
"Tin, ini keponakanku . Dia bakal tinggal disini sementara . Bekum lama lulus SMA. Rencananya dia bakal nyari kerjaan di sini," Bosnya memperkenalkan dirinya kepada seorang pemuda yang terlihat masih muda, wajahnya juga juga lumayan tampan.
"Hai, namaku Centini," Centini kemudian memperkenalkan dirinya.
"Aku Dani," balasnya dengan senyuman.
Centini yang melihat senyuman itu merasa tidak enak, di dalam hati ia merasa takut bila harus serumah dengan seorang pria. Ia takut kejadian yang menimpanya hingga membuatnya kabur dari rumahnya itu terulang lagi. Ia benar-benar tidak mau lagi.
Terakhir kali ia mendapat perlakuan yang sangat hina itu, rasanya benar-benar ingin hilang dari dunia ini. Ia ingin mati saja daripada terus dilecehkan. Namun setelah berpikir jernih, kabur dari rumah adalah solusi yang lebih baik daripada mati.
Trauma di dalam dirinya masih belum hilang. Kali ini ia tak tahu harus bagaimana jika ia mendapat perlakuan yang tidak diharapkannya lagi. Haruskah kabur lagi? Atau mungkin lapor polisi? Ketakutan dalam dirinya itu jelas tidak terbendung lagi.
Setelah membantu membawa beberapa barang, ia langsung melanjutkan pekerjaannya lagi. Kali ini ia ingin memasak sesuatu. Walaupun masakannya sebelum-sebelumnya enak, entah mengapa kali ia takut rasanya tidak seperti yang sebelumnya. Ia sadari kali ini ia masaknya sambil melamun. Setelah dicoba rasanya kurang maksimal namun tidak seperti sebelumnya yang paling penting masih enak untuk dimakan.
***
Salma bersiap membuka warung kecil yang dibuat Fiky tempo hari. Ia senang sekali saat membukanya. Akhirnya ia bisa melayani orang lagi seperti dahulu. Entah mengapa jiwanya yang dulu sering melayani orang di toko masih membara.
Kemarin sebelum ia membuka warung kecil-kecilan ia sempat bercerita kepada keluarganya, semuanya mengenai warung itu . Mereka juga nampaknya tidak masalah. Lagian rumahnya Fiki juga tidak jauh dari sekolah dasar. Letaknya kira-kira cuma beberapa meter dari sana. Kelihatannya lumayan strategis walaupun kalau berjualan di dalam wilayah lebih menguntungkan, tapi baginya tidak masalah.
***
Setelah masak Centini segera ke pasar seperti biasa. Ia sudah membawa daftar belanjaan dan juga uang yang cukup dari majikannya. Pemandangan yang ramai nampak dengan jelas saat ia mulai memasuki kawasan pasar.
Baru saja ia mengeluarkan daftar belanjaannya, seseorang menabraknya dengan keras. Centini hampir jatuh dibuatnya. Saat ia berusaha bangun, terlihat sekumpulan orang mengejar orang yang tadi menabraknya sambil berteriak. Rupanya orang tadi adalah maling yang ketahuan mengambil barang orang lain.
Setelah berdiri dengan tegak, ia mengecek uang yang tadi dibawanya. Untung saja semuanya masih utuh. Ia segera membaca daftar belanjaan dan segera membeli apa saja yang tertulis di sana.
Sambil berbelanja ia berpikir mengenai pria yang berada di
rumah majikannya itu. Rasanya tidak tenang saja, padahal selama ini ia bekerja enak-enak saja . Ia benar-benar takut dengan kehadiran seorang pria di dalam rumah yang ia tempati. Ia sebenarnya tidak nyaman tapi tak mungkin ia bilang. Hatinya cuma berharap hal seperti itu takkan terjadi lagi. Cukup sudah hari itu, Centini tak ingin mengulangnya lagi hari-hari yang menyakitkan.