My Wedding Dream

My Wedding Dream
21. Hari Yang Panjang Akhirnya Berlalu Juga



Hari ini waktu terasa sangat panjang sekali, entah mengapa . Tapi itulah yang Salma rasakan, mungkin cuma perasaannya saja. Centini akhirnya tidak jadi pergi hari itu juga karena karena ditahan oleh Abangnya. Ia merasa perlakuan abangnya yang terlihat begitu khawatir kepadanya itu bukan seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan pasangannya.


Dugaannya dia telah jatuh kepada Centini. Sebenarnya Salma tidak melarang , selama dia baik dan bisa menyayangi abangnya dia tidak mempermasalahkan. Kalau soal kesucian, sebagai wanita dia paham walaupun dia tidak pernah mengalami peristiwa yang begitu menyakitkan. Lagian itu bukan sesuatu yang penting untuk dipermasalahkan.


Dibanding dengan masalah Centini, ia lebih mengkhawatirkan dirinya. Entah mengapa, ia kepikiran jika nanti di rumah mertuanya bakal bagaimana? Memang mertuanya baik, tapi kan namanya bukan rumah sendiri pasti rasanya aneh juga. Dia juga takut nanti pas bangun tidur mendapati pemandangan asing , mungkin bakal amnesia seperti yang pernah dialami suaminya.


Sebenarnya waktu itu ia merasa lucu juga walaupun merasa kesal juga. Tapi mungkin namanya pengantin baru hal seperti itu bukan sesuatu yang aneh. Untung saja sekarang ini dia sudah terbiasa, jadi ya namanya lupa dia dimana saat bangun tidur atau aneh karena ada seorang wanita yang berada disampingnya saat bangun ia sudah tak bingung lagi.


Katanya kalau di rumah mertua, bangunnya harus pagi dan langsung bergegas untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh wanita. Sebenarnya tidak masalah, tapi kok rasanya agak gimana gitu walaupun ia sudah mulai terbiasa. Selain itu mental harus dipersiapkan. Walaupun baik kelihatannya tapi pasti ada saja hal yang mungkin akan dipermasalahkan.


Ia pernah mendengar cerita dari beberapa temannya yang sudah mengalami hidup bersama dengan mertua. Mereka bilang lumayan tertekan juga . Selalu saja setiap saat ingin pulang ke rumah. Tapi ya namanya resiko menikah, mau tidak mau harus dijalani juga.


***


Malam itu, sambil menaruh makanan di piring untuk diberikan kepada bapak-bapak yang sedang yasinan ia memikirkan hal yang tampak menakutkan begitu. Walaupun di sekitarnya banyak orang tapi ia tidak ingin bercerita mengenai kegalauannya ini. Biar dipendam saja sendirian.


"Kamu kenapa Sal? kok kayak lesu banget gitu?" kakaknya yang memperhatikannya langsung bertanya. Ia takut terjadi sesuatu dengan adiknya ini.


"Enggak kok."


"Mikirin hidup ditempat mertua ya? Dah jangan terlalu dipikirkan. Jalani aja nanti," dengan sedikit menggoda kakaknya berkata.


"Enggak kok. Siapa juga yang mikirin?" terlihat salah tingkah saat ia berkata.


"Iya kah?"


"Iya lho."


"Iya deh percaya. Dah jangan nangis gitu."


"Siapa lagi yang nangis? Emang mukaku kayak orang mau nangis Tin?" Salma mencari pembelaan.


"Enggak kok," Centini yang ikut membantu di dapur berkata begitu.


"Tuh kan, enggak nangis ," suaranya terdengar seperti adik kecil yang ingin di manja.


***


"Entah, iya kayaknya. Kenapa rupanya?"


"Nanya aja. Adiknya mas sukanya makan apa?" Salma ingin berkata mengenai rasa takutnya untuk tinggal di rumah suaminya . Tapi ia bingung harus mengatakan apa.


"Dia sih apa aja dimakan, omnivora dia macam ayam. "


"Adik sendiri kok dibilang ayam? Sembarangan."


"Karena adik sendiri. Kalau adik orang enggak mungkin aku ngomong kayak gitu."


"Kalau ibunya mas sukanya makan apa?"


"Dia juga sama. Paling cuma enggak tahan makan pedas. Kenapa memangnya tumben kali kau ngomong gitu?"


"Ya pingin aja sih. Ya kan nanti tinggal bareng juga. Kan malu juga kalau nanya . Soalnya kan belum terlalu kenal juga."


"Ngapain malu-malu sama adik dajal kayak dia. Biasa aja, pokoknya kalau dia ngelunjak dah marahin aja kalau perlu bunuh aja. Enggak bakal aku marah ke kau."


"Parah. Kayak punya dendam pribadi kau."


"Kalau ngomong dengan sih banyak. Aku dengan banget sama dia. Kalau dia orang lain sih udah ku gorok aja orang model kayak dia."


"Parah ."


"Oh ya Sal, kayaknya kita dah lama lho enggak anu," Fiky membuat kode yang harusnya langsung bisa dipahami.


"Tapi bukan malam Jum'at lho."


"Bodo amat. Mau malam apa juga yang penting kau enggak halangan gass aja."


"Ya udah. Mau dimatiin enggak lampunya?"


"Terserah mu, aku ngikut aja. Dah kepingin banget soalnya."


Malam semakin larut, tanpa malu mereka berdua melakukan permainan yang biasa dilakukan oleh orang yang menikah. Sebuah kenikmatan yang terasa sangat dinikmati itu menjadi penutup hari yang terasa hampir tiada berakhir itu.