My spoiled husband

My spoiled husband
5



"Halo cantik.. sini kita main dulu."


"Pergi."


"Hanya sebentar.."


"30 menit saja bagaimana?."


"Pergi! enyahlah! jangan menyentuhku!."


Violet terbangun dengan tubuh yang berkeringat dingin, ia turun dari kasur lalu membersihkan sekujur tubuhnya.


Setelah mandi ia berjalan ke dapur. Ia mengambil sekotak susu dan menuangkannya di gelas, tak lupa ia juga menarik kursi untuknya duduk.


"Makanannya ada sudah dingin, panaskan saja."


"Kamu makan saja, aku tidak lapar."


"Yang menyuruh sisakan siapa?."


"Hehe.. kamu makan aja, aku tidak ingin makan. Kamu tahu kepalaku sedang pusing."


Violet pergi dari dapur dan menuju halaman belakang. Disana ada gemercik air yang dapat menenangkan pikirannya.


Violet merebahkan tubuhnya diatas rerumputan itu, matanya melihat langit senja yang indah.


"Sakit?."


"Tidak."


Arjuna datang dan duduk disebelah Violet.


"Ada masalah?."


"Tidak ada."


"Bohong mu masih bisa terlihat."


"Aku tahu."


Arah pandangan Violet mengarah ke lelaki sebelahnya itu.


"Kenapa mengikuti ku kesini?."


"Tidak boleh?."


"Bukan seperti itu, aku hanya bertanya."


Suasana hening sejenak, hingga Violet kembali membuka suaranya.


"Hey. Seandainya aku dan kamu tidak bertemu waktu itu, apa aku bisa mendapat kebahagiaan yang aku impikan?."


"....."


"Ish.. dingin sekali, seperti es batu. Pantas saja banyak yang takut kepadamu."


"Kamu bisa mendapatkan kebahagiaan denganku."


"Heh? benarkah? aku tidak yakin dengan perkataanmu itu."


"Aku serius."


"Kalau begitu, apa kamu ingin menikahi ku untuk hal yang sudah terjadi?."


"Aku tak tahu."


"Jawaban macam apa itu."


Violet mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, terserah mu. Aku akan menunggu jawabanmu, ingat aku bukanlah orang pelupa."


"Kamu.. bolehkah aku dan Johan tinggal di rumahmu? aku merasa sangat sedih dan kasihan dengannya, dia tidak ada teman yang bisa diajak bermain."


"Ada aku."


"Denganmu? jangan bercanda, kamu itu banyak pekerjaan dan harus mengurus perusahaan setiap harinya."


"Aku tahu itu."


Violet mendengus kesal, ia tak akan lagi bertanya pada Arjuna.


"Ah, aku menyesal waktu itu mengikuti mereka ke club."


"Lalu--"


"Diam, aku tidak berbicara padamu."


Arjuna menoleh dan menatap tajam pada Violet.


"Maksudmu?."


"Maksudku, kamu diam lah. Jawabanmu itu sangat tidak sesuai ekspektasi ku, kamu tahu itu kan."


"Kamu, siapa orang yang kamu benci di dunia ini?."


"Hm? tidak ada, aku tak membenci dan tak bisa membenci orang lain. Bukankah derajat kita setara?.


"Jika, semua orang terdekatmu pergi meninggalkanmu, kamu ingin siapa yang kembali? pilih salah satu."


"Tentu saja kedua orangtuaku, jika tidak ada mereka mana mungkin aku berada di fase ini sekarang. Bukannya tidak sayang dengan yang lain, tapi merekalah yang jauh berharga bagiku. Kamu tahu? semarah dan sebenci apapun aku pada seseorang, aku tak akan berbuat naif untuk menjatuhkan seseorang dengan buruk. Rasanya sedikit aneh jika sedikit-sedikit kita marah, sedikit-sedikit kita benci padahal hanya masalah sepele."


"Huaaaaa ibu.." celetuk Johan


Lelaki kecil itu menangis sambil terus berjalan mendatangi Violet dan Arjuna. Di lututnya terdapat luka, sepertinya baru.


Johan duduk ditengah-tengah kedua orangtuanya.


"Kenapa bisa terluka?." tanya Violet lembut.


