
Cup.
"Pffftt, tidak kena!."
Arjuna menyingkirkan buku dari bibirnya dan semakin mendekat hingga bibir mereka hampir bersatu.
"Babe.."
"A-apa?."
"Aku ingin bermain.. jika tidak, bagaimana dengan ciuman saja?."
"Ak-aku--"
Cup.
"Kalian ingin ikut kami ke pantai ti--"
"--dak?."
"Oh, maaf.. sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat, kalian silahkan lanjutkan."
Violet memberontak minta dilepaskan, namun, Arjuna mengunci semua pergerakannya.
"Biarkan saja dia dan nikmatilah, babe.."
******
"Ka-kamu.. bisakah melepaskanku? aku lelah jika seperti ini terus."
"Ingin bercium--"
"Tidak. Cepat lepaskan aku, kaki ku sudah gemetar."
Arjuna mendudukkan Violet diatas meja, kemudian kembali mengurung Violet.
"Aku penasaran siapa yang menyebutmu CEO dingin? menurutku kau lebih tepat menjadi CEO mesum."
"Jika itu mau mu, aku akan menjadi CEO mesum."
"Hei hei, siapa yang menyuruhmu menjadi CEO mesum huh? aku tidak menyuruhmu."
"Begitu kah?."
"Benar!."
"Oh iya, bolehkah nanti malam aku pergi--"
"Tidak."
"Sebentar saja, ku mohon."
"Ingin kemana?."
"Ke kafe, tenang saja.. kami disana hanya untuk membicarakan soal perlombaan." alibinya.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu."
"Kau tampak mencurigakan."
"Kau tak percaya padaku? jahat sekali.."
"... Sebelum jam 19.30 harus sudah pulang, wanita tak boleh pulang larut malam."
"Em.. baiklah, tidak masalah."
.
.
.
.
.
18.12
"Arjun!."
"Apa?."
"Aku keluar dulu, jangan lupa tutup pintu balkon dikamar Johan."
"Hm.."
******
`C**lub Amino.
"Akhirnya kamu datang juga."
"Hm."
"Ngomong-ngomong kamu semakin cantik."
"Terimakasih, tapi.. bisakah kita masuk? aku hanya diperbolehkan keluar hingga jam 19.30 saja."
"Okay, let's go."
Violet dan teman-temannya pun masuk kedalam club Amino. Salah satu temannya memesan 10 bir untuk mereka berlima.
"Kita 2 botol perorang."
"Aku tidak--"
"Minum saja, kamu kan kuat minum bir."
Violet menggigit bibir bawahnya lalu mengambil sebotol.
Glek glek..
"Ughh.. sepertinya aku tidak bisa minum bir ini, alkoholnya terlalu tinggi."
"Ayo minum lagi!."
"Mhh--"
******
"Hik! besarkan lagi volumenya!." pekik Violet.
Bruk. Pyar!.
"Hei kau! bisakah jalan lihat-lihat? bir ku jadi tumpah!."
"Kau bilang hanya ke kafe dan akan pulang sebelum jam 19.30, tapi apa sekarang? kau justru ke club dan ini sudah jam 21.00"
Suara berat itu, sepertinya Violet mengenalinya.
Arjuna menghela nafas sambil memijit pelipisnya.
"Kenapa aku tak bisa memarahi mu?."
Arjuna melepaskan ikatan rambut Violet dan sepatu heelsnya, setelahnya, ia menggendong Violet menuju mobil.
"Aku hik! masih ingin minum.. hik!."
"Kau sudah mabuk, dan dengar, kau harus tetap dihukum."
"Hik! jahat.."
"Aku sudah salah mengizinkan mu keluar malam hari."
"Aku tidak akan mengulang-- hik --i lagi."
"Berhenti bicara, atau kau akan merasa mual lalu muntah di mobilku."
"Aku tidak akan muntah.. hik!."
*****
Sesampainya di rumah, Arjuna membungkus seluruh tubuh Violet kecuali bagian kepalanya dengan selimut lalu memeluknya.
"Lepas--vsh@%€d"
"Diam bocah nakal dan tidurlah."
Violet pun terdiam, matanya pun perlahan mulai terpejam dan menikmati pelukan itu. Walaupun dirinya dibungkus oleh selimut, ia masih bisa merasakan hangatnya pelukan Arjuna.
.
.
.
.
.
Brak! pyar! dbuk!.
Suara-suara itu terdengar pada jam 06.00. Violet dan Arjuna pun terbangun karena suara berisik itu.
"Apakah dirumah ini ada kucing..? kenapa ribut sekali?."
"Ughh.. kepalaku.."
"Aku akan memeriksanya."
"Dan aku akan tidur lagi."
"Jangan tidur lagi, cepat mandi."
"Baiklah-baiklah."
"Hiks hiks ibu.. ayah.. hiks." celetuk Johan yang baru sampai di kamar mereka.
Violet dan Arjuna turun dari atas kasur menuju Johan.
"Ya ampun, Johan.. kepala kamu kenapa bisa berdarah?." ujar Violet yang nampak khawatir.
"Itu.. Johan tadi jatuh dari atas tangga, katanya karena lantainya licin. Aku coba cari kotak obat, tapi tidak ketemu.. jadi.. maafkan suara-suara yang mengganggu tidur kalian." jelas Clea.
"Biar aku yang mengobati, kamu mandi lah. Tubuhmu bau alkohol."
"Ah iya. Kamu obati Johan dulu, pelan-pelan saat mengobatinya."
"Hm.."
Violet berdiri, kemudian pergi ke kamar mandi.
"Hiks ayah.."
"Yaa..?"
"Ayah jangan pecat pembantunya ya hiks."
"Iya.. apapun yang membuat Johan senang."
"Ayo duduk dulu di sofa." lanjutnya.
"Ar, aku keluar dulu."
"He'em."
Arjuna berdiri dan pergi ke laci sebelah kasur untuk mengambil kotak obat.
"Shh.. pelan-pelan, ayah.."
"Apakah sakit?."
"Tentu saja sakit.."
"Apa ingin menunggu ibumu keluar? biar dia yang mengobatimu saja."
Johan mengangguk pelan. Arjuna memangku nya sambil terus mengelus rambutnya.
Tak lama kemudian, Violet keluar dan langsung mendatangi Johan.
"Hei, kenapa kamu tidak mengobati lukanya?."
"Dia inginnya kamu yang obati."
"Aih.. baiklah."
Violet mensejajarkan dirinya dengan Johan, kemudian mulai mengobati lukanya dengan perlahan. Agar tidak terlalu perih, ia mengobatinya sambil terus meniup luka itu.
"Apakah sakit? atau perih?."
"Tidak.."
"Lihat, jika mengobati luka orang dengan sabar dan lemah lembut, jangan cepat-cepat apalagi kasar."
"Aku tidak seperti itu, aku mengobatinya sama sepertimu."
"Kamu bohong."
"Aku serius."
"Tch."
•
•
Maaf kalo cerita ini slow update karena author akhir-akhir ini sibuk banget, so.. mohon dimengerti. And, untuk ceritanya.. mohon maaf misal banyak yang typo atau nggak jelas.
Terimakasih.