
Hai, apa kabar kalian semua... Semoga sehat-sehat ya..
Sebelum mulai, aku mau berterima kasih karena kalian udah mampir, aku terharu. Kalo bisa tinggalkan jejak kalian, oke?.
Tanpa berlama-lama, mari kita langsung mulai!!.
•
•
Besoknya, Violet terbangun dengan tubuh yang pegal.
"Shh.. sakit sekali."
"Tunggu, dimana dia?."
Tanpa banyak berpikir, ia turun dari atas kasur dan berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih-tatih. Setelah mandi ia turun ke bawah, tanpa sengaja ia melihat Arjuna sedang memasak dengan telanjang dada.
"Hei pakai pakaianmu! jangan hanya menggunakan celana pendek!, disini banyak pelayan yang melihat ke arahmu!." pekik Violet.
"Lalu?." jawab Arjuna dengan suara yang sedikit lantang, agar Violet dapat mendengar.
"Tunggu!."
Violet yang sudah dianak tangga bagian tengah, terpaksa harus naik lagi untuk mengambil jubah mandi Arjuna.
Tak tak tak.
Suara langkah kaki itu semakin dekat dengan Arjuna, hingga langkah itu berhenti tepat disebelahnya. Arjuna pun berbalik dan sedikit memiringkan kepalanya.
"Pakai, ini akan menutupi tubuhmu."
"Kau.."
"Jangan berpikir macam-macam, cepat pakai."
Arjuna tersenyum kecil. Ia pun mencuci tangannya terlebih dahulu lalu memakainya.
"Lain kali tak usah berbohong, cemburu ya cemburu saja."
"Siapa yang cemburu?! aku tidak cemburu!."
Arjuna mencolek hidung, kemudian mencubitnya dengan perlahan.
"Jangan marah-marah, itu tidak baik untuk adik kecil kita ini." ujarnya sambil mengelus perut Violet. Violet mencibirkan bibirnya lalu menepis tangan Arjuna.
"Sudah sana cepat masak, aku sudah lapar.. atau tidak aku akan memasaknya sen--"
"Duduk saja dulu, ini akan selesai dalam beberapa menit."
"Baiklah-baiklah tuan muda yang tampan..."
Violet cekikikan, kemudian pergi ke kursinya. Wanita itu bersenandung sambil terus memperhatikan Arjuna memasak.
"Kecilkan lagi apinya, itu terlalu besar."
"Segini? apa kurang kecil."
"Iya itu sudah cukup."
•
"Ah... bosan sekali.. aku ini seorang istri atau seorang anak? masa pekerjaan ku hanya tidur makan tidur makan, si sialan itu bahkan tak memperbolehkan ku bekerja di kantor, atau paling tidak.. memperbolehkan ku membersihkan rumah ini."
"Siapa yang kau bilang sialan, hm?."
"Pemilik rumah ini, ya! lebih tepatnya kau."
"Coba katakan sekali lagi."
Violet terkejut melihat Arjuna sudah disebelahnya.
"K-kau.."
"Ayo, katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya."
"Aku tak bilang apapun."
"Oh, ya?."
Drrrtt drrrtt.
"Ponselmu berbunyi."
"Itu bukan ponselku. Coba kau lihat ponselmu yang retak itu."
"Hei, retak-retak begini masih bisa dipakai tahu tidak."
"Tidak."
"Ya sudah."
Mila.
"Halo? kenapa?."
"Halo, em.. aku baru kembali dari Bangkok."
"Lalu?."
"Aku tidak punya uang untuk menyewa kamar hotel, jadi.. bisakah aku menginap di rumah mu sampai aku dapat pekerjaan?."
"*Baiklah, terserah mu, aku akan memberi alamatnya."
tutt tuttt*..
"Siapa?."
"Orang."
"Jujur."
"Temanku, kenapa?."
"Dia seorang pria? kenapa dia menelpon mu?."
"Bukan, dia perempuan, dan dia ingin menginap disini sampai dia dapat pekerjaan."
"Aku tidak tahu."
"Kenapa kau main bilang setuju huh? kau tak khawatir jika dia mengambilku darimu?."
"Heh, dia tidak mungkin seperti itu, aku sangat mengenalnya, kalau pun dia mau mengambil mu dari ku, aku tidak akan membiarkannya."
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? itu mengerikan." lanjut Violet.
"Ck, kau menghancurkan mood ku."
"Oh ya? bagus lah."
Ting tong.
"Biar ku cek."
Violet pun pergi untuk membukakan pintu. Ia menghela nafas ketika melihat temannya yang sudah di depan pintunya.
"Aku kira akan ke sini saat malam hari."
"Tidak. Oh ya, apa ini rumah barumu?."
"...Lebih tepatnya Ini rumah suamiku."
"Suami? kau..sudah menikah?."
"Ya, itu benar."
"Kenapa menikah duluan? bukankah nilai mu bagus?."
"Nilai tak bisa menentukan masa depan."
"Ah, baiklah, kita lupakan itu."
"Masuklah, kau duduk dulu di sofa."
"Oh, baik."
Mila masuk dan duduk di sofa sebelah Arjuna, dengan malas Arjuna memutar bola matanya.
"Halo, apa kamu suaminya?."
"Hm."
"Kamu sangat tampan, apa keberatan jika aku berfoto denganmu?."
"Apa dia benar-benar membiarkan wanita tidak tahu malu ini menginap disini? tch, yang benar saja."
"Dia suamiku, aku tak memperbolehkan orang-orang berfoto dengannya ataupun menyimpan fotonya sekalipun." timpal Violet.
"Kau terlalu mengekangnya, kasihan dia."
"Dia tak keberatan, benarkan?."
Arjuna hanya mengangguk dan lebih memilih memperhatikan istrinya. Violet menaruh nampan itu di atas meja lalu duduk ditengah-tengah mereka berdua.
"Aku akan membantumu menemukan pekerjaan."
"Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri."
"Baiklah."
"Oh, bagaimana dengan keturunan kalian? kau sedang mengandung kan, Vi? kalian tidak mungkin tidak melakukan itu kan?."
"Kenapa kau bertanya seperti itu?."
"Tidak, aku hanya--"
"Kau masuk lah ke kamar itu, istirahat disana, pasti kau lelah." sela Arjuna.
Arjuna berdiri kemudian menggendong Violet ke kamar. Didalam kamar, wanita itu tampak kesal dan sedikit muram.
"Ada apa?."
"Dia sudah berubah, tidak seperti dulu yang aku kenal."
"Mila?."
"Jangan sebut namanya, aku tidak suka."
"Kamu cemburu?."
"Jika aku bilang Iya?."
Dengan gemas Arjuna mengacak-acak rambutnya, entah kenapa, hatinya sudah terbuka untuk wanita itu.
"Kau.. kau membuat rambutku berantakan dan kusut."
"Akan ku sisir nanti."
Cup.
"Lucu."
"Hei! ka-kamu.."
"Kau lucu ketika cemburu."
"Lucu darimana nya?."
"Entahlah."
"Dasar aneh."
"Apa? coba katakan sekali lagi."
"Aneh."
"Lebih keras."
"Dasar aneh!."
Tanpa aba-aba, Arjuna mendorong tubuhnya ke atas kasur. Dengan seksama matanya melihat wajah cantik Violet, sangat cantik.
"Aku mengantuk."