My spoiled husband

My spoiled husband
20



Clek.


"Sudah selesai? cepat pakai pakaianmu. Oh ya, kata Zico, kau langsung ke perusahaan TS saja." ujar Violet sambil membalas pesan teks dari teman-temannya.


Tak butuh waktu lama, Arjuna sudah selesai memakai pakaiannya, tinggal dasinya saja yang belum terpasang.


"Sudah? sini, biar aku pasangkan."


"Kenapa rasanya seperti kau ingin mengusirku?."


"Mengusir bagaimana?."


"Kau begitu bersemangat setelah tahu aku baru akan pulang 3 hari atau seminggu lagi."


"Jangan konyol."


"Sudah. Pergilah.. aku bisa menjaga diriku dan aku tidak akan pergi ke NDC 25 besok seperti yang kau katakan."


"Kau yakin tidak ingin ikut dengan ku?.''


"Aku sedang mengandung dan pastinya mudah lelah, jadi tidak mungkin aku ikut."


"Baiklah."


"Tersenyumlah agar pekerjaan mu lebih cepat selesai dan senyuman itu adalah perbuatan baik."


"Kenapa masih murung? senyum..."


"Ibuuu..."


"Eh? ayah ingin pergi kemana?."


"Ayahmu ada urusan pekerjaan."


"Apakah lama?."


"Lama."


"Jaga ibumu ya sayang, kalau dia tidak beristirahat dengan baik, marahi saja."


"Baik, Pak!."


"Dadah Johan sayang.."


"Tunggu."


"Apa?."


"Mendekat lah."


"Hm?."


Cup.


"Hati-hati, kau juga harus menyempatkan untuk beristirahat."


"Pasti."



"Apa saya terlambat?."


"Ya, bos sangat-sangat terlambat, aku ingin menegur mu tapi kau adalah bos ku dan taruhannya pasti bonus setiap bulan ku."


"Tidak, Pak. Oh, presdir Darendra ingin bertemu anda sejak tadi, mari."


"Hm."





Keesokan paginya, Violet mendapatkan panggilan video dari seseorang.


Drrtt drrtt..


"Siapa yang meneleponku pagi-pagi begini? ganggu orang tidur saja."


Pak harimau.


"Dia? menelpon sepagi ini? yang benar saja."


^^^Ada apa meneleponku?.^^^


Tidak ada.


^^^Baiklah akan ku tutup.^^^


Tunggu.


^^^Apa?.^^^


Aku merindukanmu.


^^^Kau jangan bercanda, ini baru sehari.^^^


Aku bersungguh-sungguh.


^^^Ya ya, terserah mu.^^^


Apa itu Johan?.


^^^Bukan, dia selingkuhan ku.^^^


Kau!.


^^^Hahaha, hanya bercanda. Iya, dia Johan, dia bilang selama tidak ada kau, dia lah yang bertanggungjawab menjaga ku.^^^


Baguslah.


^^^Sudah ya, aku ingin kembali tidur, aku mengantuk.^^^


Pemalas.


^^^Aku tidak pemalas, aku hanya mengantuk, kau sangat kurang kerjaan menelpon ku pagi-pagi buta.^^^


Disana sudah jam setengah 4, aku tahu itu, cepat mandi.


^^^Dingin!.^^^


^^^Kau menyebalkan.^^^


Tapi kau mencintaiku bukan?.


^^^Diam atau ku pecahkan ponsel ini.^^^


Pecahkan saja.


^^^Ish. Aku tidur saja.^^^


Have a nice dream, babe..



05.10


Sayang, bangun.. jangan biarkan dia terlambat.


Sayang..


Hei.


^^^Hm... iya aku tahu itu.. hoam..^^^


^^^Aku matikan, baterainya hampir habis.^^^


tutt tuttt.


"Eh kepencet, ah sudahlah.. biarkan saja."


Violet mengecas ponselnya lalu membangunkan Johan yang masih tertidur pulas.


___________


Tutt tuttt..


"Apa-apaan dia? aku belum selesai berbicara dan dia sudah menutup teleponnya? Aish.."


