
Setelah makanan siap, mereka berlima pun makan bersama. Rasanya sedikit canggung bagi Violet, wajar saja karena ia baru dirumah itu.
"Adik ipar.. menjauhlah darinya, dia itu sedikit aneh."
"Berhenti bicara dan makanlah makananmu."
"Hey.. kau sudah berani memerintah ku? aku ini 6 tahun lebih tua darimu."
"Lalu? apa usia mempengaruhi cara berpikir seseorang? tidak kan? jadi diam lah."
"Ah, sudahlah. Kamu terlalu serius, aku lelah bercanda denganmu terus."
Suasana kembali hening hingga selesai makan Violet membersihkan tubuhnya, setelah itu ia pergi ke balkon dan menikmati semilir angin sepoi-sepoi itu.
"Buatkan aku kopi."
Violet tersentak kaget ketika mendengar suara Arjuna. Ia berbalik lalu menunjuk Arjuna.
"Sejak kapan kamu disini? kenapa tidak ada suaranya? apa kamu terbang?."
"Cerewet. Cepat buatkan aku kopi."
"Buat saja sendiri, kenapa harus aku? bahkan aku tidak tahu selera mu, pahit atau man--"
"Pahit."
Violet menghela nafas lalu berjalan maju kearah Arjuna.
"Cangkir?."
"Cari dibawah."
"Kamu yakin? aku sudah memeriksanya tadi, jelas-jelas tidak ada cangkir, tapi hanya ada gelas biasa."
"Sudah periksa di rak atas lemari?."
"Sepertinya belum."
"Periksa kemudian buatkan aku kopi."
"Baiklah tuan muda.."
"Jangan tambahkan racun."
"Aku tidak berminat meracuni mu. Sungguh."
Violet meninggalkannya pergi ke dapur. Ia menaiki kursi agar ia sampai karena tempatnya jauh lebih tinggi dari dirinya.
"Ibu? ibu sedang apa?." tanya Johan yang baru saja keluar dari kamar Clea.
"Ibu sedang mencari cangkir, ayahmu berulah."
"Ingin aku bantu, bu?."
"Tidak usah, ibu bisa sendiri. Bermainlah dengan nenekmu, okay?."
"Nenek sedang tidur."
"Kak Clea?."
"Kak Clea juga sedang tidur."
"Baiklah, kalau begitu bermainlah dengan ayahmu."
Johan mengangguk lalu pergi mendatangi ayahnya, Arjuna. 5 menit di dapur akhirnya Violet kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi pahit, sesuai permintaan Arjuna.
Ia masuk dan melihat anaknya yang tidur di sofa dengan paha Arjuna yang dijadikan bantal, ia menghela nafas lalu meletakkan cangkir itu di sebelah berkas-berkasnya.
"Kenapa lama?."
"Cangkir mu susah kutemukan, seperti hanya 1 cangkir dirumah ini."
"Ada banyak."
"Dimana? aku tidak melihatnya."
"Di rak bawah lemari dan disimpan di kardus."
"Kenapa tidak bilang?!."
"Shhh.."
Violet berdecak kesal, ia menggendong Johan pergi ke kamar dan kembali lagi ke kamarnya. Violet duduk disebelah Arjuna dengan wajah kesalnya.
"Sudah marahnya?."
"Siapa yang marah denganmu?!."
Cup.
Baru saja Arjuna mencium pipinya, Violet langsung menginjak kaki Arjuna dengan kuat hingga lelaki itu memekik kesakitan.
"Jangan mencium ku! aku tidak akan luluh padamu! tidak akan!."
"Oh ya? berani pegang kata-kata mu sendiri?."
"....Aku.. ah sudahlah, kenapa aku harus menjawabnya."
Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara ketikan laptop.
"Berhentilah menjadi karyawan dan lakukan tugasmu sebagai ibu rumah tangga."
Ucapan Arjuna menghilangkan hening di ruangan itu.
"Aku tidak mau."
"Menurut lah."
"Tapi aku akan bosan."
"Ikut aku ke perusahaan dan tetap bersamaku."
"Tapi aku tidak tahan dengan asap rokok mu tahu!."
"Darimana kamu tahu jika aku merokok."
"Aroma tubuhmu tidak bisa berbohong, apalagi ruangan mu."
"Oh."
"Berhentilah merokok, bisa-bisa aku terkena asma gara-gara mu."
"Kamu itu sehat, jadi tidak akan terkena asma."
"Tahu darimana jika aku sehat? aku seperti ini bukan berarti sehat dan baik-baik saja, terkadang aku lelah.. aku lelah bukan hanya fisik tapi juga mental. Aku ingin mengakhiri hidupku di dunia ini, tapi tidak bisa."
