
"Aku mengantuk."
Arjuna menindih tubuhnya, membuat Violet terkejut.
"Aku benar-benar mengantuk, jangan berisik dan jangan membangunkan ku jika kau tidak ingin mendapat hukuman."
"Tapi, jika kau begini bagaimana aku pergi ke kamar mandi, huh?."
"Tahan."
"Kau gila?."
"Mungkin."
"Hah! akhirnya kau mengakuinya."
"....."
"Eh? dia sudah tidur?. Aih.. dasar tukang tidur."
Violet memandangi keseluruhan sudut ruangan dengan malas, pikirannya sekarang adalah Bagaimana cara agar dia bisa lepas dari Arjuna. Ia diam sejenak kemudian perlahan mendorong tubuh Arjuna yang berat itu ke sebelahnya.
"Sangat..sangat berat.."
Bruk.
Akhirnya, ia bisa mendorong tubuh Arjuna dan tak menindihi tubuhnya lagi, lega? sudah pasti. Namun, saat ia ingin berdiri, Arjuna menarik tangan Violet, hingga wanita itu kembali tertidur di atas kasur.
"Jangan pergi... ku mohon.."
"Dia mimpi buruk?."
"Jika kau pergi, kau adalah orang jahat.."
Jari jemari Violet menyentuh wajah Arjuna lalu mengusap air matanya. Apa mimpinya sangat buruk, hingga dia menangis seperti ini? tapi, siapa yang dia mimpikan? pikiran Violet sekarang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu.
Prang!.
Terdengar suara seperti itu, sepertinya dari dapur, apakah ulah Mila?. Lagi dan lagi, Arjuna menahannya pergi, kenapa?.
"Cengkraman nya kuat sekali, aku tidak bisa melepaskannya, jika dipaksa, pasti akan berbekas."
"Stay with me, please.."
"Aku yakin dia setengah sadar."
"Hei, bangun lah dan bersihkan air matamu." lanjut Violet.
Perkataan Violet sukses membuat Arjuna bangun, mata sayu itu menatapnya dalam-dalam, bahkan mengunci semua pergerakannya.
"Tidak, pasti itu hanya mimpi, pasti."
"Apa yang kau mimpikan?."
"Apa kau akan percaya jika aku memberitahumu?."
"Entahlah, cepat beritahu padaku."
"Kau.."
"Apa? aku apa?."
"Kau akan terus didampingi ku.. hingga tua bukan?."
"Pfftt.. apa yang bicarakan, huh? bukankah kau pernah berkata begini padaku"Aku tidak akan tua bersamamu"."
"Kapan aku berkata seperti itu?."
"Dulu, ketika kita masih seperti kucing dan tikus."
"Jika benar aku berkata seperti itu, aku akan menarik ucapanku kembali."
"Apakah bisa? yang kita katakan mana bisa ditarik kembali, kau kira tabungan?."
Arjuna memperbaiki posisinya menjadi duduk bersila, cengkraman nya yang kuat itu berubah menjadi genggaman lembut.
"Aku tidak bercanda. Jawab pertanyaan ku yang tadi, apakah kau akan mendampingiku? selamanya?."
"Aku tidak tahu, kalaupun aku pergi--"
"Jangan berbicara seperti itu."
"Aku hanya berandai, diam lah sebentar."
"Kalaupun aku pergi.. aku akan ada di sampingmu, percaya lah, aku tak kan pergi jauh, jika kau merindukanku, peluk saja foto ku."
"Apa setelah itu kau akan kembali?."
"Hahaha kau bercanda? orang yang telah tiada tak akan bisa kembali, dunianya telah berbeda."
"Kau aneh, mana mungkin bisa seperti itu, ikhlaskan saja mereka. Kau tau, aku yang baik-baik saja seperti ini, dengan sekejap bisa saja langsung berada di rumah sakit. Jangan melawan takdir, oke?"
Tes.
"Huh?."
"Kau.. kau kenapa menangis? apa ada adegan sedih? hei.. kau kenapa menjadi cengeng begini? aku, aku hanya bercanda.. dan aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa mendampingi mu."
"Kau tidak berjanji, yang artinya semua ucapan mu tadi bohong."
"Kata siapa?. Hei, sudahlah, kau sudah besar."
"Apa orang dewasa tidak boleh menangis?."
"Bu-bukan seperti itu.."
"Ini harus bagaimana? sebenarnya mimpi apa dia? ayolah, ini merepotkan."
"Tunggu sebentar."
Violet mengambilkan minum untuk Arjuna lalu mengatur posisinya. Ia menyenderkan tubuhnya ke belakang kasur, dan menaruh bantal di atas pahanya agar Arjuna bisa tidur diatasnya.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?." tanya Violet dengan lembut sembari mengelus kepala Arjuna.
"Menjauh lah dari orang-orang, terutama temanmu yang izin menginap itu."
"Oh ya? kenapa dengan mereka?."
"Mereka jahat."
"Hm.. begitu, lalu, bolehkah aku berjalan sendirian?."
"Tidak."
"Tangan mu pucat dan bergemetar, apa kau baik-baik saja?."
"Ya.."
"Kau berhentilah menangis, aku menjadi khawatir karenamu."
"Oh ya, besok bukankah hari NDC 25?."
"Kau di rumah saja dan suruh orang lain yang mewakili mu."
"Tidak--"
"Akan ku suruh Kelly yang mewakili mu."
"Kenapa begitu?."
"Kau ingat perkataan ku kan?."
"Baiklah-baiklah, aku akan menurut, sekarang kau tidurlah lagi."
"Nanti kau akan meninggalkan ku."
"Tidak, kalaupun aku meninggalkan mu, aku hanya pergi ke dapur atau ke taman belakang."
"Tidurlah.."
"Janji tidak akan meninggalkan ku."
"Iya."
Violet bersenandung kecil sambil menepuk-nepuk pelan kepala Arjuna hingga lelaki itu tertidur pulas.
"Apa yang sebenarnya yang kau pikirkan tentangku? apa akan terjadi hal buruk?."
"Ah, apa yang aku pikirkan? aku sedang mengandung, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak."
•
5 menit berlalu, Violet menghela nafas berat lalu melihat ke arah balkon, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Mila berada disana. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya agar Violet melihatnya. Dengan terpaksa, Violet menurunkan bantal yang ada di pahanya lalu pergi ke balkon.
"Bagaimana kau bisa disini?."
"Hehe.. bukankah mudah? oh ya, itu.. em.. piring mu, pecah."
Sudah di duga, pasti Mila kan yang membuat suara itu tadi.
"Iya, tak apa, lalu selain mengatakan itu, kau ingin apa kesini?."
"Aku ingin numpang ke kamar mandi, ditempat ku ternyata rusak."
"Oh, baiklah."
Mila pun masuk ke dalam kamarnya, matanya juga tak henti-hentinya menatap Arjuna yang sedang tidur. Sedangkan Violet, ia menutupi tubuh Arjuna dengan selimut kemudian meninggalkannya pergi ke dapur, karna ia tak mengantuk.