My spoiled husband

My spoiled husband
13



Setelah selesai mengobati luka Johan, Violet merapikan semuanya dan ingin menyusul Johan, namun, ia ditarik oleh Arjuna ke pangkuannya.


"Mau kemana, hm?."


"Keluar.


"Cepat lepaskan."


"Tidak, kamu harus mendapat hukuman karena melanggar perkataan ku semalam."


"Yang mana?."


"Jangan pura-pura lupa."


"Hehe.. itu, bisakah.. kamu.. tidak menghukum ku? semalam bukankah sudah ku katakan jangan menghukum ku."


"Aku tahu itu, tapi.. aku tak akan membebaskan seseorang dengan mudah."


"Ayolah, lepaskan. Aku tahu isi pikiranmu, jadi aku tak mau melakukan hukuman itu."


"Why, babe..?"


"Mulai.."


Arjuna mengelus pipi Violet dengan lembut dan benar dugaan Violet, lelaki itu mulai menggodanya.


"Babe.."


"Apa?."


"Jangan judes gitu jawabnya.. nanti si Arjuna kecil menangis."


"Huh? Arjuna kecil?."


"Iya.. dia bisa membuatmu merasa puas."


Violet membulatkan matanya ketika tahu apa maksud perkataan Arjuna.


"Hei hei! dasar mesum!."


Arjuna tersenyum tipis dan semakin melunjak, ia menDeSaH ditelinga Violet.


"Apa yang kamu lakukan? berhenti menggodaku."


"Aku ingin membuatmu basah."


"Yak! perhatikan ucapanmu."


"Temani aku hingga aku puas, setelah itu hukuman mu lunas."


"Temani mu hingga puas bagaimana?."


Arjuna menggendongnya dan membawanya keatas kasur.


"Seperti ini.."


"Pintunya belum dikunci, aku--"


"Pintu itu sebenarnya bisa terkunci sendiri dalam satu menit, jika aku menepuk tanganku satu kali, pintu itu akan benar-benar terkunci, tak ada yang bisa membukanya kecuali diriku. Dan juga, orang-orang tak bisa mendengar suara kita."


Prok!.


"Gawat."


"Tak ada yang gawat. Mari kita mulai, babe.."


"Tidak, kau bermain kasar."


"Ingin melakukannya dengan perlahan?."


"Kau bohong, berkata seperti itu tapi akhirnya pasti bermain kasar."


"Tidak.. i promise, babe."


Violet menelan saliva nya dan dengan ragu-ragu, ia mengalungkan tangannya ke leher Arjuna.


"Aku tak suka hukuman ini.. apa bisa diganti?."


"No, babe.."


Tanpa aba-aba, Arjuna langsung menerkamnya. Sedangkan Violet, gadis itu terkejut namun kemudian ia membiarkan Arjuna bermain.


*****


"Hei! buka pintunya!, atau tidak jawab pertanyaanku!. Apa kalian tidak makan?! ini sudah siang!." pekik Clea.


"Diamlah." sahut Arjuna dengan suara berciri khas bangun tidurnya.


"Terserah. Jika ingin makan buat saja sendiri, aku dan Johan pergi dulu."


"Kemana?."


"Ke rumah om Ko, datang ibu."


"Buat?."


"Johan kangen ibu dan sekaligus ngenalin om Ko, tante Jeo, sama Sasa ke Johan."


"Berapa lama?."


"Seminggu?."


"Baiklah! kami pergi dulu!."


Clea pergi dari depan kamar mereka, suasana mulai menjadi hening dan sepi.


"Juna.. aku ingin ke kamar mandi, aku tak kuat berjalan karena mu."


Arjuna membuka matanya dan menatap sebentar mata Violet.


"Ini bukan karena ku, tapi karena mu sendiri."


Arjuna membetulkan posisinya, kemudian menggendong Violet menuju kamar mandi.


"Ingin mandi bersama?."


"Jangan mulai lagi.."


******


"What do you want to eat, babe?."


"Apa saja yang enak."


Arjuna mengangguk pelan. Ia mengambil celemek dan memakainya terlebih dahulu, setelahnya ia mulai memasak layaknya seorang koki.


Beberapa menit kemudian, Arjuna pun selesai memasak. Ia mengambilkan nasi beserta lauk pauk lalu menyuapi Violet.


"Aku bisa sendiri."


"Biar aku saja. Buka mulutmu."


Suapan pertama Violet baik-baik saja, suapan kedua juga baik-baik saja, hingga saat suapan kelima, gadis itu menggeleng lalu berlari menuju kamar mandi walaupun tubuh gadis itu masih terasa sakit.


"Hoek!."


"Kenapa? bukankah tadi katamu enak?."


"Iya, memang enak.. mungkin karena kelelahan, jadi seperti ini."


Arjuna menatap mata Violet cukup lama untuk mencari tahu, hingga..


"Kita ke rumah sakit sekarang." ujarnya.


Lelaki itu mengambil kunci mobilnya, kemudian menggendong istrinya itu.


"Aku tidak--"


"Diam."


******


"Selamat untuk kalian, istri presdir positif hamil."


Dokter pun meninggalkan mereka berdua, mereka berdua tak percaya jika Violet mengandung bayi mereka saat ini."


"Terimakasih."


Kalimat itu keluar dari mulut Arjuna, tanpa sadar lelaki itu tersenyum lalu menggendong Violet.


"Kau.. sakit?."


"Aku tidak sakit, justru bahagia."


******


"Bisakah berhenti memelukku? aku ingin makan, tadi hanya makan sedikit."


"Nanti.."


"Kau ini kenapa tiba-tiba seperti ini, huh? apa kau baru saja bertukar jiwa dengan seseorang?"


"Tidak ada yang bertukar jiwa, aku tetaplah aku."


"Aku tidak percaya, jelas-jelas sikapmu berubah drastis hari ini."


"Aku memang seperti ini."


"Bohong. Biasanya kau memarahiku, menyuruhku ini itu, dan sebagainya. Dan sekarang kau jelas-jelas berbeda! oh, atau kau ini sudah mengaku salah? makanya sekarang memperlakukan ku dengan lembut."


"Shut up, babe.."


"Lepaskan aku, aku lelah duduk dipangkuan mu."


Arjuna mengubah posisi Violet lalu menggendongnya menuju kamar.


"Kita ingin berbuat apa lagi? kalau kau tidak membiarkan ku makan, setidaknya biarkan aku tidur, oke?."


"...."


Violet berdecak kesal karena Arjuna tak menjawab pertanyaannya. Setelah sampai dikamar, Arjuna membaringkan tubuh gadis itu lalu memeluk sambil mengusap perut Violet.


"Dia akan tumbuh sepertiku, dan dia akan mencontoh Johan."


"Waktu itu kau menyuruhku menggugurkan Johan, sekarang malah justru antusias."


"Karena ini berbeda."


Violet mengangkat sebelah alisnya. Ia pusing memikirkan perkataan Arjuna, lebih baik ia tidur saja, dan itu akan jauh lebih baik.