My spoiled husband

My spoiled husband
16



Dimobil, Arjuna mendudukkan Violet dengan pelan lalu mencari sesuatu untuk menutupi tubuh Violet.


"Apa yang sedang kamu cari?."


"Jaket."


Setelah dapat, Arjuna pun masuk kedalam mobilnya dan menyuruh Violet memakai jaket itu.


"Pakai."


"Jaketmu ini kebesaran, bisa-bisa nantinya aku terlihat tambah gendut."


"Bagiku gendut tidak masalah buatku."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menggemukkan badanku."


"Kau yakin? bagaimana jika anak kita takut padamu? lalu kau akan mudah kelelahan, tak bisa agresif, kau--"


"Cukup-cukup, aku mendengar itu seperti hinaan."


"Aku tak menghinamu."


"Aku tak percaya padamu, karna apa? karna kau pernah bermain peran disebuah drama bukan? judulnya jika tidak salah.. "Cinta Buta" benar kan?. Wah.. aku sungguh terkesima melihat aktingmu, benar-benar sangat mendalami peran, kau berpura-pura menangis karena putus dengan wanita itu."


"Sudah cukup?."


"Jika diingat-ingat wanita itu sungguh cantik dan aktingnya juga tak kalah keren. Sungguh, aku ingin menonton ulang drama itu, sepertinya sudah 5 tahun yang lalu." lanjut Violet tanpa mempedulikan perkataan Arjuna.


"Apa kau ingin menonton--"


"Apa sudah cukup? aku tak ingin mengingat itu, karna aku sudah memilikimu seutuhnya sekarang."


Jarak mereka sangatlah dekat, Violet mati-matian berusaha menahan nafasnya. Hingga, Arjuna kembali menjauhkan wajahnya.


"Kau seperti ingin menerkam ku."


"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai ke tempat tujuan." ujar sang sopir.


Arjuna hanya mengangguk, kemudian mulai menutup mata Violet dengan kain.


"Ingin apa kau?."


"Menurutlah."


"Kita ingin kemana? kenapa mataku harus ditutup?."


"....."


"Hei jawab pertanyaan ku."


"Diam."


Tak butuh waktu lama, mereka sampai ditempat tujuan. Arjuna membuka pintu mobil, ia melepas sepatu heels Violet lalu menggendongnya.


"Kamu tak mungkin akan membuang ku kan?."


"Siapa yang akan membuang wanita cantik sepertimu, hm?."


Arjuna menurunkan Violet. Wanita itu mengerutkan keningnya, ketika kakinya merasakan banyak butiran-butiran pasir.


Perlahan, Arjuna pun membuka penutup matanya. Violet mengucek dan menerjapkan matanya berkali-kali.


Pemandangan laut di malam hari, ditambah hiasan kelap-kelip, menambah keindahan ditempat itu.


"Tempat ini cantik sekali."


"Kamu menyukainya?."


"Ya.. aku menyukainya, sangat-sangat menyukainya."


"Apa ini adalah rencana mu?." lanjutnya.


"Baguslah jika kamu menyukainya, dan.. ya, aku yang merencanakan semua ini, hanya demi dirimu."


"Kamu.."


Violet memeluknya dan menangis terharu.


"Terimakasih, terimakasih banyak."


"Tidak perlu berterima kasih, aku akan selalu melakukan apapun untuk dirimu."


"I love you.." lirih Violet.


Walaupun suaranya sudah kecil, namun Arjuna masih bisa mendengarnya.


"I love you too, babe.." jawabnya didalam hati.


Violet melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Arjuna.


"Aku lapar.."


"Ingin memanggang daging?."


"Apa boleh?."


"Tentu saja boleh, nyonya Arjuna.."


Violet terkekeh. Setelah itu, mereka berdua pun memanggang daging dengan bumbu barbeque.



Setelah makan, mereka pun duduk di tepi danau. Tatapan Violet sayu-sayu saat memandangi hamparan laut dan terpaan angin malam yang dingin. Sesekali wanita itu menutup matanya untuk mendengarkan deburan ombak.


"Besok, setelah perlombaan selesai.. aku akan mulai bekerja dan menjalankan tugasku sebagai sekretaris mu."


Arjuna mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah Violet.


"Bukankah sudah ku katakan padamu? jika kau tidak diperbolehkan untuk bekerja disana, dan kau juga sedang hamil."


"Tapi itu tugasku, tidak bisakah membiarkan ku melakukan apapun yang aku mau?, jangan kira aku ini lemah dan tak bisa apa-apa."


"Aku akan tetap melarang itu."


"Terserahmu, tapi kau lihat saja nanti."


"Jangan membandel, turuti saja perkataan ku."


"Tidak, aku tidak mau."


"Jangan mencari gara-gara."


"Aku tidak--"


Tiba-tiba saja Arjuna mendorong tubuh Violet hingga menyentuh tanah, kemudian ia menindih tubuhnya.


"Apa yang ingin kau lakukan? jangan berbuat yang aneh-aneh, kita ini sedang diluar rumah."


"I want you."


"Kau pasti sudah mengantuk kan?, ayo kita pulang saja."


"Bukan seperti itu."


"Lalu?."


Ctak!.


Violet menjentikkan jarinya setelah tahu maksud perkataan Arjuna.


"Oh, aku tahu maksudmu. Kau.. tidak-tidak, aku tak ingin melakukan itu."


"Lebih baik sekarang, jika ditunda, perutmu akan semakin membesar dan itu akan menyulitkan ku, juga dirimu."


"Sudah ku bilang aku tidak mau."


"Menurut saja."


Cup.


Arjuna menciumnya sekilas, kemudian menggendongnya menuju mobil. Ia mendudukkan Violet diatas pangkuannya, agar pria itu bisa mengurus bagian leher Violet.


"Kau jangan main menerkam ku, disini masih ada pak sopir."


"Aku hanya bermain bersama lehermu saja, apa itu menerkam?."


"Jika iya?."


"Jika iya, aku akan menerkam mu secara habis-habisan sekarang."


"Tidak-tidak, jangan."


Arjuna tersenyum tipis lalu melanjutkan apa yang tadi ia lakukan.


******


Hi everyone.


Ayo bantu votment ya dan kalo ada kata-kata yang typo atau kurang kalian mengerti, bilang aja, nanti bakal secepatnya aku perbaiki. Okay? see you..


...To be continued~...