My spoiled husband

My spoiled husband
1



Hari hampir sore, Violet pun pulang kerumahnya dengan berjalan kaki, karena Wenddy ada wawancara sekitar 1 jam yang lalu. Tetapi saat diperjalanan pulang, ia melihat Joni Chandrawa, adik tirinya. Joni seperti sedang melakukan kekerasan pada seorang gadis kecil. Violet mendatanginya dan menampar sang adik tiri.


"Jangan berbuat kasar sama dia! dia itu perempuan, bukan laki-laki!."


Joni berdecih dengan tangan dilipat.


"Memang kamu siapa aku? kakak aku aja bukan, jadi tidak usah mengaturku!."


"Kamu itu adik--"


Bruk!


"Berhenti memanggilku adik! aku benci kau memanggilku dengan sebutan itu!."


Violet sedikit membuka mulutnya untuk meregangkan otot di rahangnya. Violet mendatangi gadis kecil yang tengah tersungkur itu dan berkata.


"Masih bisa lari kan?."


Gadis kecil itu mengangguk kecil.


"Sana lari, hati-hati ya.."


"Kakak tidak apa-apa..?" tanya gadis itu polos.


"Tidak.."


Gadis kecil itu berdiri lalu berlari menjauhi mereka.


"Heh, mau menjadi jagoan? huh?."


"Berhenti berbuat kasar atau--"


"Atau apa? mau bilang sama papa kalau aku berbuat kasar? iya?!."


"Basi tahu tidak?!." lanjutnya.


"Hei dengar, seharusnya kalian itu bersyukur bisa diterima papa dirumah kami, atau tidak kalian tetap menjadi SEORANG GELANDANG YANG TIDAK TAHU MALU." tekan Violet pada kalimat terakhirnya.


"Cari mati ya?!.


Joni maju dan ingin membogem Violet, namun aksinya terhenti karena Violet lebih dulu menendang perutnya dan bogem rahangnya dengan kuat.


"Kamu pikir aku lemah? huh?. Jangan samakan aku dengan kalian, camkan baik-baik."


Baru saja Violet membelakangi Joni, Joni memukulnya hingga tak sadarkan diri dan meninggalkan kakak tirinya terkena rintikan hujan.


...~`• - • `~...


Nyaman, empuk, dan hangat. Itulah yang dirasakan Violet saat ini dengan mata yang masih setia terpejam. Ia tidak sadar jika ia sedang berada dirumah orang lain saat ini.


"Kau, cepat bangun. Jangan berpura-pura tidur."


Suara berat dan sedikit serak itu masuk dengan sopan ditelinga Violet. Hingga ia mengerutkan keningnya dan matanya terbuka. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sisi ruangan itu.


"Siapa kamu?!." ujarnya kepada pria yang duduk membelakangi dirinya.


"Tunggu, aku.. Aku dimana?!!."


"Hei jawab aku, dimana aku sekarang? siapa kamu? berani-beraninya membawakan ku kesini."


"Berisik. Ini rumahku."


Violet turun dari kasurnya dan mendatangi pria itu, matanya membulat sempurna melihat siapa yang berada dihadapannya saat ini. Arjuna Gunadarma.


"K-kamu!."


"Hm."


"Akhirnya aku menemukanmu! berani sekali kamu mengambil keperawanan--"


Hoek.


"Hei jangan muntah di lantai ku! bocah!."


Violet ditarik masuk ke kamar mandi oleh Arjuna. Beberapa menit kemudian Violet keluar dan menatap tajam kepada Arjuna.


"Gugurkan."


"Apa? kata siapa aku hamil?."


Arjuna melemparkan benda kecil kearahnya. Sebuah test pack. Violet lantas menatap bingung pada Arjuna.


"Apa?."


"Cek. Itu akurat."


"Aku tidak--"


"Cek sekarang!!."


Violet berdecak kesal dan kembali masuk kedalam kamar mandi dan mengeceknya. Ia terdiam setelah mengetahui hasilnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan bibir yang mengerucut.


"Positif.." gumam Violet.


"Aneh, kena cepat sekali aku hamil? sangat tidak masuk akal."


"Gugurkan sekarang."


"Tidak mau! ini anak ku! aku akan mempertahankannya!."


"Terserah, tapi setelah ini jangan menemuiku."


