My spoiled husband

My spoiled husband
3



Sesampainya di depan apartemen, 2 mobil itu memarkirkan mobilnya bersebelahan. Violet mengerutkan keningnya dan segera keluar dari mobilnya.


"Mana Johan?." tanya Violet pada Arjuna.


"Tidur."


"Terus kenapa ikut ke apartemenku?."


"Johan menginginkan kita tinggal bersama."


Arjuna mengambil Johan dan menggendongnya.


"Ya sudah lah."


Merekapun masuk kedalam apartemen itu. Violet menunjukkan dimana kamar Johan, setelahnya ia meninggalkan Arjuna duduk sendirian di sofa ruang tengah.


Beberapa menit kemudian Violet keluar dan menatap tajam Arjuna yang sedang melihat-lihat fotonya dengan Johan.


"Ehem, ingin makan apa?."


Arjuna berbalik lalu melipat kedua tangannya.


"Cantik."


"Terserah."


"Hm. Mandi dikamar ku, pakaianmu sudah aku siapkan."


Violet lalu pergi menuju dapur dan memasakkan makanan untuk mereka.


"Bu.. ayah sudah pergi ya?." celetuk Johan yang tiba-tiba berada di belakang Violet.


Violet berbalik, berjongkok lalu mengelus pipinya.


"Ayah kamu lagi mandi."


"Oh.."


"Kau sudah mandi?."


"Sudah. Em.. ibu, ibu sudah berbelanja bahan makanan?."


"Ah iya, ibu lupa. Hari ini kita makan mie instan saja ya."


"Hum, tidak masalah. Aku kan anak ibu yang tidak pilih-pilih makanan."


"Ya sudah, kamu duduk dulu gih."


Setelah Johan duduk di kursinya, barulah Arjuna keluar dengan rambut yang masih basah. Ia duduk disebelah Johan dan mengacak-acak rambutnya.


"Ayah.. kan jadi berantakan." ketus Johan.


Arjuna tersenyum tipis lalu menatap punggung Violet.


"Aku ingin steak."


Violet berbalik dan menaruh 3 mangkuk diatas meja lalu tersenyum kesal.


"Tadi kamu bilang terserah, dan sekarang kamu bilang kalau kamu ingin makan steak? hei dengar, karena ulahmu hari ini, aku jadi lupa untuk berbelanja bahan makanan. Jadi makanlah seadanya atau silahkan pergi dari apartemen ini, karena ini bukan restoran."


Violet duduk dan memakan makanannya, begitupun dengan Johan.


"Kalian makan mie setiap hari?."


"Kami--"


"Kamu kira kami apa? huh? makan mie setiap hari."


"Dasar om-om." gumam Violet, tapi masih bisa didengar oleh Johan dan Arjuna.


"Pffftt."


Johan ingin sekali tertawa, tapi bagaimanapun juga ia harus tetap sopan kepada orang yang lebih tua darinya, jadi ia hanya tersenyum. Arjuna? ia mengerutkan keningnya dan menatap tajam kepada Violet.


"Apa? itu adalah fakta."


"Johan, kamu tahu. Ayahmu itu bukan berbeda 1 atau 2 tahun dengan ibu, tapi--"


"Diam."


"Usia ayahmu itu 29, jadi jangan kira ayahmu berusia 24 tahun."


"Tahu darimana?."


"Karyawanmu."


"Nama?."


"Aku tidak tahu, kamu pikir aku peramal?."


Drrrtt drrrtt..


Suara dering ponsel Violet terdengar jelas, Violet berlari lalu mengambil ponselnya, dan baru menerima panggilan telepon itu didepan Arjuna dan Johan.


0812********


"Halo?."


"....."


"Halo? siapa?."


"....."


"Akan ku tutup."


"Tunggu."


Violet merasa tak asing dengan suara itu, seperti pernah dengar.


"Siapa kamu?."


"Aku, mamamu. Recha." ujarnya dengan suara terisak.


"Sudah berapa kali aku katakan, kamu bukanlah mamaku. Akan ku tutup."


"Tunggu, ini penting. Tentang papamu."


"Kenapa dengan papa?."


"Dia mencarimu sekarang, tolong kesini lah."


"Untuk apa? jangan katakan jika kalian ingin menghajar ku, benarkan?."


"Bukan.. papamu.. kecelakaan. Dia sekarang sedang ditangani, dirumah sakit Anggrek."


Dada Violet terasa sesak, sebenci apapun Violet pada seseorang, ia akan tetap khawatir pada orang itu. Ia kemudian memutuskan panggilan itu dan pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


"Ibu ingin kemana? dan kakek kenapa?."


