My Wedding Dream

My Wedding Dream
32. PHK



Fiky terdiam seribu bahasa saat mendengar dirinya akhirnya harus berhenti dari pekerjaannya. Ia terkena efek PHK , sebenarnya ia tidak terlalu terkejut juga. Setelah dua bulan mendengar gosip semacam ini ia sudah kebal jika seandainya ia ikut terkena juga.


Pembicaraannya dengan Salma waktu itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Walaupun dia bingung harus bagaimana nanti kedepannya. Sebagai seorang lelaki ia merasa tidak berguna bila tidak melakukan apa-apa. Rasanya menyedihkan sekali.


Selain dirinya, ada sekitar 100 orang lainnya yang ikut terkena imbasnya. Pesangon yang diberikan memang lumayan banyak tapi tetap saja rasanya masih tidak rela walaupun terpaksa ikhlas.


Dia tahu dia tidak sendiri, ada beberapa temannya yang bahkan lebih parah keadaannya darinya. Setelah di pecat, mereka mulai mengeluhkan keuangan masing-masing. Ada yang masih menyicil motor, bayar biaya rumah sakit, biaya nikah dan sebagainya. Fiky sebenarnya ingin ikut mengeluh juga, tapi mendengar keluhan temannya yang lain ia tidak jadi.


Kali ini alasan utama bos melakukan hal itu adalah karena masalah keuangan. Pabriknya mengalami kerugian yang besar sehingga ia harus melakukan hal semacam itu demi keberlangsungan pabriknya. Dia tak salah, yang ia lakukan benar . Terkadang pengorbanan itu memang harus walaupun terasa menyakitkan.


Sambil mengendarai motor menuju ke jalan pulang, Fiky terus memikirkan kalimat apa yang bisa membuat Salma mengerti. Ia juga memikirkan semuanya yang mungkin akan terjadi. Apapun yang terjadi ia ingin berkata yang sejujurnya. Terus terang memang kadang terasa menyakitkan, tapi selanjutnya dia akan memberikan rasa lega.


Setelah sampai di rumah, ia langsung mandi. Ia tahu harus berterus terang, tapi ternyata tidak segampang yang dibayangkan. Tetap saja ia takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Selesai mandi ia langsung duduk di teras sambil memainkan ponselnya. Biasanya dia setelah mandi langsung makan , tapi rasanya sedang tidak nafsu walaupun yang dimasak kali ini adalah masakan yang biasanya ia tak mau lewatkan begitu saja . Ia juga belum ada bicara sepatah katapun . Rasanya benar-benar tidak sanggup untuk berkata.


"Tumben enggak makan? aku dah nyiapin makanan yang paling mas suka lho padahal," Salma yang menyadari ada sesuatu yang aneh pada Fiky langsung mendekatinya.


"Enggak enak ya?"


"Bukan itu. Tapi aku masih kenyang aja tadi ."


"Oh ya , ada sesuatu yang mau ku bicarakan sama kamu. Tapi kayaknya lebih enak kalau ngomongnya dikamar aja," ia segera mengajak Salma masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di kamar. Fiky segera mengunci rapat kamar itu.


"Mau ngomong apa mas?" Salma jadi penasaran.


"Kau tahu kan beberapa waktu yang lalu aku bilang kalau tempatku kerja bakal ada PHK massal? Sekarang sudah terjadi, dan aku salah satu dari sekian banyak yang terkena PHK itu. Sekarang aku enggak tahu harus bagaimana kedepannya," walau berat, Fiky berhasil juga berbicara.


"Hmmm...., soal ini kita pernah ngebahas. Selama kita berusaha, pasti akan ada jalan keluarnya. Untuk sekarang kan mas bisa bantu aku jualan. Semoga aja nanti kita dapat solusi yang lebih baik. Aku ngerti kok perasaanmu mas," Salma berusaha mencari solusi sembari menyemangatinya.


"Sekarang kayaknya lebih baik kita makan dulu. Enggak usah terlalu dipikir," Daripada terus membahas hal yang membuat suaminya itu jadi overthingking , Salma mengajak ia makan bersama.