My spoiled husband

My spoiled husband
8



Arjuna duduk disofa dengan kaki yang menyila, tak lupa ia juga mengeluarkan rokoknya. Violet yang melihat itu berdecih lalu duduk disebelahnya.


"Berhentilah merokok."


Arjuna tak mendengarnya, ia asik dengan kegiatannya.


"Sudah ku bilang berhenti."


Violet mengambil alih rokok itu dari tangan Arjuna.


"Kembalikan."


Violet menatap datar wajahnya lalu membuang rokok itu dan menginjaknya.


"Kau itu ingin mencari penyakit lagi? demam mu saja belum turun."


"Apa masalahmu?."


"Tidak ada. Kau hanya harus berhenti merokok."


Arjuna merogoh sakunya untuk mengambil sebungkus rokoknya. Ini kesempatan Violet untuk mengambil itu, dengan cepat Violet berhasil mendapatkannya.


"Akan ku buang."


"Kembalikan."


"Tidak mau."


"Kembalikan atau aku akan mengusir mu, bocah."


"Aku bukan bocah. Umurku 23, apa kau sudah mendengarnya huh? Jika kau mendengar berhentilah memanggilku bocah!."


"Hoam.. kapan kalian bisa akur?."


Suara Clea kembali terdengar, Arjuna dan Violet lantas menoleh kearah balkon. Ternyata tidak hanya ada Clea, tetapi disitu juga terdapat Johan.


"Ibu, ayah aku bisa jelaskan. Ini semua karena kak--"


"Shhhh..."


Clea menutup mulut Johan sembari tersenyum sumringah kepada Violet dan Arjuna.


"Mmhhh!"


"Lepaskan Johan." titah Arjuna.


Clea melepaskannya dan Johan berlari terbirit-birit mendatangi orangtuanya.


"Apa kau mencari mati?."


"Tidak."


"Jika tidak temani ibu mall."


"Tapi ibu akan memarahiku jika aku membeli barang-barang tak berguna."


"Itu salahmu."


"Aish!."


Karena merasa lelah berdiri terus-menerus, akhirnya Clea merebahkan tubuhnya diatas lantai.


"Aku iri denganmu Ar, aku juga ingin memiliki pasangan."


"Maka dari itu kau harus mencari seseorang sekarang, jangan terus-terusan menjomblo. Ingat umurmu sudah 36 tahun, bukan anak remaja lagi, jangan sia-siakan kenikmatan hidup di dunia ini."


"Kau ini menasehati ku atau menghinaku?." ujar Clea dengan senyum yang mengambang di wajahnya.


"Menasehati mu."


"Baiklah, kita lihat saja besok."


"Kenapa harus besok?."


"Karena besok hari pernikahan kalian, jadi aku ingin berebut bunga lalu aku akan berharap menabrak seorang pria tampan."


"Terserah mu."


"Johan, kemari lah."


"Tidak mau, aku ingin bersama ibu dan ayah."


"Apa kamu tidak ingin jalan-jalan?."


"Mau, tapi--"


"Ayo, kita ke mall. Bersama nenek."


Johan melihat kedua orangtuanya terlebih dahulu.


"Ikutlah, tidak apa. Ibu dan ayah akan tunggu dirumah, benarkan Arjuna sayang.."


"Iya."


Setelah itu, Johan mendatangi Clea dan setuju untuk ikut bersamanya.


*******


Beberapa menit berlalu, suasana menjadi hening dan damai. Tapi, bukan Violet dan Arjuna namanya jika tidak beradu mulut.


"Kenapa kamu menaruh berkas dan jam tanganku disini?."


"Aku? jelas-jelas kamu yang menaruhnya sendiri disitu."


"Oh? tapi tadi aku melihat kamu yang menaruhnya."


"Jangan sembarang, aku tak akan menyentuh barangmu jika aku tak minat."


"Apa maksudmu tak minat?."


"Kamu tidak perlu tahu."


"Buatkan aku kopi."


"Buat saja sendiri, aku lelah. tidur."


"Pemalas."


"Aku tak pemalas, aku hanya malas bergerak saja."


"Tch."


Violet mendatangi sofa dan merebahkan tubuhnya.


"Aku ingin tidur sebentar, jangan menggangguku."


"Hm."


Baru ingin menutup matanya, Violet kembali terbangun.


"Tidak jadi tidur?."


"Aku melupakan sesuatu."


