My spoiled husband

My spoiled husband
21



"Dimana handuknya?!."


"Disitu!."


"Dimana?! disini tidak ada handuk ataupun jubah mandi disini!."


"Ish! baiklah tunggu sebentar!."


Violet mematikan ponselnya dan mengambilkan handuk beserta pakaian untuk Arjuna. Seharusnya pria itu harus mengecek di kamar mandi, apakah ada handuk atau jubah mandi atau tidak, ini malah langsung masuk ke kamar mandi.


Tok tok tok.


"Buka pintunya, tapi jangan lebar-lebar, karna kau tidak menggunakan pakaian."


Tanpa menunggu lama, pintu itu langsung terbuka dan memperlihatkan tubuh Arjuna yang telanjang bulat juga masih berair.


"Kau!!."


Dengan cepat Violet langsung mengarahkan pandangannya kearah lain selain arah depannya.


"Aku sudah bilang padamu tadi, jangan buka lebar-lebar, sedikit saja."


"Kau lama sekali."


Arjuna mendekat dan ingin mengambil handuk dan pakaiannya, namun, pintu tiba-tiba terbuka.


"Violet! kau tahu--"


"--tidak... o-oh maaf, a-aku kira didalam hanya ada Violet."


"Ya ampun, dia sangat tampan, seksi, dan.. perut sixpack nya.. sangat keren. Aku harus mendapatkannya."


Brak.


"Huh?."


"Dia pasti sengaja."


"Aku juga rasa seperti itu, karna jelas-jelas aku sudah menutupnya dengan rapat."


"Temanmu sangat tidak tahu sopan santun."


"Dia memang seperti itu, teman-teman yang lain membencinya karena itu."


"Hm. Sekarang berikan itu padaku, aku mulai kedinginan."


"Oh iya, maaf-maaf.. aku lupa."


Dengan tanpa ragu-ragu lagi, Violet langsung melingkarkan handuk itu di pinggang Arjuna, lalu mengambil satu handuk lagi untuk mengelap tubuhnya. Tindakannya yang tiba-tiba itu membuat Arjuna terheran-heran, namun ia menyukainya.


"Aku ingin menggunakan baju tidur."


"Tidak, ini belum malam."


"Ayolah, nanti kita jalan-jalan, bersama Johan juga."


"Tidak, pakai ini saja."


"Ya sudah."


...~`•-•`~...


Setelah selesai memakai pakaiannya, Arjuna pergi ke bawah untuk mengambil beberapa makanan, lalu membawanya kembali ke kamar. Alasan ia tidak makan dimeja makan adalah ia tidak ingin melihat apalagi berbicara dengan perempuan itu, Mila, karena perempuan itu hanya bisa membuatnya kesal dan marah. Satu-satunya cara agar ia merasa tenang dan nyaman adalah dekat dengan istrinya, walaupun dulu ia tidak suka dengan wanita itu, tetapi.. yang namanya cinta itu tidak bisa ramal, benar begitu?.


Clek.


Arjuna masuk dan duduk di atas karpet hitam, tepatnya sebelah Violet.


"Babe."


"Apa?."


"Sudahi membaca buku itu dan suapi aku."


"Tapi aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu."


"Tanya saja."


"Apa disini tidak ada televisi? aku sangat bosan."


"Televisi?."


"Hum."


Lelaki itu kembali berdiri dan meraba dinding kamarnya. Tak butuh waktu lama, Arjuna berhenti pada dinding tepat di depan Violet, ia memencet dinding itu dan keluarlah sebuah televisi, sangat tidak masuk akal, tapi itu nyata.


"Keren.."


"Ini remote nya."


"Kamarmu sangat keren, dan.. aku tidak tahu jika ada televisi di tembok itu."


"Aku membuat rumah ini dengan arsitek yang terbaik, dan televisi itu sudah lama tidak ku hidupkan, mungkin.. setelah aku bertemu dengan mu."


"Em.. begitu.."


Violet memencet tombol nyalakan pada remot itu dan televisi pun langsung menyala tanpa perlu menunggu lama.


"Sekarang, suapi aku."


"Makan sendiri."


"Kau--"


"Bercanda pak tua."


"Siapa yang kau bilang pak tua?."


"Hantu. Buka mulutmu."


"Jangan lupa pakai daging yang besar itu."


"Kau yakin?."


"Ya, lagipula itu hanya daging biasa."


