
Tahun demi tahun berlalu, kini anak yang dikandung oleh Violet sudah lahir dalam keadaan sehat, dan sekarang tumbuh dan sudah berusia 4 tahun.
Ia jarang bertanya pada ibunya, Violet. Tentang, dimana ayah kandungnya.
"Ibu.." ujar pria kecil yang sedang memakai sepatunya.
"Iya sayang?."
"Ibu tidak usah terburu-buru menjemputku, kan ibu juga harus bekerja."
Benar, Violet harus berangkat bekerja hari ini. Ia tak mau putranya mencontoh sikap malasnya.
"Johan.."
Yang merasa dipanggil oleh Violet pun menoleh. Johan Sebastian, itu adalah namanya.
"Iya bu?."
"Kamu.. err.."
"Kenapa bu?."
"Em.. tidak, ayo berangkat."
Violet menggendong Johan dan membawanya menuju mobil.
...~`• - • `~...
"Ini bukan ya? AG Company.."
Violet masuk kedalam perusahaan itu, setelah masuk ia bertanya kepada orang-orang, dimana ruang presdir dari AG Company itu.
"Ini Vi ruangannya."
"Terimakasih."
Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
"Masuk."
Violet perlahan masuk. Kursi itupun berputar menghadapnya. Mereka berdua berteriak ketika melihat satu sama lain.
"Kamu?!."
"K-kenapa bisa? ini--"
"Jangan tanya kenapa aku disini, ini perusahaan ku. AG Company, A untuk Arjuna dan G untuk Gunadarma." jelas Arjuna.
"Dan kamu, ada apa kesini? sudah ku katakan jangan menemuiku untuk mengganti rugi ataupun bertanggungjawab."
"Pikiranmu terlalu jauh, aku kesini untuk bekerja bukan untuk bertemu denganmu."
"Saya pecat."
"Apa?! kau ingin mencari masalah dengan ku? huh?!."
"Justru kau yang mencari masalah duluan."
Violet mendatanginya. Ia menaruh berkas juga tasnya diatas meja kerja Arjuna.
"Heh, enak sekali bicaranya."
Violet mencondongkan tubuhnya kearah Arjun, hingga manik mata mereka saling bertukar pandang.
"Presdir Arjuna.. anda duluan yang mencari masalah dengan saya, jika anda tak bertemu denganku waktu itu, mungkin hidupmu akan tenang." kata Violet sembari tersenyum kaku.
"Itu salahmu."
"Huh? apa? salahku? jelas-jelas itu salahmu! kamu duluan yang menarik ku masuk kedalam sebuah ruangan, aku ingin melarikan diri tapi kamu mengunci pintunya! kamu lupa?! dasar gila!."
Violet membuang mukanya, mengambil tas juga berkasnya dan pergi dari ruangan Arjuna. Tapi sebelum ia pergi dari ruangan Arjuna, ia mengatakan sesuatu.
"Aku akan tetap bekerja disini, jangan mengurusiku dan kerjakan pekerjaanmu sendiri."
Brak!
Arjuna menyunggingkan senyuman dan menaikkan satu alisnya.
"Menarik."
"Ardian, cari tahu tentang dia. Jika ada, cari tahu anakku juga."
"Iya pak." sahutnya dari luar. Ardian, adalah asisten Arjuna.
Ardian kembali ke tempatnya dan mencari tahu tentang Violet dan Johan. Tak butuh waktu lama, Ardian pergi ke ruangan Arjuna dengan membawa data yang suruh.
"Pak, ini adalah data yang bapak minta."
"Bacakan."
"Baik."
"Violet Rosalina. Usia 23 tahun. Anak pertama dari 1 bersaudara. Tinggi badan 155 cm. Berat badan 46 kg. Tinggi IQ 125. Lingkar dada 85. Lingkar pinggul 88. Lingkar pinggang 86. Seorang anak yatim dari keluarga kaya raya. Lulusan SMK jurusan tata boga dengan nilai yang paling tinggi disekolahnya."
"Cukup. Itu sudah cukup."
"Baik pak."
"Sekarang giliran anakku."
"Iya pak. Johan Sebastian. Usia 4 tahun. Anak pertama tanpa saudara. Tinggi 103 cm. Berat 23 kg. Tinggi IQ 130. Ling--"
"Stop. Sekarang, dimana Johan sekolah?."
"Di taman kanak-kanak Wevery pak."
"Lalu dimana mereka tinggal?."
"Disebuah apartemen. Jalan Garuda, blok A."
"Saat jam pulang, kita ikuti kemana dia pergi."
"Iya pak."
"Kembali bekerja."
"Baik pak."
Ardian keluar meninggalkan Arjuna di ruangannya.
"Violet.. dan Johan.."
Tanpa sadar Arjuna tersenyum tipis lalu pergi ke tempat Violet dengan membawa cangkirnya.
...~`• - • `~...
Disisi lain, Violet sedang mengurus beberapa berkas. Tetapi kegiatannya itu terhenti setelah mendengar perkataan Arjuna.
"Kamu salah di bagian itu, cepat perbaiki."
Violet menoleh kearah Arjuna.
"Ini sudah benar, matamu saja yang salah dan perlu diperbaiki." jawab Violet ketus.
Arjuna menaruh cangkirnya diatas meja kerja Violet.
"Buatkan aku kopi."
"Buat saja sendiri, kenapa harus aku."
"Buatkan atau gaji akan dipotong."
Violet berdiri dan membawa cangkir itu ke dapur dengan perasaan kesal. Saat sedang membuatkan kopi, ia mendengar perbincangan karyawan baru yang sama sepertinya.