"Ibu harus kerumah sakit, disini baik-baik sama ayahmu. Tidak akan pulang malam, sekitar jam 17.00 akan pulang."


"Ibu ikut."


"Dirumah saja."


Cup.


Violet mengecup kening Johan lalu mengambil kunci mobilnya.


********


Sesampainya di rumah sakit Anggrek, Violet berlari masuk dan matanya langsung menangkap ibu tiri dan adik tirinyanya itu, ia berlari mendatanginya.


"Ehem." dehem Violet.


Mereka berdua mendongak kearah Violet.


"Akhirnya kamu--"


"Mana papa?."


"Papamu--"


"Dengan keluarga pasien? bernama Violet?."


"Iya saya." jawab Violet.


"Baik. Untuk kondisi pasien sangat memburuk saat ini, dan dia ingin bertemu denganmu sekarang."


"Baiklah."


Violet masuk kedalam ruang operasi diikuti dokter dari belakang. Perlahan ia berjalan mendekatinya, dan berdiri disebelahnya sembari memegang tangan Dodi. Mata tua itu terbuka dan melihat kearah Violet.


"Violet? itu kamu?."


"Iya yah."


Dodi tersenyum dan menggenggam erat tangan Violet.


"Maafin papa ya, sudah berbuat kasar ke kamu setiap hari, maaf papa tidak bisa menjagamu dengan baik, papa menyesal dengan kelakuan ayah ke kamu. Maaf.."


"Tidak, papa tidak usah meminta maaf."


"Terimakasih ya sayang untuk segalanya, jaga dirimu, anakmu dan suamimu baik-baik.. papa dan ibumu berharap ending kamu bahagia, okay?."


"Papa bicara apa sih? jangan begitu dong. Papa pasti kuat."


Air mata Violet akhirnya jatuh membasahi pipinya, hatinya seperti tersayat pisau, sesak dan sakit.


"Papa tidak bisa bertahan lagi sayang, jangan menangis ya jika papa pergi."


"Papa.. jangan tinggalin aku sendiri.."


Tittttt....


Mata Violet membulat, dengan sigap dokter langsung memberikannya penanganan dan Violet pun keluar dari ruang operasi. Violet terduduk lemas dilantai dengan air yang terus turun membasahi pipinya itu.


"Bagaimana? dia tidak apa-apa kan? Violet?."


"Papa.. hiks"


Violet menggeleng pelan.


"Tidak, tidak mungkin."


Tak lama, dokter keluar dan mendatangi Violet.


"Bagaimana kondisi..?" tanya Violet lemah.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, papamu tidak bisa kami selamatkan."


"Tidak, ini bohong kan dok?." tanya Recha.


Violet berdiri dengan tatapan kosong dan mata sembab, ia mulai berjalan keluar dari rumah sakit. Pikirannya sedang kacau hari ini, kepalanya sakit. Ia berniat untuk langsung pulang saja.


Sesampainya di apartemen, Violet masuk dan mendapati ayah dan anak itu sedang menonton televisi.


"Ibu!."


Johan berlari kearahnya dan memeluk kaki Violet. Gadis itu berjongkok lalu mengusap pucuk kepalanya.


"Ibu? ibu kenapa menangis? siapa yang mengganggu ibu? biar aku yang akan mengurusnya." kata Johan dengan tangan yang sibuk menghapus air mata dipipi Violet.


"Tidak ada yang mengganggu ibu."


"Bagaimana keadaan kakek? kakek baik-baik saja kan?."


"...."


"Ibu..?"


"Kakekmu.. harus meninggalkan kita selamanya."


"M-maksud ibu.."


Violet mengangguk. "Iya, kakekmu tidak bisa diselamatkan, dan besok adalah acara pemakamannya."


Johan merasa sangat sedih hingga air matanya juga berhasil turun, tapi tangannya masih setia menghapus air mata Violet yang semakin deras.


"Ibu.. berhentilah menangis, kakek tidak akan tenang jika ibu menangis. Badan ibu juga menjadi panas, jadi ibu berhentilah menangis."


Cup.


"Ibu ke kamar dulu ya."


Baru jalan beberapa langkah, Violet kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Untungnya ada Arjuna yang dengan sigap menangkapnya. Arjuna menggendongnya dan membawanya ke kamar.


"Ibu tidak pernah sakit sebelumnya.." lirih Johan.


Arjuna menyingkirkan rambut Violet yang menghalangi wajah cantik itu, ia mengecek suhunya lalu mengambil baskom berisi air hangat beserta kain.


"Biarkan aku mengkompres ibu."


"Baiklah."


Johan pun mengkompres dahi Violet, sepertinya malam ini mereka berdua akan tidur dikamar Violet.