"Cerita lah."
"Berhentilah memendam sendirian."
"Dan kamu berhentilah merokok."
Violet menaiki kakinya keatas sofa lalu memeluknya.
"Jika aku memang jodohmu, apa kamu akan berubah?." tanya Violet dengan hati-hati.
"Jika tidak?."
"Tch, aku benci respon mu!."
"Ya."
"Ya apa?."
"Pertanyaan mu."
Violet diam-diam tersenyum dengan raut wajah yang berubah menjadi lembut.
"Berhentilah tersenyum, kau mengerikan." alibi Arjuna. Sebenarnya ia menyukai senyum itu.
"Terserah mu ingin berkata seperti apa, aku tidak peduli."
Mereka berdua kembali terdiam dan Violet berusaha menahan kantuknya, entah kenapa ia menjadi mudah mengantuk dan lelah sekarang. Beberapa menit berlalu, Violet tertidur dengan posisi yang tak berubah. Arjuna yang menyadari jika Violet sudah tidur, ia memposisikan tubuh Violet menjadi terlentang dengan kepala yang berada di pahanya.
"Bodoh." gumam Arjuna sambil menyentil kening Violet pelan.
Arjuna kembali melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Violet tidur di pahanya.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, pukul 04.30 pagi. Violet membuka matanya, ia duduk dan melihat Arjuna yang sedang terlelap, ia terlihat sangat kelelahan hingga Violet merasa iba padanya.
Violet menutup laptop Arjuna dan membereskan berkas-berkasnya yang berserakan, setelahnya ia membersihkan tubuhnya lalu berniat untuk membuatkan makanan.
"Sudah bangun aja kamu."
"Oh, iya tan hehe. Sudah biasa bangun jam segini."
"Benarkah? rajin sekali, sangat cocok dengan Arjuna yang pemalas."
Violet tak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk.
"Tante dan Arjuna sudah siapkan acara pernikahan kalian besok."
"Huh? b-besok?."
"Iya, apa Arjuna tidak memberitahumu?."
"Ti-tidak.."
"Baiklah. Karena kamu sudah tahu, hari ini pergilah dengan Arjuna, kalian akan memilih pakaian pengantin dan sebagainya untuk besok."
"Aku tidak siap, sungguh."
"Iya tan."
Violet dan Rika mulai memasak untuk sarapan.
*******
Jam menunjukkan pukul 05.30, Rika dan Violet selesai memasak. Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kamar, tetapi sebelum Violet ke kamarnya, ia pergi ke kamar Johan terlebih dahulu.
"Johan.. bangun ya. Mandi, sarapan."
"Inikan hari minggu bu.." katanya dengan mata yang masih terpejam.
"Ini baru hari Rabu sayang, ayo bangun."
Dengan terpaksa, Johan membuka matanya lalu turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi. Melihat Johan sudah pergi ke kamar mandi, ia pun pergi ke kamarnya.
Dikamar, Arjuna masih tertidur dengan posisi yang sudah berubah, ia tertidur terlentang di atas sofa sambil melipat kedua tangannya. Violet mendatanginya lalu berjongkok.
"Hey bangun, apa kamu mau tidur seharian? kata mama mu, hari ini kita harus membeli pakaian pengantin, perhiasan, dan lainnya."
"Hm."
"Cepat bangunlah."
"....."
"Atau ku siram kamu dengan air."
Arjuna perlahan membuka matanya lalu duduk dipinggir sofa.
"Akhirnya kau bangun juga."
"Apa kau akan menyiram ku?."
"Karena kau sudah bangun, aku tidak akan menyiram mu."
Baru saja Arjuna berdiri dan hendak melangkah, Violet merentangkan tangannya hingga Arjuna tak bisa kemanapun.
"Apa?."
"Tubuhmu panas, kamu sakit?."
Arjuna tak menjawab dan berusaha pergi dari hadapan Violet.
"Jawab dulu."
"Kamu tak akan peduli apa aku sakit atau tidak."
"Jangan asal menebak orang! tentu saja aku peduli padamu! aku ini masih punya rasa manusiawi dan kamu itu akan menjadi suami ku! berhentilah asal menebak."
Arjuna menatap manik mata Violet, ia berusaha mencari kebohongan dari kata-katanya, tapi ia tak menemukannya.
"Oh."
"Cepatlah mandi, aku akan mengawasi mu hari ini dan gunakan air hangat saat mandi."
"Hm."
Dengan wajah datarnya, Arjuna masuk kedalam kamar mandi.