"Rekomendasi banget ini untuk yang cari pekerjaan. Sudah gajinya besar, karyawannya ramah-tamah dan bonus ada mood booster nya disini."
"Mood booster? siapa?."
"Itu lho, pak Arjuna."
"Oh, iya juga."
"Wah cocok itu, untuk aku."
"Cocok bagaimana--."
"Shhh.. kan aku 20 tahun, dan pak Arjuna 29 tahun. Jadi, cocoklah untuk jadi sugar daddy."
"Iya kalau pak Arjuna singel."
"Ish, sudahlah. Jadi, putus asa aku kalau kamu bilang seperti itu."
Violet menghela nafas lalu pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruangan Arjuna.
Tok tok tok.
"Masuk."
Violet membuka pintu, berjalan menuju Arjuna lalu menaruh cangkirnya. Arjuna meraih cangkir itu lalu meminumnya.
"Terlalu manis, buatkan yang baru."
"Tidak mau, buat saja sendiri. Aku seorang karyawan bukan babu."
"Kamu istriku bukan karyawan ku."
Seketika Violet menyipitkan sebentar matanya.
"Sejak kapan aku menjadi istrimu? huh? jangan mimpi."
"Sejak.."
Arjuna berjalan mendekatinya. Arjuna terus berjalan maju dan Violet berjalan mundur. Hingga, Arjuna mengurungnya. Arjuna merunduk dan melihat wajah Violet dengan intens, gadis itu tersenyum dan..
"Akhh!" pekik Arjuna
Violet menaikan kakinya dengan cepat hingga terkena milik Arjuna. Gadis itu mendorongnya dan segera pergi dari ruangan Arjuna.
"Dadah om!"
Dengan beraninya, Violet berkata seperti itu sambil lari terbirit-birit.
"Heh.. awas saja nanti."
...~`• - • `~...
Akhirnya jam pulang pun tiba, sekitar pukul 15.30. Violet bergegas menuju Wevery, pasti anaknya menunggu lama.
"Ibuu...!!" pekik Johan yang berlari mendatanginya.
Violet memeluknya dan mengusap pucuk kepalanya.
"Maaf ibu baru jemput jam segini."
"Tidak apa-apa bu.."
"Em.. bu?."
"Iya sayang?."
"Itu.. dibelakang ibu siapa?."
Violet menoleh kebelakang, ia kaget dengan keberadaan Arjuna yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.
"Kamu sedang apa disini?."
"Ternyata dia lebih mirip denganku."
"Hei, kamu mendengar ku?."
"Menjemput anak."
Violet hanya ber-oh ria saja. Baru saja ia ingin menggendong Johan, Arjuna lebih dulu menggendongnya.
"Lho? itu anak aku, anak kamu--"
"Ini anakku."
"Paman siapanya aku?." tanya Johan sembari menatap lekat lelaki didepannya itu.
"Aku ayahmu, Johan."
Johan mengerutkan keningnya dan menoleh kearah Violet, dan dibalas anggukan olehnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Johan memanglah anak mereka berdua.
"Ayah?."
"Iya sayang..?"
"Ayah kemana saja hingga sekarang baru menemui aku.."
"Ayah ada urusan pekerjaan.."
"Tapi tidak bisakah ayah pulang? untuk menemuiku dan ibu? sebentar saja."
"Maaf."
"Maaf? untuk apa ayah meminta maaf? aku hanya rindu ayah, aku kira aku tak punya ayah."
"Baiklah, kalian berdua cepatlah pulang dan jangan pergi kemanapun setelah ini." celetuk Violet.
Ia berjalan menjauhi Arjuna dan Johan.
"Ibu mau kemana?!." teriak Johan.
"Ibu ingin pulang! kamu sama ayahmu saja! terserah mu ingin tinggal bersama ayahmu atau ibu! ibu tidak akan melarangmu!."
Arjuna dan Johan saling memandang satu sama lain.
"Masuk mobil dulu ya, biar ayah coba bicara."
Johan mengangguk. Arjuna menyusulnya yang hampir masuk kedalam mobil, dan cepat Arjuna menarik tangannya.
"Apa?."
"Pulang."
Violet menghempaskan tangan Arjuna dengan kasar.
"Tidak, aku tidak mau ikut. Secara hukum kita bukanlah pasangan suami-istri."
Violet masuk kedalam mobilnya dan mulai menjauh. Arjuna kembali lalu masuk kedalam mobilnya.
"Ibu sudah pulang..?."
"Iya.."
"Ayah, jari ayah kok tidak ada cincinnya? persis seperti ibu."
"....."
"Ayah kenapa diam saja?."
"Mau ayah ceritakan yang sebenarnya?."
"Boleh, jujur itu lebih baik daripada berbohong. Ibu mengajarkanku seperti itu."
Arjuna mulai menceritakan segalanya. Toh sekeras apapun mereka menyembunyikannya, pasti akan ketahuan juga.
"Em.. begitu. Tak apa! aku tak masalah, yang terpenting.. ayah dan ibu harus tetap bersamaku."
"Ayah juga harus menikahi ibu secepatnya." lanjutnya
"Iya, ayah pasti akan menikahi ibumu."
Arjuna mengacak-acak rambutnya lalu mengecup kening Johan.
"Mau tinggal sama ayah atau ibu?."
"Keduanya. Aku tidak suka memilih salah satu, ayah."
"Baiklah jika itu keinginanmu, kita akan menyusul ibumu."
Merekapun mengikuti Violet menuju apartement. Karena Johan mengantuk berat, ia akhirnya tertidur dengan kepalanya yang berada diatas paha Arjuna.