
Beberapa menit kemudian, Violet sudah siap dengan gaun pengantinnya. Ia sama sekali tak gugup, sedikitpun.
"Aku iri padamu, adik ipar. Kamu sangat cantik."
"Ah, biasa saja.."
"Ayo kita keluar, dia pasti sudah menunggumu."
Violet mengangguk, ia digiring oleh Clea menuju halaman belakang rumah. Semua mata tertuju pada Violet, gadis itu tampak anggun dan berkharisma dimata mereka.
"Baik, saya mulai."
____________
Clea POV.
Sang pendeta memulai acara pernikahannya, semua lancar tanpa hambatan. Saat pelemparan bunga, Clea sudah siap siaga dengan tidak sabarnya.
"Satu, dua, tiga!."
"Aku dapat!."
Duak!.
"Awws.. haha dapat!."
"Dimana matamu? aku hampir jatuh kau tahu."
Clea menatap tajam pria berjas disebelahnya.
"Aku tak peduli, kau juga ingin bunga ini kan? hei.. tidak bisa, ini bunga milikku."
"Kau.."
"Apa, huh? jika kau terjatuh ya terjatuh, bukan tertabrak."
"Kau berani sekali."
"Aku tidak peduli.."
"Clea." panggil Arjuna
"Tenang saja, aku tidak akan membuat kerusuhan adik ku."
Clea pergi meninggalkan pria asing itu menuju Johan, yang sedang memakan kue bersama Rika. Sedangkan pria tadi, ia memanggil asistennya untuk mencari tahu tentang Clea.
"Membuat orang emosi saja."
"Kakak mau?." ujar Johan sembari menyodorkan sesendok kue.
"Ah, terimakasih."
"Manis kan?."
"Benar, manis dan aku suka rasanya."
Johan melirik Clea lalu menyenggol lengannya.
"Tenang saja, aku akan membantu kakak mendapatkan pria itu jika kakak mau."
Seperti tahu isi pikiran Clea, ia berkata seperti itu.
"Huh? ah, ba-baiklah."
Johan turun dari kursi dan menghampiri pria yang tengah berdiri dengan asistennya.
"Halo aman."
"Halo juga adik kecil."
"Namaku Johan, usia 4 tahun, anak dari ayah dan ibu." kata Johan sembari menunjuk kedua orangtuanya.
"Nama paman Varo. Usia 42"
"Aaa.. benarkah 42? terlihat masih seperti anak remaja, sama seperti kak Clea."
"Hmm.. paman Varo, apa paman ingin bermain bersamaku?."
"Tentu saja."
"Zi, urus apa yang aku katakan."
"Baik pak."
"Ayo paman."
Johan membawa Varo ke dekat kolam renang.
"Paman tunggu disini dulu, aku ingin ke toilet sebentar."
"Baiklah.."
Johan pergi dari tempat itu dan mendatangi Clea.
"Kak, kakak bisa berakting kan?."
"Tentu saja bisa."
Johan mulai membisikan sesuatu pada Clea.
"Apa? tapi aku tidak bisa berenang, jika aku tenggelam bagaimana?."
"Berlebihan."
"Kakak hanya harus mengikuti rencana ku, oke?."
"Hum.. baiklah."
"Oh iya, usianya 42."
"Baik-baik."
Clea pergi ke dekat kolam dan menyeburkan dirinya ke kolam renang, tapi sebelum itu ia melihat sekeliling, Tidak ada yang melihat.
Puk! puk! puk!
"To..long.."
Sesuai prediksi Johan, Varo berbalik lalu menyelamatkan Clea. Pria itu membawa Clea keluar dari kolam, setelah itu memompa dadanya.
"Uhuk uhuk."
Clea membuka matanya dan melihat kearah Varo.
"Bodoh, jika tidak bisa berenang maka menjauhlah dari kolam, jika ingin mati jangan seperti orang bodoh."
"Aku---"
"Paman? ada apa?."
"Dia hampir tenggelam."
"Ah, begitu." Johan menggaruk pipinya yang tak gatal.
Varo melepaskan jas nya dan memakaikannya pada Clea.
"Cuaca sedang dingin, nanti masuk angin."
"Kenapa om-om ini sangat mempesona?. Ah tunggu, kenapa malah memikirkannya? kau pasti sudah gila Clea."
