
Beberapa menit kemudian, Arjuna keluar dari kamar mandi, manik matanya mengarah pada perempuan yang sedang berusaha mengikat dasi diatas sofa.
"Apa yang kau lakukan dengan dasi ku?"
"....."
"Letakkan kembali."
"Diam lah, aku sedang berusaha." jawab Violet dengan mata yang masih fokus pada kegiatannya.
"Kenapa susah sekali.. bukankah benar begini? dulu ku rasa benar." gumam Violet.
"Kau salah melakukannya. Harusnya kau--"
"Diam lah! biarkan aku sendiri, aku bisa melakukannya."
Arjuna mendatanginya lalu mengambil dasinya dari kaki Violet dan memasangkannya di kakinya.
"Kamu lakukan seperti ini."
Violet mengamatinya dengan serius.
"Lalu masukkan di lubang bagian sini dan tarik perlahan."
"Baiklah, aku tahu."
Arjuna membongkar lagi dan memberikannya pada Violet.
"Apa?."
"Ulangi."
"Aku?."
"Hm."
Violet menghela nafas sebelum ia melakukannya, tak perlu waktu lama Violet berhasil melakukannya dengan sempurna.
"Hahaha.. ini mudah!."
Violet menoleh kearah Arjuna, lelaki itu menyenderkan tubuhnya dan tangannya sibuk memijit pelipisnya.
"Jika sudah dengan urusan dasi itu cepatlah ke ruang pakaian, aku sudah memesan segalanya, tinggal kau pilih beberapa."
"Turun, belok kiri dan kemudian kamu cari pintu kayu yang berukiran bunga, aku akan menyusul nanti."
"Tidak ada nanti-nanti, kau lupa kataku tadi?."
Violet menaruh dasi itu dan menarik tangan Arjuna keluar kamar menuju ruangan pakaian.
"Sebelah kiri bodoh, bukan sebelah kanan."
"Aku tahu, aku hanya lupa."
"Masih muda pelupa."
"Iya, aku memang cantik."
"Sepertinya telingamu harus dibersihkan."
"Iya tahu, aku cantik.. terimakasih."
Violet sengaja menulikan telinganya dan mempercepat langkahnya. Setelah sampai di ruang pakaian, mereka pun masuk dan Violet melepaskan cengkraman tangannya.
"Pilihlah beberapa, kemudian pakailah satu-satu."
"Berapa harga semua gaun disini, mereka semua sangat indah." ucap Violet sambil memegang salah satu gaun berwarna pink.
"100 - 700 m."
"Apa?!."
Violet menjauh dari gaun itu dan mematung sambil terus bergumam. 100-700 milyar? oh tidak...
"Cepat pilihlah."
"Tapi jika aku mengambil yang mahal bagaimana? uang mu nanti akan habis!."
"Cerewet, cepat pilih saja"
"Baiklah.."
Violet berkeliling melihat-lihat gaun yang terpampang, ia bingung kenapa tidak ada orang selain ia dan Arjuna.
"Hei apa hanya kita berdua di ruang ini?!."
Suara Violet menggema di seluruh ruangan itu.
"Kenapa dia tidak menjawab? apa dia meninggalkanku? sendiri? disini? ayolah.. bahkan aku lupa lewat mana tadi, ruangan ini begitu luas!."
Violet memutuskan untuk kembali meski ia tak tahu lewat mana tadi.
"Lewat sini bukan?."
"Tunggu, ini.. ini jalan buntu!."
Ketika Violet berbalik ia terkejut melihat Arjuna yang sudah dibelakangnya.
"Kau ingin membuatku jantungan? huh?!."
"Diam bodoh.. kau mengganggu tidurku."
"Itu salahmu karena membuat ruangan ini sangat luas, ditambah lagi.. ini terlihat seperti labirin!."
"Kau saja yang bodoh, begini saja tidak bisa."
"Berhentilah mengatakan aku bodoh, aku ini tidak bodoh kau tahu. Aku hanya pelupa."
"Sudah pilih gaunnya?."
"Tentu saja belum, dasar bodoh."
Arjuna menarik tangan Violet untuk mencari gaun, kali ini Arjuna sendiri yang akan memilihnya untuk Violet karena ia lelah mendengar ocehan dari gadis berisik itu.
"Coba yang ini." ujar Arjuna sembari memberi gaun berwarna putih.
"Hmm.. jangan mengintip."
"Aku tidak berminat."
Violet meninggalkan Arjuna dan mencoba gaun putih itu. Beberapa menit, Violet keluar.
"Hei bagian bra gaun ini kebesaran."
