My spoiled husband

My spoiled husband
22



"Apa harus ku datangi?."


"Tapi.. aku tidak ingin berbicara dengannya hingga beberapa bulan, ya, benar, agar dia menyesal."


Violet berdiri lalu mendatangi Arjuna. Dengan tiba-tiba wanita itu menarik tangan Arjuna dan lantas membuatnya terkejut. Baru berjalan 3 langkah, Arjuna berhenti lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku atas perlakuanku padamu, aku berjanji tidak akan seperti itu lagi aku menyesal."


"...."


Kriuk kriuk.


"Kau lapar? ayo kita pulang, aku akan membuatkan makanan lezat untukmu."


Lagi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Violet, wanita itu hanya diam menyaksikan lelaki di depannya ini. Sebenarnya ia kasian kepada arjuna, tapi mau bagaimana lagi? toh dia sendiri yang membuat istrinya marah.


"Kenapa kau diam saja? bicaralah padaku, apa kau masih marah padaku? atau kau sakit?."


Violet hanya mengangguk lalu menarik tangan arjuna masuk ke dalam mobil. Anaknya pasti sudah menunggunya dan nangis saat ini, jadi ia memutuskan untuk pulang segera mungkin.


...~`• - •`~...


"Ibuuuu..."


Johan berhamburan memeluk Violet, ia memang tidak bisa ditinggal oleh ibunya walaupun untuk sehari pun.


"Kau mandilah dahulu, aku akan menyiapkan makanan untukmu."


Dengan cepat Violet menggelengkan kepalanya. Ini sudah malam mana mau ia makan jam segitu, yang ada ia akan menjadi sangat gendut nantinya.


"Ibu, apa ibu sakit gigi? kenapa tidak berbicara?."


Violet hanya tersenyum dan membuat bahasa isyarat Ibu baik-baik saja.


"Ibu yakin?."


"Ayah, apa ibu juga marah pada Johan?."


"Tidak, ibumu hanya marah kepada ayah."


"Lalu kenapa ibu tidak berbicara padaku? dan malah menggunakan bahasa isyarat?."


"Johan, ayo kita tidur saja." timpal Clea.


"Tidak, aku ingin bersama ibu."


"Johan, ayo dengan kakak saja, ibumu ada urusan dengan ayahmu."


"Em.. ibu, ibu berjanjilah jika besok ibu akan kembali berbicara padaku."


Hanya ada anggukan kecil dari Violet, Johan menggigit bibir bawahnya lalu lari ke kamarnya dengan disusul Clea. Sementara Arjuna, lelaki itu menarik tangan wanita itu dengan perlahan menuju kamar.


Dikamar, Arjuna menyuruh istrinya untuk segera mandi. 4 menit berlalu, Violet baru saja selesai membersihkan tubuhnya, matanya tak sengaja melihat suaminya, Arjuna, sudah tidur. Dengan hati-hati, ia menutup pintu balkon dan naik keatas kasur. Karena ia belum mengantuk, ia memilih membaca buku terlebih dahulu.


Namun, ketika ia ingin mengambil bukunya diatas meja, secara tiba-tiba Arjuna menempatkan kepalanya dipaha Violet, setelah itu ia memeluk istrinya dengan erat.


"Bicaralah padaku.. hiks.. aku tahu jika aku salah.. tapi tolong jangan begini hiks hiks.."


"Dia.. menangis?."


"Lihat, kau tak menjawab bahkan tak mengelus rambutku.. hiks.. biasanya kau menjawab semua perkataan ku hiks.. dan mengelus rambutku lalu berkata "Sudahlah jangan menangis, aku selalu ada untukmu, tersenyumlah, seorang CEO tidak boleh menangis." hiks.. apa kau sangat membenciku atas apa yang terjadi tadi siang? maaf.. hiks aku tidak akan seperti itu lagi."


"Apa yang harus aku lakukan jika begini? Ah persetan, aku tidak bisa melihat dia menangis seperti ini."


Violet mengelus rambut Arjuna lalu menangkup wajah lelaki itu.


