My spoiled husband

My spoiled husband
19



"Masak apa ya?."


"Non, jika nona ingin memasak, lauknya habis, belum dibeli."


"Eh? benarkah?."


"Tapi, didepan ada tukang sayur yang selalu lewat, pembelinya juga sangat banyak, apa saya beli disitu saja, non?."


"Begitu.. baiklah, biar saya saja yang beli."


"Tapi, non.. jika tuan--"


"Tidak apa."


"Kenapa kau ada disini?!."


Suara bentakan itu terdengar dengan sangat jelas hingga membuat Violet menoleh ke belakang. Wanita itu memperlihatkan Arjuna yang sedang menuruni tangga dengan raut wajah yang sangar.


"Kenapa?."


"Apanya yang kenapa? perempuan itu, kenapa dia bisa ada dikamar kita? dia hampir ingin mencium ku!."


"Dia menumpang ke kamar mandi, lagipula itu baru saja hampir kan? bukan benar-benar di cium."


"Kau--"


"Non, ini dompetnya."


"Oh iya, terimakasih."


"Ingin kemana?."


"Ke depan."


"Ikut."


"Aku hanya sebentar, jangan seperti anak kecil begini."


Arjuna tak peduli, ia mendekat dan menggandeng tangan Violet, wanita itu hanya bisa menghela nafas kemudian melangkahkan kakinya. Pasti ibu-ibu komplek akan melihat kearahnya bukan? itu sudah pasti terjadi.


"Hahaha Juminten, anaknya cantik ya."


"Hahaha bisa aja, Bu.. anak ibu juga ganteng lho."


"Eh eh, kalian sudah tahu belum, ada perempuan yang datang dan sepertinya tinggal di rumah itu lho."


"Serius? wah.. aku jadi kasihan pada istrinya, Violet."


"Tapi dia tidak mungkin mau dengan perempuan itu, dan lebih memilih istrinya."


"Ehem."


Semua menjadi diam dan memandangi Arjuna dan Violet, sangat serasi.


"Siapa yang sedang kalian bicarakan?."


"Eh, tidak.. tidak ada."


"Berhentilah menggosip." timpal Arjuna.


"Hush, tidak boleh berkata seperti itu, dia lebih tua dari mu."


Arjuna mendesis lalu beralih memeluk dan mengelus-elus perut Violet, dengan begitu, ia menjadi tenang.


"Suaminya manja sekali, Bu."


"Iya, dia selalu begini."


"Pak, terongnya berapa?."


"2 RB saja."


Violet mengangguk mengerti, ia sibuk memilih-milih hingga anaknya memanggil tidak di herani.


"Ibu! ibuuuuu."


"Johan? kok sudah pulang? dimana kak Clea?."


"Hem, Johan udah pulang, dan kak Clea udah masuk duluan."


"Oh begitu."


"Ar, berhenti menciumi leher ku, dilihat banyak orang dan Johan juga sudah pulang, gendong dia." lanjut Violet dengan suara kecil.


"Aku belum selesai."


"Sampai kapanpun juga tidak akan selesai, cepat bawa dia masuk."


"Aku bilang, aku belum selesai, sayang.."


"Berhentilah, aku, aku akan membiarkanmu menciuminya nanti."


"Kau berjanji?."


"Ya, aku berjanji."


Arjuna menjauhkan kepalanya dari leher Violet dan melepas pelukannya.


Cup.


Sebelum masuk kedalam, Arjuna mencium pipinya lalu menggendong Johan.


"Ayah, kau keren, wajah ibu jadi memerah."


"Ibu mu malu."


"Kalian.. berhentilah menggoda ibu."


"Hahaha.. bercanda, iyakan, yah?."


"Iya, sayang."


"Ibu.. kami duluan, jangan lama-lama, Johan lapar."


"Baik..."



"Johan, ibu sudah selesai berbelanja."


"Ibu kenapa lama sekali?."


"Ayahmu pasti tahu."


"Ibumu menggosip."


"Benarkah? siapa?."


"Anak kecil tidak boleh tahu."


"Ibu.."


"Ya?."


"Siapa perempuan yang dikamar tamu itu?."


"Teman ibu, dia menginap disini."


"Sampai kapan?."


"Sampai dia menemukan pekerjaan."


"Tahu darimana dia jahat, hm?."


"Wajahnya."


Violet tersenyum kikuk lalu mengacak-acak rambut Johan


"Johan, tidak boleh begitu dengan orang lain."


