan ayah tirinya yang sangat bejat .


"Makasih ya selama ini selalu menolongku, aku senang sekali bisa bertemu dengan orang sebaik kamu. Semoga tuhan membalas perbuatan baikmu."


"Amin. Aku harap ditempat yang baru kamu akan mendapatkan keberuntungan yang luar biasa. Aku harap kita bisa bertemu lagi," kata abangnya Salma.


Dia sangat merasa simpati kepadanya. Mungkin karena ia pernah mendapatkan teman yang memiliki pengalaman yang sama. Sebuah penyesalan yang tak kunjung usai itu ia harap bisa berhenti membuat teror. Ia harap Centini bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia tidak ingin Centini bernasib sama dengan temannya dulu.


Sebenarnya sebelum Centini berangkat, ia ingin memberitahukan rekaman suara ayah tirinya.Centini yang membuat pengakuan dengan terpaksa. Walaupun sudah hampir mati nampaknya dia tidak punya penyesalan telah berbuat sesuatu yang sangat bejat begitu. Ia ingin memberitahukan, tapi diurungkan saja niatnya, bukan maksudnya ingin membuat semuanya selesai . Abangnya Salma takut kejadian waktu itu terulang lagi.


Dia hidup dengan baik saja itu sudah cukup. Bagaimanapun juga, jika ia memberitahukan kepada orang lain maka masalah baru akan timbul. Intinya jika dia tidak menyoalkan masalahnya buat apa juga? Abangnya Salma ia akan dibenci oleh Centini. Sepertinya di hatinya ada sedikit getaran yang ia tidak tahu artinya apa.


Pokoknya setiap kali melihat Centini, ia merasa ingin terus berada disampingnya. Menemani hingga mereka melupakan waktu yang terus berlalu tanpa bisa dikendalikan. Tapi sayangnya kebersamaan itu akan segera berakhir. Ingin rasanya mengikutinya, tapi dia kasihan pada ibunya yang belum lama ditinggal oleh ayahnya.


***


"Cie pengantin baru, gimana rasanya? Mantapkan?"saat berada ditempat kerja, seorang temannya berkata begitu.


"Lumayanlah. Sekarang ada penyemangat buat kerja. Enaknya sekarang ada yang bisa dipeluk saat tidur. Sedingin apapun tetap rasanya hangat."


"Aku juga gitu . Dulu waktu masih bujang tidur sendiri, nyemangatin diri sendiri, tidur enggak ada yang bisa dipeluk. Pas nikah rasanya mantap sekali," kata teman yang lainnya.


"Mau langsung hamil enggak istrimu?"


"Hmmm, aku sih udah kepingin. Tapi mungkin belum waktunya. Dia sekarang malah pingin jualan di depan rumah. Katanya gabut, biasanya kerja ini enggak ngapa-ngapain. Paham sih aku maksudnya dia."


"Ya terus? Kau kayaknya kurang setuju gitu?"


"Enggak tau aja sih. Kayak kurang sreg aja gitu. Tapi ya bakal ku kabulkan , soalnya dia nampaknya pingin banget. Kasihan aja gitu kalau enggak dikabulkan."


"Enggak malu istrinya jualan di depan rumah?" tanya temannya yang lain. Nadanya seperti ingin memanasi kupingnya Fiky.


"Kau pas masih belum kenal dia aja ngomongnya gitu banget. Eh sekarang kena juga kan kau," lanjutnya. Orang yang berkata dengan nada julid itu nampaknya pernah tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Fiky di masa lalu.


"Ya kan waktu itu masih sempit pikirannya. Setiap orang kan selalu punya pemikiran berbeda-beda tergantung kondisi dan situasi, ya enggak Fik?" salah seorang temannya membela.


***


Salma telah siap melakukan pekerjaan rumah. Mulai dari nyapu, nyuci, masak terduduk di kasur. Dia bingung mau melakukan apalagi. Soalnya sebelum menikah ia terbiasa bekerja, tapi sekarang rasanya seperti tidak ada yang bisa ia lakukan. Mau mengobrol saja rasanya masih bingung.


Soalnya dulu Fiky tidak memperkenalkan anggota keluarga panjang lebar. Ia melakukannya bahkan setelah mau menikah setelah lamaran..Mungkin karena Salma yang menanyakan duluan. Mertuanya juga sedang tidak ada di rumah, katanya ia mau main dulu di tempat tetangganya. Sebenarnya Salma di ajak tadi, tapi karena pekerjaan rumah belum selesai ditambah lagi dia masih canggung juga jadi ya dia menolaknya dengan halus.


Ia jadi ingat permintaannya semalam kepada suaminya. Ia ingin berjualan di depan rumah untuk mengisi waktu luang yang cukup lapang. Sekalian nambah penghasilan juga pengalaman.


