
Jam menunjukkan pukul 20.00 malam. Suasana malam yang dingin mulai terasa hingga menusuk ke tulang. Malam ini terasa menyenangkan bagi beberapa siswa dan siswi yang tengah berada di sebuah club malam untuk merayakan hari kelulusannya.
Namun, tak semua siswa dan siswi menjadi pemabuk berat malam ini. Sebagian dari mereka masih ada waras.
"Hei! yang ada disana! hik- yang ada di--"
Bruk!
Gadis itu terjatuh, untungnya kepalanya sangat keras jadi ia tak berdarah sedikitpun. Sepertinya ia sudah mabuk berat, hingga ia tak kuat untuk menopang dirinya sendiri untuk berdiri dan akhirnya terjatuh. Namanya Lolita Rahayu. Gadis yang paling jahil diantara mereka semua, gadis itu suka membual sewaktu masih sekolah.
"Hei.. ayo kita pulang. Ini sudah malam, nanti aku dimarahi." ujar Violet Rosalina. Ia adalah salah satu dari mereka yang masih waras. Walaupun wajahnya memperlihatkan dia alim, namun jangan salah kaprah, ia adalah gadis yang paling galak dan sadis.
"Ayolah, kamu kan belum minum hik." sahut Rendra Grahadi sambil memasukan segelas bir ke mulut Violet.
Cairan itu berhasil masuk kedalam mulut Violet. Violet tersentak lalu mendorong tubuh Rendra. Rasanya sangat pahit.
"Aku ke toilet dulu."
Violet berdiri dan berjalan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya lalu mengelapnya dengan tisu. Baru saja ia keluar dari toilet, seorang pria yang lebih tinggi darinya mendorongnya masuk kembali.
Nafas pria itu tak beraturan. Ia merunduk dan berbisik kepada Violet.
"Tolong aku.."
"Tapi kamu si--"
Violet membulatkan matanya, ia ingin mendorong tubuhnya, tapi kekuatannya tak sebanding dengan pria itu. Ia berusaha mencubit perutnya dengan keras, tetapi tetap saja tidak bisa.
"Sialan, ciuman pertama ku direbut pria gila sepertinya?!."
Karena ia tak bisa mendorong tubuhnya. Dengan amarah yang menggebu-gebu, ia menginjak kaki pria itu sekuat tenaga. Pria itu memekik kesakitan. Tak mau bengong, Violet keluar dari toilet itu.
Namun sayang, ia ditarik kembali oleh pria itu menuju salah satu ruangan di club malam itu. Violet didorong ke atas kasur, gadis itu menelan salivanya dengan kasar. Kini ia tak bisa kemanapun, pintu itu bahkan sudah dikunci olehnya dan sekarang pria itu berada diatas Violet.
"Mau apa kamu--!!"
Lagi, pria itu membungkam mulutnya. Violet hanya bisa pasrah pada apa yang terjadi sekarang, ia tak tahu harus bagaimana. Sepertinya ia akan kehilangan keperawanannya dan akan dimarahin habis-habisan oleh kedua orangtuanya itu.
...~`• - • `~...
Pagi hari, pukul 07.00. Violet terbangun dengan tubuh yang terasa pegal, ia mengacak-acak rambutnya dan mengomel tidak jelas.
"Berani sekali dia mengambil keperawanan ku! awas saja jika kita bertemu lagi! aku tak akan segan-segan denganmu! memangnya siapa dia?! seenaknya mengambil keperawanan orang lain, huh?!."
Violet tak sengaja melihat secarik kertas dan black card diatas meja. Ia turun dari atas kasur, mengambilnya lalu membacanya.
'Maaf untuk kejadian semalam. Aku akan mengganti rugi itu semua.' ~Presdir Arjuna Gunadarma.
Violet mendengus kesal, ia merobek kertas itu hingga menjadi kecil.
"Kau pikir dengan ini aku akan memaafkan mu? setelah kau mengambil keperawanan ku? heh, kita lihat saja nanti.. Presdir Arjuna Gunadarma.."
