My Wedding Dream

My Wedding Dream
24. Merajuk



"Sayang, boleh enggak tutup mata bentar aja? Enggak lama kok ," setelah acara tujuh harian ayahnya selesai Salma berkata kepada suaminya yang nampaknya sedang asyik bermain ponsel.


"Untuk apa sih tutup mata sayang?"


"Udah, tutup mata aja dulu. Nanti juga tahu ."


"Enggaklah, harus tahu dulu aku,"


"Udahlah, terserah mu aja. Aku mau tidur aja," mukanya terlihat cemberut. Ia segera mengambil bantal kemudian langsung memejamkan mata, posisinya membelakangi suaminya . Kesel ia dengan kelakuan suaminya yang menurutnya tidak peka. Sebenarnya ia ingin menunjukkan baju yang tadi pagi ia beli di pasar. Cuma memang kalau sudah marah rasanya sudah malas. Lagipula sebenarnya tidak penting juga, tapi tetap saja ia ingin melihat reaksinya.


"Ih marah, udah deh aku nutup mata . Tapi janji ya jangan ngelakuin hal aneh, " Fiky melihat gelagat istrinya segera merayu sebisanya.


"Lihat nih, aku dah tutup mata lho," Fiky menutup matanya, tapi segera dibukanya lagi karena tidak ada respon dari istrinya. Dia tidak tahu apakah ia benar-benar sudah atau belum, yang jelas ia nampaknya sedang ngambek. Menang wanita kalau ngambek susah kali dibujuk.


Sebenarnya kenapa ya dia tiba-tiba nyuruh tutup mata? Apa mau memberi kejutan? Atau mau melakukan hal yang aneh? Fiky hanya menduga-duga saja. Besok kalau sudah tidak merajuk ia bertekad untuk menanyakannya.


Karena bingung mau ngapain juga Fiky memilih untuk keluar, melihat pemandangan malam yang besok tidak dijumpai karena ia besok sudah diantar kerumahnya. Duduk di teras saja sudah cukup .


"Mau kemana?" baru juga memegang gagang pintu sudah ada yang bertanya.


"Keluar aja bentar."


"Enggak boleh, harus tidur pokoknya. "


"Iya, " dengan langkah terpaksa Fiky kembali ke kasur. Tadi aja tidak dengar, pas mau keluar sensornya kuat banget. Tadi Salma ngomong apa mengigau ya? Rasanya seperti kurang meyakinkan gitu. Tapi ya sudahlah, daripada jadi masalah.


***


"Sayang, semalam kamu kenapa nyuruh aku tutup mata?" saat terbangun Fiky langsung bertanya begitu .


"Enggak kok , dah lupain aja. lagian juga enggak penting juga," jawabnya. Entah mengapa , jawaban yang dilontarkan oleh Salma terdengar sangat menyesakkan dada walaupun dia mengucapkannya pelan.


"Mau sarapan enggak biar ku buatkan?" lanjutnya .


"Sekalian disuapin enggak?"


"Enggaklah, malu sama keponakan."


"Ngapain malu, dah halal juga ."


Salma tidak ingin mendengar lebih lanjut. Ia segera keluar untuk menyiapkan sarapan suaminya. Sebenarnya semalam ia masih kecewa , walaupun sepele tapi kalau tidak kesampaian rasanya ingin ngamuk. Mungkin akibat dari bulan yang datang tiba-tiba membuat emosinya melonjak berkali-kali lipat.


Sementara Fiky dikamar memeluk bantalnya. Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya, besok tak ada lagi yang namanya tidur sehabis subuh. Akhirnya hari untuk bekerja telah tiba lagi. Mungkin diawal akan terasa pegal mengingat ia sudah cuti lebih dari seminggu, tapi ia akan berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik demi bisa menafkahi istrinya tercinta. Sekalian menabung untuk biaya kehamilan istrinya. Ia sebenarnya sudah mempersiapkan sejak lama , tapi namanya kebutuhan tidak akan ada habisnya.


"Dah ku siapin di luar mas. Aku mau nyuci dulu bentar ," Salma berkata kepada suaminya setelah menyiapkan sarapan.


"Oke," Ilyas segera keluar untuk sarapan sementara Salma segera mencuci baju di sumur .