Di kasur yang lumayan empuk, rasanya ia ingin tidur mumpung di rumah cuma ada dia seorang. Tapi di urungkan niatnya itu, ia tidak ingin terlihat jelek apalagi di hari pertama dia berada dirumahnya mertua. Malu rasanya jika ada yang mengetahuinya.


Kasihan dia, gadis sebaik dia harus mendapatkan perlakuan yang buruk . Salma saat mengingat Centini jadi membayangkan ia bisa menjadi malaikat maut dan segera mengirimnya ke neraka terdalam . Tindakan seperti itu sama sekali tidak bisa dimaafkaan. Tak ada hukuman di muka bumi ini yang sebanding dengan kelakuannya.


***


"Tin, jangan macam-macam ya di sana. Kalau aku nelpon di angkat ya," Abangnya Salma berkata sebelum melepas Centini pergi.


"Wah, nampaknya ada yang kasmaran nih," Kakaknya Salma berkata.


"Aku mau ngurus anak-anak dulu ya. Mau pergi gini ada aja kelakuannya," lanjutnya kemudian pergi.


"Kalau enggak di angkat aku pergi ke tempatmu kerja nanti," setelah kakaknya Salma pergi, Abangnya Salma melancarkan aksinya.


"Kayaknya enggak perlu deh. Lagian buat apa? Aku juga udah enggak suci lagi. Aku enggak pantes untuk siapapun," jawab Centini.


"Jangan ngomong gitu. Lagian itu juga bukan keinginanmu. Mau kau suci atau enggak itu bukan masalah sih. Yang penting kan hatinya, " kata Abangnya Salma berusaha merubah pikiran yang ada di kepala lawan bicaranya itu.


"Tapi kan biasanya cowok gitu lebih suka yang belum di sentuh orang lain."


"Siapa bilang? Banyak kok yang lebih suka janda. Tapi memang istri orang yang jadi primadona."


***


Fiky istirahat sebentar, dia tak tahu kenapa rasanya kok bawaannya pingin pulang. Padahal masih pagi, bahkan waktu makan siang juga belum. Dia tak tahu kenapa, pokoknya rasanya ingin pulang saja begitu yang ia tahu .


Padahal ia berjanji kepada dirinya semangat bekerja, tapi rasanya kok jadi begini. Sambil memarahi dirinya, ia berusaha bangkit dan kembali bekerja . Walaupun rasa rindu berkobar, tapi pekerjaan harus jadi prioritas.


"Kangen rumah ya? Iyalah yang masih baru nikah. Aku juga dulu gitu kok. Bawaannya pingin berdua terus. Pokoknya rasanya tuh dunia isinya cuma berdua, yang lain cuma pelengkap saja," temannya yang menangkap keresahan di hati Fiky langsung berkata.


"Aku enggak tahu kenapa sih, tapi memang sekarang mikirnya pingin berduaan sama istri. Tapi kan aku juga harus kerja biar bisa memenuhi semua kebutuhan berdua," jawab Fiky .


"Ya kan kita berani nikah harus berani tanggungjawab. Aku ingin sama dia selamanya," lanjut Fiky.


***


"Gimana Tin? Udah diperjalanan?" tanya Salma.


"Belum nih, kakakmu masih repot ngurusin anaknya. Doain ya biar aku bisa betah. Oh ya aku minta maaf ya soalnya aku datang di waktu yang tidak tepat. Waktu itu aku bingung harus kemana," jawab Centini.


"Santai aja. Pokoknya ku doain yang terbaik buatmu. Semoga di sana kau dapat jodoh yang bisa menerima semua kekuranganmu ya Tin."


"Amin."


"Kalau dah dapat kabarin ya!"


"Siap. Oh ya, abang mu itu tipe cowok yang kayak mana sih?"


"Kenapa memangnya?"


"Nanya aja. Soalnya dia tadi bilang aku harus jawab telponnya atau dia bakal ketempat aku kerja nanti."


"Seriusan dia ngomong gitu?"


"Iya."


"Kayaknya dia suka sama kau. Dia orangnya aneh si emang, tapi dia aslinya tulus. Kalau kau sama bakal ku dukung Tin."


"Aku masih belum ada rasa sama dia."


"Oh gitu. Ya udah, namanya perasaan kan enggak bisa langsung juga. Paham sih aku. Kalau mau deketin abang ku ya enggak masalah. Cuma dia itu orangnya kalau jahilnya kumat udah susah di obati."


"Ya udah ya. Aku dah di panggil udah mau berangkat," sambungan telpon kemudian terputus setelah Centini berkata begitu.