Violet menyunggingkan senyumannya. Ia mengambil pakaiannya dan memakainya, kemudian ia mengambil black card lalu pergi dari club itu.
...~`• - • `~...
Violet menghela nafasnya setelah ia berada didepan rumah mewah berpagar hitam itu.
"Aku pulang."
Plak!
"Darimana saja kamu hingga sekarang baru pulang?! kamu itu sukanya nyusahin papa tahu tidak?! anak tidak tahu di untung! mau jadi apa kamu?! gelandang?!." ujar Dodi Noerdin. Ayah kandung Violet.
"Kalau begitu kenapa papa cariin aku? katanya aku anak tidak tahu di untung--"
Plak!
"Sudah berani kamu menjawab?! iya?! tidak ada sopan santunnya kamu sama orang tua!."
"Sudah sayang.. kasihan dia.." celetuk Recha. Ibu tiri Violet.
"Tch. Dasar pelac*r."
"Kamu?!--"
"Sudah, jangan marah-marah. Mending kamu ke kamar dulu aja."
"Heh, tidak usah perlakukan aku dengan baik dihadapan papa, kamu itu bukan mama ku."
Recha mencengkeram pipi Violet dengan kuat.
"Oh ya? lalu bagaimana aku bisa menjadi mama mu?."
Violet melepaskan cengkraman tangan Recha dari pipinya.
"Dengan cara, pergi dari rumah ini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu dihadapan kami lagi! jika bisa, enyahlah dari dunia ini!."
Bruk!.
Seorang pria yang seusianya menendang kepala Violet. Gadis itu tersenyum miring lalu tertawa hambar sembari memegangi pipinya yang mulai memanas.
"Hebat ya kalian, mainnya suka keroyokan. Kalian pikir dengan keroyokan begini bisa dibilang jagoan? Pelac*r ya tetap pelac*r."
"Diam!." teriak Recha.
"Kalian yang diam! kalian itu bukan keluarga asliku! tahu apa kalian tentang keluarga dan kehidupan kami?! huh?!."
"Vio! kembali ke kamarmu! sebelum papa bertindak kasar padamu!." teriak Dodi dari kamarnya.
"Tch!" Violet berdecak kesal.
Violet berdiri dan meninggalkan 2 orang itu dan berjalan menuju kamarnya. Sampai didalam kamarnya, Violet menghela nafas. Kenapa nasibnya seperti ini?. Ia rindu ibu kandungnya.
Drrrtt drrrtt..
Ponsel Violet bergetar, ia pun segera menerima panggilan itu. Dari Wenddy Karina Sari.
"Halo."
"Ada waktu?."
"Ada, kenapa?."
"Jalan yuk, kebetulan ada tas kamu dirumah aku, kemarin kamu tiba-tiba menghilang sih, aku kira kamu pulang dan melupakan tas mu di club itu."
"Benarkah?. Jam berapa?."
"Jam.. seb-- dua belas!, ketemuan di Taman Raya.
"Oke, bye.."
"Bye.."
Violet menepuk-nepuk pipinya lalu masuk ke kamar mandinya. Ia berendam di bathtub untuk menenangkan pikirannya.
...~`• - • `~...
"Dari tadi mukanya cemberut, kenapa? ada masalah?."
"Kemarin."
"Apa? Rendra?."
"Bukan.."
"Terus?."
Violet menghela nafas lalu menceritakan semuanya kepada Wenddy. Gadis itu terkejut bukan main setelah mendengar kejadian semalam yang dirasakan oleh Violet.
"Serius? presdir Arjuna yang melakukannya?."
"Iya. Aku ingin ke perusahaannya sekarang."
"Ettss.. jangan, pikiran kembali. Jangan sampai menjadi bertambah buruk."
Violet berhenti sejenak memikirkan ucapan Wenddy. Kemudian ia mengangguk.
"Bagus."
"Sekarang, cepat dimakan. Nanti tidak enak."
Violet menurut dan memakan makanannya.