Clea bangkit dan memutuskan untuk pergi ke teman-temannya saja, baru pertama kali ia merasakan detak jantung yang begitu cepat.
Clea POV end.
_______________
.
.
.
.
.
Malam harinya, Clea menceritakan semua tentang apa yang terjadi hari ini.
"Ehem, jadi jatuh hati pada pandangan pertama nih?."
"Iya begitulah.."
"Apa kakak--"
"Hei.. bukankah sudah ku bilang jangan memanggilku kakak? anggap saja kita ini seumuran."
"Ah iya, aku lupa."
"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan tadi?."
"Apa.. kau mengetahui namanya?."
"Aku lupa menanyakannya."
"Nomor ponsel?."
"Tidak ada."
"Ibu akwu adwa."
"Johan telan dulu makananmu."
Johan mengangguk.
"Ibu.. aku tahu siapa nama paman itu, umur, berat, tinggi dan nama perusahaannya, dan aku juga punya nomor paman itu."
"Benarkah? bagaimana bisa kau dapat nomor dan tahu punya perusahaan apa?." tanya Clea penasaran.
"Tentu saja bisa, aku kan akan kecil yang baik dan polos."
"Ah iya, anak kecil kan tidak mungkin akan berniat jahat."
"Kakak mau tidak."
"Iya-iya."
"Kalau begitu dengarkan baik-baik, 08xxxxxxxxxxx. Nama lengkapnya Varo Pamungkas Stevanus, 42 tahun, 65 kg, 179 cm, dan nama perusahaannya VAPS Company."
"Astaga otakmu ini terbuat dari apa? aku saja bisa lupa."
"mengingat seperti itu dia sudah biasa, dia bahkan bisa menghafal buku setebal kamus."
"Benarkah? berapa IQ mu?."
"130 dan ibu 125."
"Astaga, kalian ini makan apa bisa pintar begitu?."
"Hm? IQ kakak berapa?."
"1--"
"102." sela Arjuna.
"Oh? ayah berapa?."
"Beda satu angka dari ibumu."
"126?."
"Iya."
"Apa hanya aku yang ber-IQ rendah?."
"Itu termasuk rata-rata, bukan rendah."
"Begitu. Ah iya, kalian tidak mau berjalan-jalan atau.. ya seperti pengantin baru lakukan?."
"Tidak."
"Hei.. bisakah kalian berdua damai? itu hanya masa lalu yang tidak disengaja, biarkan semua yang sudah terjadi dan cobalah buat lembar baru sekarang."
"....."
"Sudahlah, terserah kalian. Johan, ayo kita saja yang jalan-jalan dan biarkan mereka berdua, nenek juga menginap di rumah om kan."
"Hum."
Johan dan Clea pun berganti pakaian lalu pergi meninggalkan Violet dan Arjuna. Mereka berdua tak mengobrol sama sekali, hingga Violet membuka suaranya.
"Apa kamu setuju dengan perkataan Clea?."
"Hm."
"Aku rasa.. aku akan mencoba membuat lembar baru sekarang, dan menjalani hidup dengan kalian."
"Hm."
"Kamu bagaimana?."
"Sama sepertimu."
"Baguslah.. hoam.. aku mengantuk, aku tinggal kamu sendirian disini."
Violet berjalan ke kamarnya, tanpa ia sadari, Arjuna mengikutinya. Ketika Violet ingin menutup pintu kamar, ia terkejut.
"Kamu, apa kamu ingin membuatku jantungan? huh?."
Arjuna masuk tanpa memperdulikan Violet. Saat Violet merebahkan tubuhnya diatas kasur, Arjuna berada diatasnya. Manik mata mereka saling bertemu, detak jantung Violet menjadi tak karuan.
"Aaaaa! kenapa kamu ada diatas ku? sedang apa kamu?."
"Berisik." Arjuna menghentikan gerak Violet.
"Jika ingin membuat lembar baru, pertama lakukan ini."
"Aku tidak ma--"
Chu~
Violet membulatkan matanya karena Arjuna mencium bibirnya, perlahan ciuman itu menjadi malam pertama mereka, seperti pengantin baru lakukan. Sebenarnya Violet terus memberontak, tapi entah kenapa ia menjadi nyaman.