My spoiled husband

My spoiled husband
4



Hari hampir siang, tetapi Violet masih saja tertidur dan suhu tubuhnya sudah tak lagi panas.


"Ibu bangun.."


Suara itu membuat Violet sontak terbangun dan melihat kearah Johan yang berada disebelahnya.


"Ini jam berapa?."


"Em.. 10.30."


"Ah terlambat."


"Terlambat kemana bu?."


"Ke pemakaman kakekmu."


"Tunggu, kenapa kamu masih disini? bukannya harus berangkat sekolah?."


"Ayah yang--"


"Aku yang menyuruhnya untuk libur hari ini, masalah sekolahnya biar aku yang urus." sahut Arjuna yang baru datang dengan membawa nampan berisi 2 mangkuk bubur dan 2 segelas susu.


Ia menaruh nampan itu diatas meja dan duduk disebelah kasur Violet.


"Johan, makan dulu."


"Iya yah."


"Ingin makan sendiri atau disuapin?."


"Makan sendiri saja yah."


Violet yang sedang memijit kepalanya berkata.


"Aku tidak ingin makan."


"Tapi ini enak bu."


"Oh ya?."


Arjuna mengambil satu mangkuk yang tersisa, ia mengambil sesendok lalu meniupnya.


"Aku bilang aku tak--"


"Makan."


Arjuna menyodorkan sendok itu kearah Violet, gadis itu mendengus kesal. Dengan terpaksa, Violet duduk dan memakannya.


"Em.. yah."


"Hm..?"


"Tapi ayah suka tidak sama ibu."


"Suka." gumam Arjuna


"Uhuk uhuk."


"Pelan-pelan." ujar Arjuna sambil memberikan segelas susu.


"Astaga, tenang Violet, tenang. Ini pasti jebakan."


"Suka tidak yah?."


"Iya, ayah suka ibumu."


"Tidak usah berbohong." timpal Violet.


"Aku serius sayang.."


"Aku sudah gila, jangan sampai dia mendengar detak jantungku.".


"Ehem, oh ya? aku tidak percaya."


"Ya sudah."


"Ayah, jangan sampai ibu mencari yang lain lho ya, ayah harus buktikan."


"Kok jadi bahas ini sih."


Violet menggeleng kepalanya saat Arjuna menyodorkan sendok ke mulutnya. Bukan Arjuna namanya jika tidak keras kepala, ia tetap menyuruh Violet membuka mulutnya.


"Ish, aku bilang tidak. Aku kenyang."


"Kamu baru makan sedikit."


"Ibu makannya sedikit yah."


Johan nampak menikmati bubur buatan Ayahnya itu.


"Minggir."


Violet menyuruh Arjuna minggir, dan Arjuna pun menurut. Violet membuka lacinya dan memakan 2 butir obat.


"Obat apa itu?."


"Ini--"


"Itu obat sakit kepala dan obat maag, benarkan bu."


Arjuna menaikan alisnya, bagaimana Johan bisa tahu semua tentang Violet? bahkan hal kecil sekalipun.


"Johan, darimana kamu tahu?." tanya Violet.


"Aku anak ibu, jadi wajar jika tahu."


Violet menghela nafas dan kembali fokus untuk meminum obatnya.


Ting tong.


"Biar aku saja yang buka, ayah dan ibu disini saja."


Johan pun keluar dari kamar Violet dan mengecek siapa yang bertamu, Dengan hati-hati ia membuka pintu itu hingga seseorang membukanya dengan paksa.


"Aduh.. tanganku."


Johan mendongak dan menatap curiga dengan wanita dan lelaki didepannya. Recha dan Joni.


"Siapa kalian?."


"Kamu yang siapa?."


"Aku pemilik apartemen ini."


"Hei, anak kecil bukankah ini adalah apartemen Violet, si ****** itu."


"Violet itu nama ibuku, jangan memanggilnya ******!."


"Heh, ternyata dia sudah mempunyai anak."


"Lalu kenapa? kalian siapa? dan ada urusan apa?."


"Aku ingin bertemu ibumu."


"Ibu tidak ada dirumah."


Joni berjongkok dan memiting leher Johan.


"Lepaskan."


"Cepat panggilkan ibumu atau-- Akh!."


Johan menggigit tangan Joni, ia ingin berlari dan ingin mengambil vas bunga tetapi kakinya ditarik oleh Recha dengan kuat.


"Aaaa! lepaskan aku! sudah ku katakan ibu tidak ada dirumah!. Jika kalian tidak melepaskan ku juga, kalian akan terjerat hukuman atas dasar kekerasan pada anak kecil!!."


Buk! buk!


