My Wedding Dream

My Wedding Dream
30. Seandainya



Selesai makan malam Fiky langsung duduk di luar. Pikirannya terus terbelenggu oleh gosip yang mengatakan tempatnya bekerja akan melakukan PHK massal. Padahal sebenarnya kondisi di sana tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa hal itu akan terjadi. Namun tetap saja ia merasa takut. padahal ia baru saja masuk setelah cuti beberapa hari.


Mungkin karena pemiliknya sudah tua juga. Ia pernah beberapa melihat pemilik pabrik ditempatnya bekerja seolah memberi tanda bahwa ia ingin pensiun . Tapi mungkin karena tidak ada yang menggantikannya jadi dia tetap bertahan. Yang sempat ia dengar dulu, calon pewaris pabrik itu tidak mau melanjutkan apa yang sudah ada. Katanya ia membangun usaha sendiri ditempat yang lain.


Kalau sampai terjadi, Fiky bingung harus bagaimana. Mana baru saja menikah pula. Dia juga tidak merasa berbakat jika harus berdagang atau semacamnya ia juga tahu betapa sulit mencari tempat kerja yang baru. Walaupun berat tapi ia merasa lebih baik jika harus bekerja ditempat ia kerja sekarang.


"Ada apa mas kok kayak lagi ada masalah gitu?" Salma yang melihat Fiky tidak seperti biasanya langsung menemuinya dengan secangkir kopi hangat .


"Enggak ada. Cuma lagi pingin aja duduk di sini," Fiky bingung harus berkata apa. Ia ingin jujur tapi rasanya kok berat juga untuk mengatakannya.


"Enggak biasanya lho mas kayak gini. Apa aku ada salah sama mas?"


"Enggak kok. Cuma aku lagi kepikiran aja sesuatu."


"Yang dipikirkan bukan cewek lain kan mas?" Salma langsung berkata begitu. Saat Fiky berkata begitu, mulutnya otomatis mengeluarkan kalimat itu.


"Enggak kok. Aku cuma denger aja gosip bakal ada PHK massal. Aku takut harus kayak mana kalau misalnya sampai kejadian kayak gitu."


"Oh, gitu. Seingatku , aku dah bilang kalau aku mau jualan. Kalau misalnya sampai kejadian kan kita bisa jualan bareng."


"Ide yang bagus sih. Cuma aku agak kaku kalau harus berdagang. Ya maklum aja, aku enggak pernah jualan."


"Kan ada aku. Soal gitu sih gampang, aku dah ada pengalaman."


"Kita pikirkan nanti."


"Tadi abang mu telpon ada apa?"


"Kangen aja dia. Kamu kok bisa tahu tadi abangku nelpon?"


"Ya kan kalau panggilan masuk ada riwayatnya di ponsel."


"Iya juga sih," Dalam hati ia bersyukur karena Fiky tidak menanyakan lebih lanjut mengenai obrolannya dengan abangnya itu. Untung saja ia sudah pindah. Kalau misalnya mantannya itu datang disaat ia masih di sana bisa kacau. Ya walaupun sebenarnya Salma sudah tidak ingin mengingatnya lagi tapi ya namanya cemburu bisa menjadi percikan yang bisa membuat api jadi semakin besar. Ia tak ingin masa lalunya membuat ia dan suaminya bermasalah.


Lagipula waktu itu yang salah bukan dia jadi ya dia tidak peduli. Dulu dia yang meninggalkan, jadi ya apapun yang terjadi bukan masalah bagi Salma. Lagipula ia sudah merasa bahagia dengan suaminya sekarang. Mertuanya juga terlihat baik kepadanya.


"Diminum dulu kopinya, kalau udah dingin rasa agak kurang nikmat," kata Salma.


"Makasih ya udah mau ngertiin aku," sebelum meminum kopi , Fiky berkata begitu.


"Aku juga makasih kamu udah berusaha buat aku bahagia," Salma membalasnya.


"Aku pasti bakal buat kamu bahagia. Kamu kan istriku sekarang," jawab Fiky tersenyum.