My Wedding Dream

My Wedding Dream
28 . Lebih Baik Begini



Siang menjelang sore yang agak sedikit bergerimis saat Centini datang kerumah orang katanya bakal menjadi bosnya itu. Di dalam hati ia berharap bosnya itu baik. Minimal ia bisa berlindung untuk sementara waktu. Ia tidak ingin merepotkan siapapun lagi.


"Enggak usah tegang. Orangnya baik kok," kakaknya Salma berkata untuk memberikan rasa aman di hati Centini.


"Enggak kok. Aku sama sekali enggak tegang. Masih jauh enggak dari sini?"


"Kita ngelewatin belokan sekali lagi. Kalau ada apa-apa nanti selama kerja telpon aku ya! Enggak bakal enggak aku terganggu," kata kakaknya Centini lagi.


"Apa enggak ngerepotin?"


"Enggak sama sekali kok ," jawabnya.


Setelah melewati belokan seperti yang dikatakan tadi, mereka langsung mengetuk pintu rumah itu. Kelihatannya tidak terlalu besar tapi entah mengapa terlihat megah. Cat rumah yang terlihat masih baru itu menambah kesan yang elegan. Mungkin karena yang dipilih adalah warna yang elegan dan juga mewah.


"Hai, lama enggak ketemu. Ayok masuk dulu," setelah menjawab salam orang itu langsung berkata. Ia nampaknya sangat senang dengan kehadiran kakaknya Centini itu.


"Ini lho, aku mau ngenalin Centini ke kamu. Kamu kan kemarin nanya kan ke aku , nah ini udah aku bawakan. Orangnya rajin dijamin," kata kakaknya Salma dengan sedikit penekanan.


"Oh ini yang kau ceritain. Nampaknya masih muda ya, udah nikah belum?"


"pernah ngurusin anak sebelumnya?"


"Belum. Tapi aku bakal belajar buat ngurusin anak."


"Ya udah. Kamu kalau kamu mau kerjanya mulai besok aja. Sekarang kamu siap-siap saja. Ayok kita ke kamarmu," mereka berdua berjalan meninggalkan kakaknya Salma sendirian .


"Ini kamarmu. Udah beberapa bulan ini enggak ada yang ngisi sejak pembantu sebelumnya keluar," Bosnya menunjukkan kamar yang terlihat cukup untuk hanya untuk satu orang dengan kasur dan juga sebuah lemari pakaian yang agak kecil.


"Itu di sana ada catatan mengenai apa saja yang harus kamu kerjakan," bosnya atau lebih tepat calon bos itu kemudian meninggalkan Centini sendirian.


Setelah ditinggal, ia segera menutup pintu kamarnya dan mulai berbenah dan membaca daftar tugas-tugas yang harus ia lakukan. Terlihat lumayan banyak juga. Dari bangun tidur sampai mau tidur ada saja yang harus ia lakukan. Mulai besok, ia akan berusaha sebisa mungkin melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Walaupun harus kerja lembur bagai kuda tapi menurutnya itu lebih baik . Setidaknya lebih baik daripada harus melakukan sesuatu yang ia benar-benar tidak mau.


Ia tak habis pikir dengan tingkah laku ayah tirinya dulu. Tapi ya mungkin dirinya telah dikuasai nafsu jadinya lupa diri. Padahal ia tak pernah memancing, baik dengan perilaku maupun cara berpakaian. Menurutnya apa yang dipakai juga sama dengan wanita yang lain, ia juga tak pernah menonjolkan bagian tubuhnya. Dirumahnya dulu ia selalu berpakaian yang sopan.


Semoga kedepannya lancar, itu harapannya saat pertama kali berkata untuk menerima tawaran menjadi pembantu. Dengan aktivitas yang agak padat ia berharap bisa lupa dengan kejadian buruk yang pernah terjadi. Dan lagi, dengan begitu ia bisa untuk tidak memikirkan tentang cinta. Rasanya itu sesuatu yang bakal di hindari untuk kedepannya.


Ia merasa dirinya sudah tidak pantas untuk lelaki manapun karena telah ternoda. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga ingin merasakannya juga, tapi ia ingin berusaha menutup hati. Jika nanti ada yang mencintainya, ia harap orang itu bisa menemukan cinta dengan wanita lain yang lebih baik dari dirinya.