Arjuna melayangkan satu pukulan di perut Recha dan satu di rahang Joni. Violet segera mendekap erat tubuh Johan.


"Bukankah sudah ibu ceritakan dulu?."


"Ah iya."


Johan langsunh tahu siapa wanita dan lelaki itu, karena Violet sudah menceritakannya dulu.


"Pergi dari sini sekarang juga jika kalian ingin selamat."


Recha dan Joni pun pergi meninggalkan mereka.


"Mereka?." tanya Arjuna singkat.


"Mereka ibu dan kakak tiri ku, entah apa yang terjadi hingga mereka ingin menemuiku."


"Ibu menjauh lah dari mereka, mereka itu orang jahat."


Violet mengacak-acak rambutnya lalu menggendongnya.


"Johan, kamu sama ayahmu dulu ya."


"Ibu ingin kemana..?."


"Ibu ada sedikit urusan, hanya sebentar tidak lama."


"Ikut."


"Dirumah aja."


Kemudian ia melihat kearah Arjuna.


"Ajak Johan berbelanja, terserah kalian ingin beli apa."


"Hm."


.


.


.


.


.


Violet mendatangi makam ayah dan ibunya, ia kira makam kedua orangtuanya itu berjauhan, ternyata tidak. Ia meletakkan buket bunga dikedua makam orangtuanya.


"Ma pa.. ini Violet, anak mama papa. Aku harap kalian bahagia disana, andai waktu bisa berputar kembali ya ma pa."


"Maafin sifat aku ke kalian, Violet sayang mama papa."


Violet meninggalkan makam orangtuanya dan memutuskan untuk pulang. Saat perjalanan pulang, Arjuna dan Violet berpapasan.


"Ibu!!." teriak Johan dari mobil Arjuna.


Violet hanya melambaikan tangannya, sesekali ia melirik Johan yang terus memandanginya sambil memakan es krim.


Sesampainya dirumah, Johan berlari masuk kedalam. Ia bilang kalau ia sakit perut.


"Om." panggil Violet.


Arjuna menoleh lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya."


"Om--"


"Jangan memanggilku om."


"Lalu? Paman?."


"Sayang."


"Pffftt. Apa? hey itu kedengarannya kurang cocok dengan usiamu."


"Tapi.. ya sudahlah, aku mengantuk."


Cup.


Violet mencium pipi Arjuna sekilas lalu tersenyum. Gadis itu berlari masuk menuju kamarnya lalu menguncinya.


"Astaga aku pasti sudah gila karenanya."


Violet berguling-guling diatas kasur mengingat jika ia mencium Arjuna terlebih dahulu. Arjuna? lelaki itu diam bagaikan patung, wajahnya semerah tomat sekarang.


"Gadis ini.."


Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


.


.


.


.


.


Sore harinya, Violet terbangun dan keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia menelungkup kan wajahnya, jujur saja ia masih mengantuk. Tetapi saat mencium aroma masakan Arjuna, ia rela bangun.


"Om.. bisa sisakan sedikit? aku ingin tidur lagi."


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan om."


"Baiklah-baiklah. Sayang.. aku ingin tidur.. sisakan sedikit makanan untukku.. okay? bye~"


Cup.


Wajah Violet memerah.


"K-k-kamu.." ujar Violet sambil menunjuk Arjuna.


"Kita seimbang dan kamu milikku selamanya."


Violet tak sanggup berada didepan Arjuna dan akhirnya ia pun lari masuk kedalam kamarnya, bagi Violet lelaki itu sangat tampan, sepertinya ia beruntung.


"Ibu! obat sakit perutku dimana?!." teriak Johan dari kamarnya.


"Diatas meja belajar tidak ada?!."


"Tidak ada!."


"Coba kamu cari di laci!."


Johan pun terdiam dan mencoba memeriksa laci meja sebelah kasurnya. Ternyata ada.


"Ada bu!."


"Baguslah, cepat diminum!."


Arjuna menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Ayah, ayo kita buat makanan. Aku lapar."


"Bisa? nanti malah terkena minyak panas."


"Humph, ayah meremehkan ku. Dulu waktu ayah tidak ada, aku yang sering membuatkan makanan untuk ibu."


"Ibumu yang menyuruhmu?."


"Tidak. Ibu tidak menyuruhku, aku sendiri yang ingin membuatkannya makanan."


"Okay.. ayo kita masak."


Arjuna dan Johan pun mulai memasak makanan. Johan terlihat lihai dalam memasak, didikan ibunya membuat ia bisa melakukan segala hal. Violet mengajarinya dengan lembut dan sabar, jika Johan salah, ia tak akan memukulnya tapi ia hanya akan menasehatinya saja.