Tok tok tok.


Clek.


"Oh, ternyata kau."


"Tidak mau, IQ mu rendah dari ku."


"A-apa kau bilang?!."


"IQ mu rendah, makanya sangat mudah diperalat oleh orang."


"Agak menyebalkan ya."


"Sudah-sudah, jangan dilihat balas Clea."


"Aku tahu itu, tapi dia yang memulainya."


"Kau tidak adil padaku. Kau tak memperbolehkan ku menyebut namamu langsung, tapi dia boleh, dengan adik sendiri kau pilih kasih."


"Diam kau, aku tidak ingin berdebat sekarang."


Clea menjatuhkan dirinya di atas kasur yang baru saja dibersihkan, aih menyebalkan.


"Aaaa~ punggung ku sakit."


"Kau sudah tua, makanya punggungmu sakit."


"Kau tidak usah memancing emosiku."


"Aku tidak memancing emosi mu, aku hanya mengatakan kebenarannya."


"Terserah."


"Oh ya, kalian saja yang menjemput Johan, oke? aku ada kencan dengan pacarku."


"Pacar?."


"Ya, kau lupa, Ar?."


"Mungkin."


"Baiklah akan ku tunjukkan nanti."


"Kenapa dagingnya terasa seperti jahe?." tanya Arjuna pada Violet.


"Itu memang jahe."


"Kau, kenapa memberikanku jahe? kau ingin membunuhku?."


"Kenapa jadi menyalahkan ku? bukankah tadi kau duluan yang memintaku agar memberi itu? kan aku sudah bertanya padamu apa kau yakin, dan kau menjawab iya, jadi, aku tidak salah. Lagipula, kenapa kau malah mengambil jahe dan bukannya daging?."


"Aku mengambil itu karna ku kira itu daging spesial buatku dan kau, jadilah istri yang lebih peka lagi terhadapku."


"Kau ini, tahunya hanya memerintah orang saja, hum!. Makan sendiri, aku sedang marah padamu."


"Oke."


"Menyebalkan."


Violet menaruh remot itu dan pergi meninggalkan Arjuna yang sedang makan dengan santai.


"Menyebalkan, dia selalu menyalahkan ku, tch."


"Non? nona mau kemana?." tanya pak Sam, security dirumah itu.


"Aku hanya ingin berkeliling sekitar komplek, aku akan segera kembali, jangan khawatir."


"Baiklah, nona."


Sebenarnya Violet bukan ingin berkeliling komplek, tapi ia ingin pergi ke taman, disana ia bisa merasa tenang dan cocok untuk meredakan emosi nya.


...~`• - •`~...


19.00


"Ayah, ibu kenapa belum pulang juga?." tanya Johan dengan nada khawatir.


"Ayah.."


"Ayah akan mencarinya, tunggu saja dirumah bersama kak Clea."


...~`• - •`~...


"Kakak tidak ingin pulang sekarang? ini sudah jam 19.00." ujar Rala, gadis 18 tahun yang menemani Violet duduk di taman.


"Nanti saja, jika kau ingin pulang, pulang lah."


"Tidak ingin."


"Suhunya dingin, lebih baik pulang saja."


"Tidak."


"Pulang atau aku akan membunuh diriku sekarang."


"E-eh, baiklah, aku akan pulang, tapi setelah ini berjanjilah, jika kau akan pulang juga."


"Hm."


"Oke, kakak sudah berjanji. Aku pulang dulu! besok aku akan ke ke rumah kakak! dadah!."


"Apa aku harus pulang sekarang? ah tidak, nanti saja, jika aku kembali dia pasti akan membuatku kesal."



"Permisi, apa kalian melihat wanita ini?."


Suara itu, Violet mengenal suara itu, tidak asing ditelinga nya. Violet mencoba melihat kebelakang, ah ternyata benar dia. Ya, Arjuna, lelaki itu datang mencarinya.


"Dia aneh, sifatnya selalu berubah-ubah, sangat mengerikan."


"Oh tidak, dia kemari."


Violet kembali ke pandangannya seperti semula, ia berharap lelaki itu tidak melihatnya.


"Dimana dia? dimana lagi aku harus mencarinya? ini sudah jam 20.00."


"Suaranya dekat."


Wanita itu melirik ke kursi yang tak jauh darinya, ah betapa bodoh nya dia, di dekatnya kan tidak ada lampu.


"Apa harus ku datangi?."