"Itu cocok."
"Tidak, aku tidak mau."
"Pakai yang ini."
Violet mengambil gaun berwarna merah dari tangan Arjuna. dan kembali mencobanya.
"Ini cocok, semua pas dengan postur tubuhku. Bagaimana denganmu?."
"Pas."
"Ah, baguslah.. aku tak perlu mencoba banyak-banyak."
"Lepas itu dan ikuti aku."
"Sebentar."
1 menit berlalu, Violet keluar dan mengikuti Arjuna dari belakang.
"Aku hanya ingin anting dan kalung, kau saja yang memilih, aku tidak pandai dalam memilih aksesoris."
"Terserah."
Akhirnya Arjuna yang memilih aksesoris untuk Violet, sedangkan gadis itu hanya mengikutinya dari belakang dengan tangan yang masih digenggam oleh Arjuna.
"Bisa kamu melepaskan tanganmu? tanganku mulai berkeringat."
Arjuna melepaskannya lalu berganti ke tangan Violet yang satunya.
"Kamu.. bukankah kamu tak suka didekat ku? kenapa masih menggenggam tanganku?."
"Diam cerewet."
"Cerewet itu bagus untukmu. Ada protein, serat, kalsium, karbo--"
"Kamu kira apa?."
"Tidak, aku hanya bercanda.. kamu terlalu serius."
Setelah semua selesai, Arjuna dan Violet kembali ke kamar.
"Johan mana?."
"Ada, tuh sama tante Rika."
"Oh."
"Apa kau sudah meminum obat penurun panas?."
"Belum."
Violet menghela nafas lalu mengambilkan obat penurun panas beserta segelas air putih.
"Minum, atau Johan akan memarahi mu."
Arjuna mengambil satu butir obat dan gelas itu lalu meminumnya.
"Sekarang tidurlah."
"Ada urusan yang perlu ku kerjakan."
"Apa? biar aku saja."
"Tidak usah."
"Menurut lah padaku bocah.. dan tidurlah."
Arjuna berdecak kesal lalu naik keatas kasur.
"Jadi, apa yang perlu aku lakukan?."
"Tanda tangani dokumen-dokumen itu."
Violet mengikuti jari telunjuk Arjuna, Violet sempat terbengong karena melihat banyak dokumen diatas meja.
"Itu?."
"Hm."
"Tidak masalah."
"Hari ini harus selesai."
"Hari ini?!."
"Kau mau membantu atau tidak?."
"Aku.. Tentu."
Violet mendatangi meja itu mulai menandatangi nya. Butuh waktu berjam-jam agar ia bisa menyelesaikan itu, ia sangat lelah. Tulang punggungnya pasti akan berbunyi nanti.
"Sampai kapan selesainya..? dari tadi tidak berkurang, apa kau pilih kasih padaku kertas?."
"Astaga, aku pasti sudah gila karena dokumen ini."
"Nanti lagi deh."
Ia berdiri dan meregangkan otot-ototnya, kemudian pergi ke sofa. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa empuk dan nyaman itu.
"Enaknya..."
Perlahan matanya tertutup dan akhirnya tertidur dengan pulas.
.
.
.
.
.
Sore harinya Violet terbangun, ia langsung terduduk lalu berjalan menuju meja yang terdapat dokumen.
"Aku menyelesaikan sisanya, kau terlalu lama menandatangi nya."
Suara berat itu muncul dari kamar mandi, siapa lagi jika bukan Arjuna. Arjuna mendatanginya dengan tangan dilipat didada.
"Tapi aku sudah berusaha keras tahu!."
"Oh?."
"Aku benci kau, sungguh."
Violet menginjak kaki Arjuna dengan kuat, pria itu meringis kesakitan.
"Kau ini jenis manusia apa?!."
"Tentu saja aku manusia jenis normal."
"Ke RSJ."
"Untuk apa?"
"Untuk menitipkan mu disana."
"Heiii.. aku tidak gila tahu!."
"Kau gila."
"Yo yo.. adik ipar.."
Clea tiba-tiba muncul dari balkon dengan gaya tomboy nya.
"Sejak kapan kau disitu?!." ujar Violet dan Arjuna bersamaan.
"Kalian santai lah, aku tidak menguntit."
"Ibu ayah! kak Clea menguntit, dia lewat balkon sebelah."
"Kau.."
"Errrr.. jangan marah, Ar. Aku hanya mencari angin."
"Seandainya kau bukan kakak ku, mungkin kau sudah berada di alam lain."
Arjuna menarik tangan Clea keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.