"Aku mencari kalian, aku kira kalian akan membuang ku."


"Sejak kapan kami bilang ingin membuang mu? ibu dan ayah hanya mencari udara segar, tidak usah panik seperti itu."


"Ayah dan ibu tidak akan meninggalkanku kan?."


"Tidak sayang.." ujar Violet dan Arjuna bersamaan.


"Ayah dan ibu sepertinya memang ditakdirkan bersama."


"Ibu tidak yakin."


"Jika ibu dan ayah tidak percaya ya sudah, kalian lihat saja nanti. Kalian pasti akan menjadi pasangan yang sangat romantis."


"Ibu, ayo kita pindah ke rumah ayah."


"Tentu."


"Ibu?."


"Terserah mu saja."


"Yeay!. Sekarang ya bu."


Violet mengangguk setuju. Merekapun masuk kedalam dan membereskan barang-barangnya.


.


.


.


.


.


Sesampainya dirumah Arjuna, Rika, menyambut anaknya dengan antusias. Rika melihat kearah Violet dan Johan dengan banyak pertanyaan.


"Ma, maaf Arjuna tidak pulang beberapa hari."


"Tidak apa."


"Oh iya, ini.. Violet istriku."


"Dan ini Johan anaku."


Rika menutup mulutnya.


"Apa kamu bertanggungjawab?."


Arjuna menggeleng. "Arjun sama sekali belum bertanggungjawab."


"Kamu bagaimana sih? mama tidak mau tahu kamu nikahi dia sebagai pertanggungjawaban."


"Arjun sedang mempersiapkannya sekarang, mama tidak usah khawatir."


"Halo nek.." timpal Johan.


Rika tersenyum lalu menggendong Johan.


"Nenek apa kabar?."


"Baik."


Rika berbalik dan hendak pergi masuk kedalam rumah mewah nan megah itu, tapi langkahnya terhenti dan kembali berbalik.


"Ajak istrimu ke kamar, dia mungkin kelelahan. Mama akan segera menyiapkan makanan." ujarnya sembari tersenyum.


Ia berbalik dan membawa Johan masuk terlebih dahulu.


"Yang tersisa hanya mamaku."


"Bagaimana kamu bisa tahu isi hatiku? kamu seorang dukun?."


"Bukan."


"Hei.."


"Waaaaa!!."


Violet berteriak dan sontak memeluk tangan Arjuna ketika melihat gadis remaja yang tengah mengenakan pakaian Halloween.


"Clea."


"Hehe.. baiklah-baiklah, maafkan aku ya adik ipar. Aku hanya bercanda, sungguh."


Violet mengangguk, ia pun melepas pelukannya lalu menghela nafas.


"Jadi inikah istrimu? dia terlihat sangat cantik, apa sesuai dengan usiamu?."


"23."


"Pffftt hahaha!."


"Apa? astaga, aku tak menyangka tipe mu seumuran adik ipar ini. Kamu apakan dia huh?."


"Tidak ada."


Arjuna menarik Violet menuju kamarnya meninggalkan kakak perempuannya yang berisik itu.


"Kita satu kamar."


"Oh.."


"Apa?! tidak-tidak, aku tidak mau."


Pletak!


"Sepertinya pikiranmu harus dibersihkan."


"Aduh.. kau ini manusia atau apa? menyentil orang saja langsung memerah dan berbekas."


"Aku normal."


"Aku tahu itu, tapi bisakah kau bersikap lembut pada wanita?."


"Bisa."


"Maka, bersikaplah lembut padaku."


"Tidak mau."


"Kenapa? aku ini juga perempuan."


"Tidak, kau seperti lelaki, tampan."


Jawaban asal dari Arjuna membuat Violet kesal hingga ia menginjak kaki Arjuna dengan sepatu heels nya, Arjuna meringis kesakitan karena ulah Violet.


"Kita impas."


"Kau.."


"Apa? huh?."


Arjuna berdecak kesal dan meninggalkan Violet sendiri di kamarnya.


"Dia pikir aku takut padanya? huh?."


Violet menyusulnya turun dan membantu Rika memasak makanan. Rika sudah menyuruh Violet untuk tidak membantunya, tetapi gadis itu keras kepala hingga Rika memperbolehkannya untuk membantu dirinya.