My spoiled husband

My spoiled husband
15



Keesokan paginya. Arjuna terbangun lebih awal, tepatnya jam 04.40. Untuk apa ia bangun secepat itu? tentu saja untuk mengurus beberapa hal penting dan juga ia harus memasak untuk Violet.


"Halo Presdir? ada apa menelpon sepagi ini?."


"Urus semua persiapan NDC 25, jangan sampai terjadi masalah sedikit pun."


"Tapi presdir, bukankah waktu itu anda bilang jika anda tidak peduli dengan perlombaan itu?."


"Lakukan sekarang, tanpa ada pengecualian."


"Baiklah, akan saya lakukan."


Tutt tuttt.


Arjuna mematikan sambungan teleponnya. Kemudian, ia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia pun mulai berkutat dengan berkas-berkas yang ada.


40 menit berlalu, Arjunaa memutuskan untuk pergi ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.


"Kenapa AC disini masih menyala? dasar pemborosan listrik."



06.00


"Aromanya wangi sekali, apa kau yang memasaknya?."


"Ya, aku membuat udang pedas manis."


"Sepertinya enak."


Violet berjalan menuju meja makan lalu duduk untuk menunggu Arjuna selesai mencuci peralatan memasak.


"Makan saja duluan."


"Tidak, aku akan menunggumu. Sangat tidak sopan jika aku makan terlebih dahulu, kau kan sudah bersusah payah membuat ini."


Tak perlu waktu lama Arjuna selesai mencuci peralatan memasak. Ia duduk disebelah Violet, lalu mengambil lauk-pauk untuk Violet.


"Terimakasih, tapi aku bisa melakukannya sendiri."


"Diam."


Violet mencibirkan bibirnya lalu terdiam saat Arjuna mendekatkan wajahnya.


"Apa yang kau lakukan dengan jarak sedekat ini?."


"Kau mengatakan sumpah serapah padaku?."


"Aku? tidak."


"Katakan padaku."


"Aku tidak mengatakan sumpah serapah padamu, aku hanya mengikuti perkataanmu lalu mengatakan nasib burukku ketika bersamamu."


"Oh."


"Sudahlah, aku ingin makan."


"Akan ku su--"


"Tak usah disuapi, aku bisa melakukan hal kecil ini sendiri. Aku ini hanya sedang hamil bukan lumpuh kau tahu." ketusnya.


"Jangan marah, aku hanya bercanda."


"Candaanmu tak lucu."



"Rapi sekali, kau ingin kemana?." tanya Arjuna pada Violet.


"Aku ingin bertemu dengan Fera, karena dia yang akan memakai gaun ini besok."


"Kenapa tidak kau saja?."


"Kau bercanda?. Sudahlah aku keluar dulu."


"Akan ku antar, tunggu disini."


Arjuna mematikan televisinya, lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Tak perlu waktu lama, Arjuna turun kemudian menggendong Violet secara tiba-tiba.


"Kau ingin membuatku jantungan?."


"Tidak."


"Lalu kenapa kau menggendongku secara tiba-tiba?."


"Diamlah, atau kau tak kan ku izinkan keluar."


"Dasar jahat, baiklah aku diam."



Sesampainya di sebuah cafe yang cukup mewah, Violet turun dari mobil dan meninggalkan begitu saja Arjuna didalam mobil tanpa sepataslh katapun.


Violet celingak-celinguk mencari temannya itu, ternyata ia sedang duduk menikmati kopinya sembari membaca buku. Violet pun pergi mendatanginya.


"Tak apa, kau tak perlu meminta maaf. Bukankah kita ini teman?."


"Ah iya juga."


"Ngomong-ngomong, suamimu tampan juga."


"Huh?."


Violet membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia melihat Arjuna berdiri tepat dibelakangnya.


"Tapi.. suamimu itu seorang CEO ternama bukan? aku sering melihatnya di acara-acara televisi, koran, majalah, dan lain-lain."


"Ya--"


"Aku jadi iri padamu. Aku akan berdoa yang terbaik untuk kalian."


"Terimakasih, tapi bisakah kita membahas NDC saja?."


"Ah benar, aku lupa."


"Ini."


"Selain gaun didalam juga terdapat sepatu heels, dan aksesoris yang harus kau pakai." lanjut Violet sembari memberikan 2 paper bag.


Dengan antusias Fera membuka isi paper bag itu. Matanya berbinar-binar ketika melihat dalamnya, ia sangat-sangat menyukai itu.


"Cantik sekali! kau memang terbaik dalam mendesain!, aku suka."


"Jika kau menyukai itu, setelah selesai perlombaan kau bawa saja."


"Kau serius?."


"Ya, anggap saja itu hadiah dariku untukmu, karena ulang tahunmu sebentar lagi tiba bukan?."


"Aaa.. terimakasih banyak, akan ku masukan ini kedalam gaun favoritku."


"Sepatu heels dan aksesoris nya?."


"Tentu saja akan ku masukan juga."


"Begitu. Ya sudah, aku pulang dulu."


"Eh, secepat itu? apa kau tidak ingin memesan minum terlebih dahulu?."


"Tidak, terimakasih. Nanti dia akan marah padaku jika terlalu lama."


"Baiklah, hari-hati dijalan!."


Tanpa Violet sadari, Arjuna menggandeng tangan.


"Aku tak kan kabur, jadi jangan menggenggamnya terlalu erat."


"Apa aku peduli?."


"Terserahmu."


"Karena sikapmu seperti ini, aku tak jadi mengajakmu jalan-jalan."


Violet berhenti lalu menatap Arjuna.


"Ajak aku, aku akan menuruti apa katamu."


"Oh ya?."


"Ya."


"Apa kau yakin?."


"Tentu saja yakin."


"Baiklah."


Arjuna menariknya dan menggendongnya bak seorang model.


"Turunkan aku, banyak orang yang melihat kearah kita."


"Kau bilang akan menurut."


"Tapi--"


"Shhh."


Violet menghela nafas kasar, dan akhirnya menuruti semua apa yang Arjuna inginkan. Tak boleh membantah sekalipun.




Hai hai, gimana kabarnya? semoga sehat-sehat ya.


Ga kerasa udah mau 2022 aja.