"Itu aneh, kenapa aku tidak bisa marah denganmu?."


"Berhentilah menangis, apa kau ingin aku menbekap mulutmu dengan kertas?."


"Hiks hiks.. maafkan aku.."


Tangis Arjuna semakin menjadi-jadi. Violet menghela nafas panjang, ia bingung dengan sifat Arjuna yang kekanak-kanakan sebagai ini.


"Tidurlah, aku akan tidur di sofa."


"Jangan.."


"Bercanda, aku ingin tidur dengan Johan. Lihat dia, dia menunggu di depan pintu dan kau tidurlah sendiri, tenang saja, aku akan mengunci pintunya."


"Hiks tidak.. aku ingin bersamamu.."


"Tidak usah manja."


Violet turun dari kasur lalu mengecup kening Arjuna.


"Disini saja."


"Ibu, akhirnya ibu berbicara."


"Kau habis menangis?."


"Tidak, aku masih menangis seperti ayah."


"Hei.. kenapa jadi menangis?."


"Ibu berjanjilah padaku jangan seperti itu lagi.. hiks.. nanti aku dan ayah bagaimana..?."


Violet tak menjawab, dan memilih menepuk-nepuk punggung Johan. Dikamar, Violet dan Johan sudah tidur, namun tak lama, seseorang membuka dan menutup pintunya pelan-pelan.


"Hiks.."


Siapa? apa itu Arjuna? yups, dia adalah Arjuna. Seperti biasa, ia tak bisa jauh dengan istrinya, walaupun mereka sudah satu rumah. Arjuna naik keatas kasur dan memeluk Violet dari belakang.


"Kau mengagetkanku." ujar Violet dengan suara kecil. Sebenarnya ia sudah tidur nyenyak tadi, namun ia terbangun karena seseorang naik keatas kasur.


"Aku bilang, aku ingin bersamamu."


"Kau masih menangis? tidurlah."


Arjuna menyembunyikan wajahnya di leher Violet, kemudian tertidur, mungkin karena matanya lelah menangis.


...~`• - •`~...


Pukul 06.30 Arjuna terbangun dan tak mendapati istrinya dan anaknya di kasur. Ia bergegas turun, siapa tahu mereka ada dibawah.


"Johan.. Vio.."


"Tuan? kenapa anda berlari-lari seperti itu? bagaimana jika tuan jatuh?."


"Dimana Johan dan Violet?."


"Johan sudah berangkat dan nona ada di kebun untuk mengecek buah dan sayur."


Buru-buru Arjuna pergi ke kebun belakang rumah, ia berlari layaknya seorang anak kecil yang sedang mencari ibunya.


"Wah.. aku tidak tahu disini banyak sayuran dan buah-buahan."


"Stroberinya merah dan besar, aku ingin mencobanya."


Baru ingin memutik stroberi, Arjuna tiba-tiba memeluknya. Mengageti orang saja. Violet berbalik dan sedikit menjauh dari Arjuna.


"Rambutmu berantakan, pasti belum mandi."


"Kenapa kau tak membangunkan ku?."


"Oh? kau harus pergi ke kantor? tapi Zico bilang kau cuti sebentar."


"Bukan itu. Aku tidak mau kau pergi lagi seperti kemarin."


"Pfftt.. kau takut sangat kehilanganku?."


"Sangat.."


"Makanlah buah ini, aaaa..."


"Bagaimana? segar?."


"Manis."


"Oh ya?."


Karena penasaran Violet memetik untuknya. Ia diam sejenak kemudian berkata.


"Manis darimana nya? ini masih sedikit kecut."


"Manis, manisnya itu darimu."


"Bisa aja, udah sana mandi dulu."


Arjuna menggeleng, lalu memeluk Violet dari belakang.


"Kiss.." katanya lalu mengerucutkan bibirnya.


Cup.


"Udah, sana mandi."


"Tidak.."


Mau tidak mau selama menyusuri kebun, Arjuna terus memeluknya dari belakang, susuh memang berjalan sambil dipeluk dari belakang, tapi mau bagaimana lagi?.