
Keesokan paginya pukul 07.30 Violet terbangun dengan seluruh tubuhnya yang terasa pegal.
"Dia itu manusia atau bukan?."
"Awwss.."
Violet melihat sekitar, dimana dia?.
Tok tok tok
"Masuk."
Seorang pembantu masuk kedalam kamarnya dengan membawa nampan.
"Sarapannya Vio."
"Taruh saja diatas meja."
Ia menaruh nampan itu lalu mendatangi Violet.
"Em terimakasih sudah menaikkan gaji kami."
"Ah tidak masalah, dan tak usah berterimakasih, aku menjadi merasa tak enak.".
"Ehem."
"Baiklah, aku permisi dulu."
Arjuna masuk dan melepas bajunya.
"Hei! lihat-lihat jika ingin melepas baju, aku masih disini!."
"Lalu kenapa? aku suamimu dan lagipula kamu sudah melihat seluruh tubuhku tadi malam."
"Diam lah."
"Ngomong-ngomong dari mana? kenapa berkeringat?."
"Ini hari minggu, aku harus berolahraga."
"Ohh."
"Makan makananmu sebelum dingin."
"Tidak sampai."
Arjuna melirik kearah Violet yang sedang sibuk memijit ekor punggungnya. Akhirnya ia mendatanginya lalu duduk disebelahnya.
"Makan."
"Tanganku pegal."
Arjuna menghela napas kemudian menyuapi Violet makan. Setelah makan, Violet membersihkan tubuhnya lalu pergi bersama Arjuna ke taman untuk relaksasi.
"Hei, kamu ini mirip om-om cabul tahu tidak."
"Oh?."
"Hei belikan aku ubi cilembu rebus."
"Dimana?."
"Ituuu..."
"Berapa?."
"Aku ingin 2."
"Hm."
Baru Arjuna meninggalkannya, mata Violet mengarah ke sebuah keluarga.
"Wleee tidak kena haha, kalau kamu mau ambilah sendiri."
"Ibu! kakak nakal! kembalikan Titi ku!."
"Sudah-sudah, Karen cepat kembalikan bonekanya."
"Baiklah bu. Ini adikku sayang.. jangan menangis lagi ya."
"Ayah ibu, kita akan ke taman bermain kan?."
"Iya sayang.."
"Yeay! Timy, kita akan mencoba semua permainan, kamu suka?."
"Hum."
Violet tersenyum melihat keluarga itu, membuatnya teringat kembali dengan keluarga aslinya, ia ingin mengulang semua momen bersama kedua orangtuanya.
Lamunannya pudar ketika Arjuna menepuk pundaknya, sejak kapan ia sampai dan duduk disebelah Violet?.
"Melamun apa?."
"Tidak ada. Mana ubi ku?."
Arjuna memberikan plastik bening itu kepada Violet, gadis itu menerimanya, mengupas kulit ubi itu lalu memakannya.
"Manis sekali, kamu mau?."
"Tidak."
"Ya sudah jika tidak mau."
******
Setelah cukup lama berjalan-jalan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya dirumah, ternyata Clea dan Johan juga sudah pulang, mereka sedang asik membuat sesuatu.
"Kami pulang."
"Oh, kalian darimana saja?."
"Dia mengajakku jalan."
"Lalu.. apa tadi malam kalian--"
"Seharusnya kau sudah tahu itu." sela Arjuna.
"Oh.. baguslah."
"Apa yang sedang kalian lakukan?."
"Kami sedang membuat mochi ice, apa kamu ingin membuatnya juga?."
"Apa boleh?."
"Tentu saja, kenapa tidak?."
"Ibu lihat! aku berhasil membuat mochi berbentuk ikan!."
"Wah keren.."
"Hehe.."
Violet mendatangi Clea dan Johan, sedangkan Arjuna duduk disofa dengan santainya. Selama mereka bertiga membuat mochi, Violet sedikit merinding karena Clea senyum-senyum sendiri, entah apa yang membuatnya begitu.
"Ibu, kak Clea senyum-senyum sendiri seperti itu karena--"
"Karena aku dan dia resmi berpacaran!."
"Errrr.. bisa kalian perlahan bicaranya?."
"Begini-begini adik ipar, kamu masih ingat cerita kemarin sore kan?."
"Iya.. lalu?."
"Aku dan dia resmi berpacaran, itu karena Johan, ah.. dia mempermudah segalanya."
"Eh? benarkah begitu?."
"Tentu saja benar."
"Tapi kamu kemarin malam memaksaku."
"Ayolah Johan jenius, itu karena aku sudah gila karenanya."
"Cinta memang menyulitkan ku."
"Ibu ibu, tentu saja bisa dan aku hanya memakai trik sederhana, aku tak menyampurkan apapun."
"Aku ibumu tapi aku tak tahu jalan pikiranmu."
