My Wedding Dream

My Wedding Dream
22. Untuk Suami Tercinta



Tujuh hari yang lalu, tanpa terasa Salma sudah menjadi seorang istri. Ia tak menyangka hari-hari yang dilewati akan berlaku dengan cepat. Sambil membawa keranjang, ia berbelanja bersama Centini di pasar dekat rumahnya. Kali ini ia berbelanja untuk kebutuhan tujuh harian ayahnya . Sebenarnya mungkin kalau dihitung jatuhnya besok, tapi karena besok ia sudah berada di tempat mertua ditambah lagi kakaknya akan pulang jadi melalui rapat internal diputuskan untuk mengatakannya nanti malam saja.


Berbagai kebutuhan yang dirasa perlu untuk acara tujuh harian sebenarnya sudah dicicil dari kemarin, cuma karena hari ini bertepatan pasar di dekat rumah ia memutuskan untuk berbelanja lagi. Mana tahu kemarin ada yang terlewat. Lebih baik lebih daripada kurang.


***


"Yang ini menurutmu cocok enggak?" entah kenapa saat melewati pedagang yang menjajakan baju-baju seksi Fitri tertarik untuk mencobanya. Selama ini ia tak pernah membeli baju semacam itu, namun sepertinya untuk saat ini ia akan membutuhkannya, terutama saat akan menggoda suaminya dikamar.


"Cocok sih, cuma yakin mau beli baju kayak gitu?" Centini yang ditanya agak heran . Tidak biasanya Salma membeli baju yang mengundang hasrat lelaki.


"Yakin sih. Aku ingin jadi wanita penggoda suamiku sendiri. Sebenarnya enggak yakin dia bakal senang, cuma kalau dipakai dikamar aja kan enggak masalah."


"Benar juga. Gila parah inisiatif mu."


"Ya kan demi memuaskan pak suami. Mumpung belum punya anak juga kan bisa maksimal pelayanan yang ku kasih."


"Benar juga sih ."


"Kamu yakin mau jadi pembantu tin?"


"Daripada enggak punya tujuan. Setidaknya aku tahu bakal gimana kedepannya, lagian yang penting halal kan?"


"Kalau itu urusan nanti. Lagian apa ya ada cowok yang mau sama aku yang udah di jamah orang lain?" Suaranya pelan, ia nampaknya sangat berhati-hati dalam berbicara di dalam pasar yang terlihat sudah ramai .


"Kalau yang di atas udah berkehendak pasti ada yang mau. Jangan sedih kayak gitu."


"Ini berapa bang?" Gara-gara ngobrol Salma hampir lupa kalau dia sedang memilih baju yang kira-kira cocok untuk dinas malam.


"Rp 115.000, tapi ya bisa kurang dikit ."


"Hmmmm, kalau Rp 100.000 aja gimana bang?"


"Rp 105.000."


"Ya udah,," sebenarnya Salma merasa harga segitu masih mahal tapi ia kasihan juga dengan pedagangnya. Lagipula dia juga udah mau ngurangin harganya. Segera ia memberikan uang tunai sejumlah harga baju itu.


Setelah mengambil baju seksi yang berwarna hitam dengan sedikit renda-renda , ia segera meninggalkan pedagang itu untuk mencari bumbu-bumbu yang pasti diperlukan. Cabe, bawang, tomat dan lain-lain segera mengisi keranjang yang dibawa olehnya sebelum ke pasar.


Saat berjalan pulang ke pasar rasanya Salma ingin segera cepat-cepat mencoba baju yang baru dibelinya tadi. Ia sudah tak sabar mendengar reaksi suaminya. Pasti dia akan sangat senang melihat istrinya terlihat menggoda di depan suami tercinta. Walaupun hanya khayalan tapi rasanya ia sudah melayang-layang ke udara.


Sampai dirumahnya, ia segera mengambil baju itu dan langsung masuk ke dalam kamar. Disana rupanya tak ada suaminya. Segera dilepas pakaiannya segera dan kemudian ia langsung memakainya. Di depan cermin ia melihat ke dirinya sendiri. Sebenarnya agak gimana juga karena belum pernah memakai baju seksi. Demi memberikan pelayanan terbaik ia rela memakainya.