
"Hueee.. ayah dan kak Clea curang! aku akan bilang pada ibu."
Bruk.
Johan terjatuh karena berlari tak lihat jalan, tapi untungnya Violet dengan cepat mendatanginya lalu menggendongnya.
"Hiks ibu.."
"Kenapa..?"
"Ibu hiks tadi ayah dan kak Clea curang hiks."
"Curang?."
"Hiks iya."
"Sudah jangan menangis lagi, dulu siapa yang bilang sudah besar dan janji tidak akan menangis hm?."
"Itukan dulu ibu.."
"Tetap saja sayang, janji adalah hutang. Jadi jika Johan tidak bisa menepati janji, maka tidak usah berjanji okay?."
Johan mengangguk lalu mengusap air matanya.
"Aku tidak akan menangis lagi, aku akan tetap pada janjiku."
"Bagus. Kalau begitu, Johan mau makan bersama ibu?."
"Mau!."
"Aku mau."
"Kau tidak usah ikut, buat saja sendiri."
"Kau, bukannya ingin berdamai?."
"Tentu saja ingin."
"Kalau begitu biarkan aku ikut makan."
"Aku juga ya adik ipar."
Violet menghela nafas dan membiarkan mereka ikut makan bersamanya.
"Arjun, katanya mama.. mama akan terus menginap di rumah om."
"Kenapa?."
"Ya.. aku juga tidak tahu, tapi mungkin biar kalian akur, mama kan tidak suka pertikaian."
"Mungkin saja."
*******
Selesai makan, Violet membuat sebuah sketsa desain gaun yang akan ia pamerkan disebuah acara perlombaan.
"Apa yang kamu lakukan? cepat buatkan aku kopi."
"Kamu tidak lihat? aku sedang sibuk, suruh pembantu saja."
"Tidak."
"Jika tidak mau, buat saja sendiri."
"Tch, cepat. Aku tidak ingin menunggu lama."
"Diam lah, aku sedang fokus."
"Bocah!."
Violet terkejut karena Arjuna berteriak disebelah telinganya.
"Apa? kamu ingin membuatku mati huh?! jika ingin kopi tidak usah berteriak dan bersikap kasar."
Ia berdiri lalu pergi membuatkan Arjuna segelas kopi dengan perasaan marah.
"Dasar om-om pemaksaan, dia pikir dia siapa? tch, desain ku hampir selesai tapi dia malah mengangetkan ku dan jadi tercoret, ish.. aku ingin sekali menampar, menginjak, dan memukulnya."
"Apa yang sedang kau gumam kan?!."
"Tidak ada!."
"Jika tidak ada, cepatlah!."
"Ini sudah selesai! jika kau ingin cepat, melompatlah dari atas sana!."
"Apa kau ingin aku mati huh?!."
"Tidak, tapi itu lebih baik daripada kau terus menyuruhku seperti pembantu!."
"Dasar bocah!."
"Dasar om-om, wlee!."
Violet mencibirkan bibirnya kemudian segera pergi menuju kamar. Dikamar, ia menaruh kopi diatas meja Arjuna lalu pergi ke balkon untuk melanjutkan rancangannya, tapi..
"Hei, apa kau tau dimana sketsa desain ku?."
"Tidak."
"Aih.. ayolah, aku malas membuatnya kembali. Ah sudahlah.. mungkin aku tak di perbolehkan mengikuti lomba itu."
"Ibu!."
Pintu pun terbuka.
"Ibu, apa desain ini milikmu?."
"Ah iya benar, dari mana kamu mendapatkannya? dan kenapa baju mu kotor?."
"Aku mendapatkannya berada di taman, dan tadi aku bermain lalu terjatuh, makanya bajuku menjadi kotor." alibi Johan. Realitanya bukanlah seperti itu, melainkan tadi ia melihat kertas terbang dengan gambar yang ia kenal, kemudian ia mengejarnya hingga terjatuh.
"Benarkah?."
"Iya.."
"Terimakasih Johan dan jangan lupa setelah ini mandi, okay?."
"Okay."
Violet mengacak-acak rambutnya lalu kembali melanjutkan desainnya itu. Sebenarnya ia hanya tinggal menghapus coretan nya dan sedikit memperbaiki sketsanya dibagian dadanya saja.
"Ah iya, aku pinjam peraut mu."
"Tidak ada."
"Huh?! tidak ada?! kamu bercanda kan? mana mungkin orang kaya seperti mu tidak ada benda kecil itu, apa mungkin jika pensilnya tumpul kamu membuangnya?."
"Berisik, pergi beli sana."
"Hari sudah mau hujan, nanti jika aku sakit bagaimana? kau mungkin akan melantarkan ku, tanpa memberikan makan sedikit pun dan hanya memberiku obat dan obat, setelahnya kau benar-benar akan melantarkan ku dibawah kolong jembatan. Menyedihkan sekali."
"Kamu berpikir terlalu jauh bocah, aku tak seperti itu kepada orang lemah."
"Jadi maksudmu aku ini lemah?."
"Menurutmu?. Kamu itu bocah ingusan yang lemah dan merepotkan."
"Tch, orang ini. Jika kau bukan ayahnya Johan, akan ku injak-injak dan ku siksa." gumam Violet.
"Apa yang kau gumamkan?."
"Apa disini ada katana? aku ingin membunuhmu." katanya sambil tersenyum seram.
"Ada, tapi sudah ku jual."
"Itu namanya sudah tidak ada! kau ini bagaimana, lama-lama kesabaran ku akan habis jika begini terus."
"Aku tidak pernah melihatmu sabar."
"Itu karena kamu menjengkelkan dan tidak istimewa."
"Jadi? aku ini apa? didalam hatimu?."
"Perebut keperawanan wanita."
"Oh? tapi kamu terlihat menikmatinya saat bermain bersamaku, diwaktu itu dan waktu--"
"Cukup!."
Violet mengambil handset-nya lalu memakainya. Ia mengatur dengan volume yang sekiranya ia tak mendengar suara Arjuna lagi.
"Jangan menggangguku dan jangan melepas handset ku diam-diam, dasar mesum."
Arjuna menyunggingkan senyum miringnya. Ia berdiri lalu melepas handset Violet secara diam-diam lalu meniup telinganya dan sedikit mendesah. Violet merasakan dan mendengar sesuatu di telinganya, bulu kuduk nya langsung berdiri dan pikirannya kembali terganggu.
"Sayang.."
Violet berdiri lalu berbalik sambil menutup kedua telinganya..
"Kamu.. apa yang kamu lakukan?."
"Aku hanya melakukan apa yang suami lakukan."
"Ka-kamu.."
Arjuna menyingkirkan kursi yang menghalangi jalannya. Ia perlahan maju lalu mengurung Violet.
"Diluar sudah hujan, mau yang hangat tidak hm?."
"Ak-aku.."
"Apa..?"
"Kyaaaaa!!! kamu membuatku gila!.
"Itu bagus. You want something hot from me, baby?."
"No! i do not want to!."
"Why, baby?."
Arjuna semakin mendekatkan wajahnya pada Violet.
"Pergilah, ak-aku ingin menyelesaikan desain ku."
"Bukankah bisa nanti saja?."
"Kamu.."
Cup.