"Ibu ingin tahu saja."
Violet menggelengkan kepalanya lalu meminum segelas air karena lehernya terasa kering.
"Sayang." panggil Arjuna pada Violet.
"Uhuk uhuk."
"Minum perlahan."
"Ka-kamu.. sejak kapan jadi seperti ini? apa kamu sakit?."
"Tadi, aku tidak sakit."
"Ehem, sudah mulai ya?."
"Kami itu, anu--"
"Sayang.."
"A-apa?."
"Kemari."
"Aku sedang sibuk, nanti saja."
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Arjuna, Violet pun melirik suaminya itu, ternyata ia sedang menghidupkan rokok.
"Berhenti, jangan merokok, aku akan kesitu."
Violet mencuci tangannya lalu pergi kepadanya. Manik mata mereka saling bertemu.
"Kenapa?."
"Bicara dikamar saja, disini ada penguntit."
"Oh, baiklah."
Arjuna berdiri kemudian menggendong Violet ke kamar, senyum sumringah mengambang di wajah Clea dan Johan. Dikamar, Arjuna mendudukkan Violet di sofa, lalu melepas sepatu heelsnya.
"Kaki mu lecet, jika dibiarkan terus akan berdarah."
Arjuna mengambil kotak obat, ia sedang mencari betadine juga plester. Setelah dapat, ia meneteskan sedikit betadine sambil meniupnya secara perlahan, kemudian ia menempelkan plester pada kaki Violet.
"Perih?."
"Tidak.."
Tentu saja tidak perih karena dari tadi Violet berpikiran terlalu banyak, detak jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang sedikit memerah.
"Baiklah, sudah selesai. Pakailah sandal mu."
Violet hanya mengangguk.
"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya berubah seperti ini? apa dia bercanda? atau.. hanya kasihan padaku?."
Pletak!
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, apa sikapku ini mencurigakan?.
"Ya.. sepertinya.."
"Aku berubah karena mu, aku tidak bercanda ataupun kasihan padamu. Aku hanya mencoba menjadi orang yang berbeda di depanmu."
"Kamu.. ada apa denganmu? aku tak mengerti perkataanmu."
"Lupakan, intinya.."
"Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu."
Arjuna menatap wajah Violet.
"Darimana kamu tahu aku ingin berbicara seperti itu?."
"Itu mudah, aku bisa membacanya dari matamu."
"Apa terlihat jelas?."
"Sangat jelas."
"Tidak mungkin."
"Tentu saja mungkin, jadi jangan sembunyikan apapun dariku."
"Oh hei, bisakah menggendongku lagi ke kasur? kakiku sakit jika berjalan."
Tanpa berlama-lama, Arjuna menggendong Violet ke tempat tidur, ia juga merebahkan tubuhnya tepat disebelah Violet.
"Uhuk."
"Kenapa?."
"Tidak, aku hanya tersedak debu."
"Tidak masuk akal."
"Nyatanya begitu."
"....."
"Aku ingin tidur dulu."
"Apa kerjaan mu hanya tidur?."
"Tidak, ini karenamu aku mengantuk."
"Aku?."
"Iya, atas apa yang kamu lakukan semalam."
"Aku tidak melakukan apapun."
"Berhentilah berpura-pura."
"Aku hanya melakukan apa yang biasa dilakukan pengantin baru."
"....."
"Apa dia sudah tidur?."
Arjuna menyingkirkan tangan Violet yang menutupi wajahnya.
"Ah benar saja, dasar tukang tidur."
"Tapi sayang.."
"Tunggu, apa yang aku katakan barusan? aku.. menyukai bocah ini? secepat itu? tidak mungkin."
Arjuna turun dari tempat tidur dan pergi membersihkan tubuhnya. Selama ia tak melihat wajah Violet entah bagaimana, ia merasa rindu padanya. Apa cintanya mulai tumbuh? sepertinya begitu.
"Aku.. sial, apa yang membuatku tertarik padanya? jelas-jelas dia bukan tipeku."
"Tapi.. rasanya aneh, seperti.. ada yang menarik ku dan dia bersama."
"Apa kami.. memang berjodoh? atau.."
"Ah sudahlah Arjuna.. kamu akan menjadi gila karena terus memikirkannya."
"Hei.. apa yang sedang kamu katakan? bisakah segera keluar dari kamar mandi? kamu sudah 2,5 jam didalam sana, aku ingin buang air kecil, aku tak tahan."
Clek.
"Kamu begitu lama didalam, apa yang sedang kamu lakukan? kamu bisa masuk angin jika terlalu lama."
Violet kemudian masuk kedalam kamar mandi, setelah keluar, ia turun kebawah. Sepi.
"Kemana yang lain? aku lapar, hoam."
Ia berjalan menuju dapur dan memasak makanan untuknya dan mereka, walaupun sebenarnya ia masih mengantuk.