"Pak, ini kopi--"


"Tidak perlu, untukmu saja."


"Eh? Bukankah bapak tadi meminta ini?."


"Saya sudah tak selera."


"Apa.. karna nona? dia menutup teleponnya tanpa aba-aba dari bapak?."


"Hm."


"Pak, seperti nona tak sengaja memencet tombol matikan."


"Tahu darimana?."


"Saya dan istri saya juga dulu begitu, saya kira dia selingkuh, karena dulu tiba-tiba menutup teleponnya dan raut wajahnya juga seperti panik. Tapi ternyata, dia memang sengaja menutupnya tapi bukan karena ada selingkuhannya, tetapi karena dapurnya terbakar, dia lupa jika dia memasak sesuatu." jelas Zico panjang lebar.


"Begitu."


"Benar."


"Oh, kira-kira kapan kita akan kembali?."


"Kemungkinan setelah ini, karena permasalahan kali ini dapat cepat diatasi dan pesawat sudah disiapkan."


"Baiklah."


Slurphh...


"Pak."


"Hm?."


"Bukankah kata bapak kopi itu untuk saya? tapi kenapa bapak minum?."


"Saya lupa, buat saja yang baru."


"Sabar, dia adalah bos mu, Zico." gumam Zico.


"Apa yang kau gumamkan?."


"Eoh? ti-tidak ada."


_________


"Ibu! aku berangkat dulu!."


"Pelan-pelan, tidak usah lari-lari begitu."


"Kak Clea ayo!!."


"Iya-iya."


Selama mereka pergi, Violet diam-diam membersihkan seluruh sudut di rumah itu. Ia bosan jika hanya berdiam diri saja seperti Mila. Sebenarnya dia sudah dapat pekerjaan atau belum?.


"Non, biar saya saja yang membersihkannya."


"Ahaha.. tidak, tidak apa, aku bisa melakukannya sendiri."


"Tapi tuan--"


"Jangan memberitahukannya pada dia."


"Hei, Vio, apa kau ingin berbelanja dengan ku? aku memiliki banyak uang." ujar Mila sambil memamerkan duitnya.


"Tidak, tapi.. darimana kau mendapatkan sebanyak itu? kau bahkan belum bekerja."


"Itu rahasia."


Tidak masuk akal bukan jika seseorang tiba-tiba mendapatkan uang sebanyak itu tanpa kerja dan itu hanya semalam.


"Non, ini alat pembersihnya."


"Oh, terimakasih."




09.46


"Hatcuu!."


"Hmm! debu disini banyak sekali."


"Hatcuu!."


Setelah itu seseorang menutup kedua matanya. Tangan itu besar, berurat, namun lembut.


"Siapa? jangan menggangguku."


Violet menarik tangan itu agar pandangannya tak terhalang, ia juga langsung membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya ia ketika Arjuna berada tepat di depannya.


"Kau?! kau kenapa sudah pulang? apa ada sesuatu yang tertinggal?."


"Tidak ada yang tertinggal, tapi pekerjaan ku sudah selesai."


"Cepat sekali, bukankah waktu itu kau bilang padaku jika--"


"Hm? kau bersih-bersih?."


"Aku--"


Pletak!.


"Aww.."


"Aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat saja, tapi kenapa kau malah membandel seperti anak kecil huh?."


"Aku hanya bosan.."


"Kau memang tidak bisa diam."


"Itu kau tahu."


"Kenapa dia harus pulang sekarang? menyebalkan sekali.."


"Apa yang kau katakan?."


"Debu disini banyak sekali, aku bisa terus-terusan bersin jika begini."


"Pembohong." jawabnya sembari menarik hidung Violet.


"Aku tidak berbohong."


"Sudahlah, ayo temani aku tidur."


"Tidak, kau tidur saja sendiri, tidak perlu ditemani, kau itu sudah besar."


"Aku tidak ingin ada kata penolakan."


Tanpa aba-aba, Arjuna langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar. Aih.. pemaksaan bukan?.