"Aku berjanji pada diriku sendiri. Selama kamu sakit, aku akan menjagamu, tidak boleh tidur sebelum kamu."


"Terlalu berlebihan."


"Aku tidak peduli."


Violet pergi ke dapur dan membuatkan makanan. Beberapa menit kemudian, ia kembali dan menaruh semangkuk sup ayam diatas meja kerja Arjuna.


"Habiskan, lalu tidur. Besok, lusa, dan seterusnya aku ingin kamu berhenti merokok."


Arjuna menulikan telinganya, ia tak peduli satu katapun dari Violet.


"Hei.. kamu ini sengaja menulikan telingamu kan, cepat makanlah, waktuku bukan hanya untukmu saja."


"Disini ada banyak pembantu."


"Dikasih yang tulus malah tidak mau, awas saja nanti." lirihnya.


Violet keluar dari kamar dan mulai membersihkan tiap sudut rumah mewah itu, dengan beberapa pembantu yang membantunya.


"Nona, kenapa nona perlu repot-repot membersihkan rumah ini? biarkan kami saja."


"Tidak apa, dan tidak usah memanggilku nona, panggil saja Violet. Aku hanya tak suka dipanggil seperti itu."


"Baik Violet."


"Oh iya, jika aku boleh tahu nama dan umur kalian?."


"Aku Olivia, 20 tahun."


"Aku Cleara, 23 tahun."


"Aku---"


Semua berkenalan satu sama lain. Violet heran, kenapa yang bekerja dirumah ini dibawah 28 tahun.


"Kenapa kalian bekerja disini? apa kalian tidak kuliah?."


"Kami butuh uang. Disini gajinya cukup besar, dan kami tidak kuliah karena ekonomi yang kurang."


"Apa.. kalian bekerja disini dari kalian masih sekolah menengah atas?."


"..Sebagian dari kami bekerja dari sekolah menengah pertama dan sebagian lagi dari sekolah menengah atas."


"Aku ingin bertanya pada kalian. Apa kalian ingin kuliah?."


"Sangat ingin." ujar mereka serentak.


"Bagus. Apa kalian ingin--"


"Violet!!."


"Apa?!."


"Buatkan aku kopi dan ambilah mangkuk ini!."


"Baiklah!."


"Tch, menyebalkan."


"Oh ya, jadi.. apa kalian ingin aku menaikan gaji kalian agar bisa kuliah? jika ingin, aku akan memberitahunya."


"Ingin."


"Baiklah. Emm.. bisakah kalian melanjutkannya? aku ingin mengobrol dengan dirinya."


"Tidak masalah. Terimakasih Violet."


"Tidak usah berterimakasih."


Violet pergi mengambil mangkuk dikamar lalu membuatkan kopi untuk Arjuna. Setelah membuatkan kopi, ia kembali ke kamar dan duduk menyilang disofa.


"Bukankah sudah selesai?."


"Yang ini berbeda."


"Perlu ku bantu?."


"Tidak. Ini hanya sedikit."


"Ayolah, justru lebih cepat maka lebih baik."


Ia berdiri lalu mengambil setengah dokumen itu. Suasana menjadi hening dan akhirnya Violet membuka mulutnya.


"Apa kamu bisa menaikkan gaji pembantu disini?."


"Untuk apa? itu sudah cukup."


"Naikkan lah gaji mereka, asal kamu tahu mereka sangat ingin kuliah. Kalau kamu tidak ingin membiayai mereka kuliah, setidaknya kamu naikan gajinya."


"Hm."


"Berjanjilah padaku untuk menaikkan gaji mereka, agar mereka bisa kuliah."


"Hm."


"Ham hem ham hem saja terus."


"Yaa."


Akhirnya mereka berdua pun kembali fokus dengan kertas-kertas didepan mereka. Mereka tak mengobrol lagi hingga mereka tertidur.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya, Violet terbangun lebih dulu. Mandi, lalu pergi ke ruang rias.


"Aku bingung dirumah ini, kenapa banyak sekali ruangan khusus."


"Adik ipar disini!."


"Hehe.. susah ya menemukan ruangan rias?."


"Sepertinya begitu.."


"Tak apa, nanti kau tak akan lagi kesusahan mencari ruangan apapun dirumah ini."


"Baiklah.."


"Ayo masuk."


Violet mengikuti Clea masuk, ia duduk dan membiarkan penata rias memoles wajahnya.