"Siapa yang mau menemuimu huh?!."


Violet keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan sangat kuat, setelahnya ia pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal.


"Dasar, dia pikir apa? main gugurkan saja!."


Violet mengelus perutnya yang masih rata.


"Dan sepertinya.. kita harus pergi dari rumah itu agar kamu aman, sayang."


Violet bergegas pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia kembali mendengar ocehan dari ayahnya itu. Tapi ia tak memperdulikannya dan memilih pergi ke kamarnya.


Ia mengambil koper juga beberapa tas nya lalu memasukkan semua pakaian dan beberapa barang lain miliknya.


"Selamat tinggal kamar.."


Ia pun keluar dari kamar dan pergi dari rumahnya, untungnya mereka berada dikamar masing-masing jadi ia tak mendengar ocehan apapun sebelum pergi.


...~`• - • `~...


Violet berjalan cukup jauh dan berhenti disebuah apartemen yang ia sewa sebelum pergi dari rumahnya. Apartemen itu sesuai ekspektasi nya, ia merasa puas.


Ia masuk dan merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk itu.


"Ah.. enaknya.."


"Untung saja dia memberiku black card waktu itu, senangnya.."


"Semoga dia tidak membekukan black card ini."


Ia merasa mengantuk dan matanya perlahan tertutup.


...~`• - • `~...


Pagi pun tiba, Violet masuk kedalam kamar mandi dan berendam di bathtub. Beberapa menit setelahnya, ia keluar dan merapikan apartemen itu.


Krukk..


Perutnya berbunyi, untungnya pekerjaannya sudah selesai. Ia berganti pakaian dan pergi dari rumah untuk membeli bahan makanan.


Bruk


Seorang pria menabrak Violet. Gadis itu berdecak kesal.


"Hei, punya mata tidak?."


Pria itu berbalik.


"Kamu?! kenapa kamu ada di setiap tempat? kamu jin?!."


"Ini mall milikku. Dan kau ketahuan memakai black card ku."


"O-oh, lalu kenapa jika aku memakainya? itu adalah pemberianmu atas tanggung jawab waktu itu, jadi tak masalah."


"Tolong jangan bekukan dan jangan mengambilnya." lanjutnya


"Aku tidak akan mengambilnya kembali dari bocah ingusan sepertimu. Isi uang didalamnya hanya sekitar 500 M. Jangan terlalu boros, aku tak akan memberikannya lagi dan jangan biarkan kita bertemu atau aku akan menggugurkan kandungan itu."


"500 M? astaga.. bahkan papa hanya memberiku 100 RB perbulan."


"Oh."


Arjuna pergi meninggalkan Violet yang beberapa kali menerjapkan matanya kearah black card itu.


"Bisa dipakai beberapa tahun kalau begini."


Violet kembali berbelanja sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang, karena perutnya sangat lapar.


...~`• - • `~...


Memang paling enak adalah makanan buatan sendiri, tak heran jika semua orang memilih memasak sendiri dirumah, selain kita tahu bahan apa saja yang kita masukkan, kita juga akan merasa aman dari yang namanya keracunan makanan.


Drrrtt drrrtt..


Violet mengambil ponselnya. Wenddy.


"Halo Dy?."


"Kapan kamu pergi dari rumah? kenapa tidak bilang? kamu sekarang tinggal dimana? aman tidak?."


"Tenang-tenang.. satu-satu dulu.."


"Kapan kamu pergi?."


"Kemarin."


"Kenapa tidak bilang?."


"Sebenarnya ingin bilang, tapi lupa."


"Sekarang tinggal dimana?."


"Apartemen. Jalan Garuda, blok A."


"Aman tidak disana sendiri?."


"Aman kok. Tenang."


"Aku boleh kesana?."


"Silahkan, toh tidak akan ada yang melarang. Aku dan dia sekarang tinggal di apartemen."


"Dia? presdir Arjuna?."


"No. But, my baby.."


"Congratulation.. aku akan kesana setiap hari."


"Haha.. ayolah, itu berlebihan. Datanglah sesukamu tapi jangan terlalu sering, nanti aku akan bosan melihat wajahmu terus-menerus."


"Baiklah. Aku tutup telepon nya dulu. Bye.."


Tuttt tuttt..


Violet kembali memakan makanannya dengan matanya yang sibuk menonton televisi.