
Sorenya.
"Ini jam berapa?." tanya Violet dengan suara khas bangun tidurnya.
"....."
"Tidak usah berpura-pura seolah-olah kau masih tertidur, aku tahu kau sudah bangun."
"Jam 16.00"
"..Ah, hari ini aku kebanyakan tidur karena mu."
Arjuna melepas pelukannya dan turun dari atas kasur.
"Mandilah dulu, aku akan membuatkan mu makanan."
"Tapi bukankah kita punya pembantu? kenapa tidak suruh mereka saja?."
"Demi keselamatan dan kesehatan bayi kita, aku tak ingin tiba-tiba ada yang berniat jahat."
Violet tersenyum kecil ketika Arjuna berkata seperti itu.
"Baiklah.. terserah mu saja, aku akan mandi terlebih dahulu."
"Jangan terlalu lama, tidak baik."
"Iyaaa.."
*****
Jam menunjukkan pukul 16.50. Violet keluar dari kamar mandi, dan kebetulan sekali Arjuna juga sudah kembali dengan membawakan makanan dan minuman untuknya.
"Kenapa kamu baru keluar dari kamar mandi? bukankah sudah ku bilang jangan berlama-lama?."
"Itu.. aku.. em.. ayo suapi aku makan."
"Mengalihkan topik pembicaraan?."
"Sudahlah.. ayo."
Arjuna menghela nafas kasar. Ia duduk di sofa sebelah Violet. Arjuna mengambil sesendok bubur lalu meniupnya sebelum dikasih kepada Violet.
"Buka mulutmu."
Violet menurut lalu menerima suapan itu.
"Panas!." pekik Violet.
Tanpa sadar Violet mengambil segelas susu yang masih sedikit panas.
"Yakkk!."
Buru-buru Arjuna mengambil segelas air diatas meja.
Glek glek.
"Lain kali hati-hati, jangan langsung memasukkan semua."
"Baiklah-baiklah, aku yang salah."
Arjuna kembali menyuapinya dan meniupnya cukup lama, agar tak terasa panas.
"Bagaimana? masih panas?."
"Tidak."
"Bagaimana dengan rasanya?."
"Bubur ini sedikit asin, tapi tetap enak.. aku suka."
Arjuna hanya mengangguk lalu kembali menyuapinya.
*******
Mulai hari ini sepertinya Violet akan sangat merasa bosan. Tak boleh melakukan ini itu, tak boleh keluar kesana-kemari, dan sebagainya. Kini mereka berdua sedang berdebat.
"Aku ingin membuat gaun ini."
"Suruh orang yang melakukannya."
"Tapi aku ingin membuatnya dengan tanganku sendiri, karena aku yang membuat desain juga mendaftar lomba itu, bukan orang lain."
"Aku tahu kau khawatir padanya, tapi kau tak bisa mengekang ku seenak jidatmu, aku tak suka di kengkang seperti ini." lanjut Violet.
Violet pergi meninggalkan kamar, desain yang ia pegang juga ia lempar ke sembarang arah. Ia butuh ketenangan, maka dari itu ia pergi ke halaman belakang rumah mewah itu.
"Sabar.. tidak boleh marah, dia hanya khawatir dan hanya menjagamu agar kamu tidak bahaya."
"Kamu sedang hamil dan wajar saja dia seperti itu."
"Argh, tapi itu berlebihan."
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Aku tidak akan mengekang mu." bisik Arjuna.
"Iya, aku bersungguh-sungguh."
"Tapi aku sudah malas, biarkan saja aku tak ikut lomba itu."
"Kenapa?."
"Tidak apa-apa."
"Masuklah ke ruangan yang terdapat nama Desainer didepan pintu. Lalu buatlah gaun disana, semua yang kamu perlukan ada."
"Terimakasih."
Violet tersenyum, ia melepas pelukan Arjuna lalu berbalik.
"Tapi.. bisakah kamu membantuku membuat gaun itu?."
"Tentu saja."
Arjuna memberikan kembali gambar rancangan gaun milik Violet. Gadis itu semakin tersenyum.
"Terimakasih. Aku kira kamu akan membuang ini dan membiarkanku marah-marah."
"Mana mungkin aku melakukan itu."
"Baiklah, ayo."
Violet menggandeng tangan Arjuna dan menyamakan langkahnya dengan suaminya itu.
•
"Gaun ini lebih bagus dan pengerjaannya lebih cepat dari yang aku kira."
"Ini berkat bantuan dari mu." lanjutnya.
"Kamu tak perlu berterimakasih."
Arjuna mengacak-acak rambut Violet karna gemas.
"Kamu ingin ku buatkan teh? atau kopi?."
"Tidak perlu, ini sudah malam, tidurlah."
"Aku belum mengantuk, karena sepanjang hari selalu tidur dan tidur, seperti kelelawar saja.
"Jadi? apa yang ingin kamu lakukan?."
"Aku yakin kau tak memperbolehkan ku memasak, jadi.. aku ingin menonton film saja."
"Boleh, Genre apa?."
"Horor."
"Kamu yakin? apakah kamu tak takut?."
"Tidak, kenapa harus takut? itukan hanya film."
******
"Huaaaaa!."
"Kenapa film ini membuat orang jantungan terus-menerus?!."
Violet memeluk erat lengan Arjuna, dan terus berteriak ketakutan.
"Tadi katamu tak takut, sekarang malah teriak-teriak dan memeluk lenganku dengan erat."
"Aku tak berkata seperti itu."
"Oh ya? kalau begitu, kamu harus tidur sendiri hari ini."
"Jangan! baiklah-baiklah, aku berkata seperti itu karena ku kira film nya tak seseram ini."
Duar!.
Suara guntur tiba-tiba terdengar, disertai hujan yang begitu derasnya, menambah kesan malam itu menjadi horor.
"Ingin tidur saja?."
"Iya, aku.. takut."
"Ayo."
Arjuna mematikan televisinya lalu menggendong Violet. Dikamar, Violet meminta Arjuna memeluknya, karena ia sungguh merasa takut dan trauma menonton film horor.
•
Gaun rancangan Violet👇🏻
smbr: pinterest.