"Tapi, Bu--"


"Sudah, sana lanjut nontonnya Tv-nya."


"Hum!."


Violet pergi ke dapur dan menata belanjaannya di kulkas, tapi sebelum itu, ia harus mencepol rambutnya terlebih dahulu agar rambut miliknya tak jatuh ke dalam makanan. Saat ia ingin mencuci daging ayam, ia terkejut dengan suara berat tepat disebelahnya.


"Sayang.."


"Kau mengagetkanku. Mau apa?."


"Yang tadi."


"Iya, lagipula aku sudah berjanji."


Cup.


"Jangan kedengaran seperti itu."


Arjuna terkekeh kecil lalu kembali melanjutkan apa yang ia lakukan tadi. Tangannya juga tak diam, justru memegangi perut Violet.


"Jangan terlalu dekat dengan meja, jika terhimpit pasti sakit." ujarnya sambil mengangkat dan melindungi perut bulat itu.


"Em, terimakasih."


"Wah.. ayah dan ibu sangat romantis."


"Johan? ngapain disini?."


"Johan bosan."


"Kalau begitu pergilah main dengan kak Clea."


"Kak Clea tidur. Ibu, ayah sedang apa?."


"Ayah sedang tidur."


"Tidur berdiri?."


"Benar, ayahmu kadang begini jika-- aww.."


"Aku tahu kau sedang membuat tanda disana, tapi jangan kuat-kuat, kau menggigitnya terlalu keras." bisik Violet.


"Ayah sepertinya tidak tidur. Ayah!."


"Yes baby?."


Arjuna memiringkan kepalanya ke arah sebaliknya untuk melihat anaknya.


"Apa yang ayah lakukan?."


"Ayah? ayah hanya melakukan hal yang biasa orang dewasa lakukan."


"Yang orang dewasa lakukan? apa itu?."


"Nanti kau juga tahu jika sudah dewasa."


"Ayah membuatku penasaran."


"Johan! ayo bermain!." pekik anak kecil dari luar rumah.


"Siapa itu?."


"Dia Rio, Bu, teman Johan."


"Oh ya?."


"Hum! Johan pergi main dulu."


"Hati-hati, jalannya pelan-pelan saja."


"Siap ibu negara!."


"Dia sama sepertimu, sayang."


"Kau ini bagaimana? tentu saja sama, dia kan anakku."


"No, bukan hanya anakmu, tapi anak kita berdua."


"Terserah, tapi tanganmu awas, tanganmu mau aku dipotong?."


"Jahat, sayangnya Arjuna tukang marah-marah, tapi tetap sayang."


"Cara bicaramu aneh sekali, seperti orang manja."


"Tuan.. ermm.. maaf mengganggu, tapi ini ada telepon."


"Dari siapa?."


"Zico, sektretaris tuan."


Arjuna berdecak kesal, baru saja ia ingin mencium leher Violet. Mengapa orang-orang ini sangat menggangu.


"Apa?."


"Pak, kita ada beberapa hal yang harus dikerjakan, terutama kerjasama antar perusahaan TS. Dan kita harus pergi ke Bangkok karena terjadi beberapa masalah disana."


"Dimana kau sekarang?."


"Di kantor, Pak."


"Baiklah, tunggu disitu, aku akan segera kesana."


Tutt tuttt.


Pria itu menyenderkan kepalanya di bahu Violet, ia memandangi wajah istrinya yang penuh dengan keringat, walaupun begitu, dimatanya tetap saja cantik.


"Kau lelah?."


"Tidak, kau pergilah ke kantor lalu perbaiki masalah di Bangkok."


"Tapi aku ingin bersamamu, aku bisa disana selama 3 hari, paling lama seminggu."


Violet mencuci tangannya yang penuh dengan tepung, kemudian berbalik dan menatap Arjuna.


"Itu tidak lama. Sekarang.. pergilah, jika sudah sampai, jangan lupa makan."


"Tunggu apa lagi? ayo mandi dan ganti bajumu."


Violet menarik tangan Arjuna ke kamar, ia menyiapkan pakaian dan barang-barang yang perlu Arjuna bawa, sedangkan lelaki itu sedang membersihkan tubuhnya.


Ting.


Zico.


Pak, langsung saja ke perusahaan TS.


"Aku ingin membantunya, tapi hanya dari rumah."


"Oh tunggu, aku kan juga sektretaris nya. Bagaimana bisa aku melupakan itu?.