My Husband Is A CEO And Secret Agent

My Husband Is A CEO And Secret Agent
13.normal story



Luna menatap Pras yang masih belum sadarkan diri ,lalu pandangan Luna beralih pada luka Pras yang sudah di perban oleh dokter pribadinya,saat ini mereka sedang di dalam kamar mereka di kediaman rumah pras.


saat Luna sedang menunggu ambulance ,lalu muncul tiba tiba dokter pribadi Pras


Luna menurut saja saat mereka membawa Pras yang penting Pras selamat .


Luna bingung kenapa Pras di bawa ke rumah bukan di bawa ke rumah sakit


Luna lalu memarahi teman Pras ,kalau tahu begini dia akan memutuskan untuk menunggu ambulance saja


tapi rasa marah Luna perlahan sirna saat teman Pras menjelaskan alasannya tidak membawa Pras ke rumah sakit tapi malah ke rumah ,itu semua karena Pras adalah salah satu pemilik perusahaan terbesar di dunia kalau orang luar tau itu akan berdampak besar pada perusahaan pras.


para pemilik perusahaan lainnya yang merupakan pesaing perusahaan Pras akan gencar meruntuhkan perusahaan, karena CEO nya sedang terluka.


walaupun tidak mengerti dengan hal yang berbau perusahaan, tapi Luna paham apa yang di maksud oleh teman Pras itu ,lagipula alat medis yang ada di rumah Pras sangat lengkap ,hanya Luna saja yang belum pernah melihatnya karena Pras sengaja membuat satu ruangan seperti kamar di rumah sakit


setelah Pras di tangani oleh dokter pribadinya ,barula Pras di pindahkan ke kamar mereka .


Luna bahkan belum membersihkan diri sejak tadi ,bagaimana tidak semua pikirannya tertuju pada Pras .saat dokter berusaha mengeluarkan peluru yang ada di lengan Pras hal itu memakan waktu hampir dua jam, selama itu juga luna tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Pras, luna melihat jam yang menunjukkan pukul 6 sore dia berinisiatif untuk mandi terlebi dahulu ,agar nanti saat Pras bangun Luna dapat mengurusnya .entah mengapa Luna merasa tidak akan tega membiarkan seseorang yang sedang sakit sendirian.


lima belas menit berlalu ,Luna keluar dari kamar mandi ,sudah lengkap dengan baju gantinya ,Luna hanya mengenakan gaun berwarna putih selutut


"Pras"


ucap Luna mendekati Pras yang baru saja siuman .


Luna melihat Pras yang sepertinya masih sangat lemah, Luna lalu membantu Pras untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang


"apa kau ingin minum?"


Luna duluan bertanya sebelum Pras meminta apa yang di inginknnya ,Luna juga tahu melihat gelagat pras yang kehausan


"hn"


Luna langsung saja menuangkan air yang ada di dalam teko yang sengaja di letakkan di meja kecil di samping ranjang, Luna pikir pasti air itu akan di butuhkan dan benar saja luna tidak perlu meninggalkan Pras hanya untuk mengambil air minum saja


Luna lalu membantu Pras untuk meminum air tersebut, dengan cara memegang cangkirnya setelah selesai luna kembali meletakkan gelas sisa tersebut ke tempat semula


"bagaimana Pras, apa masih sakit?"


tanya Luna, dia memegang tangan Pras ,wajah Pras terlihat masih pucat .Pras meringis saat Luna menyentuhnya ,Luna segera menjauhkan tangannya


"iya"


jawab Pras lemah


"kau seharusnya lebih berhati hati Pras"


luna menasihati Pras agar lebih waspada mengingat dia adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar di dunia ,menurut yang di tuturkan teman Pras tadi, banyak sekali yang ingin menjatuhkannya ,Luna paham bahwa pekerjaan Pras sangat berbahaya


"semua di luar dugaan luna"


Pras juga tidak menyangka ada orang yang tiba tiba menembaknya saat dia sedang lengah


"kira kira siapa yang melakukan ini padamu?"


Luna bertanya pada Pras karena dia tidak tahu siapa saja rekan bisnis Pras ataupun pesaingnya, hanya Pras yang dapat mengira ngira


"aku juga tidak tahu, tapi aku akan menyuruh temanku untuk mencari tahu"


Pras tau siapa yang melakukan ini ,dia hanya tidak ingin Luna mengetahuinya karena orang yang menembaknya adalah anggota mafia. Pras sempat melihat jaket yang ia pakai sebelum pergi meninggalkan tempat


tapi Pras tidak tahu persis siapa orangnya karena Pras tidak melihat wajahnya ,Pras tidak menyuruh temannya yang bernama Niko, tanpa di suruh nikopun akan mencarinya sendiri dan mungkin juga dia minta bantuan dengan anggota FBI


"sudahla, untuk sementara lupakan dulu ,kau harus fokus pada kesehatanmu "


Luna tidak ingin Pras terlalu memikirkan siapa yang menembak nya Pras harus fokus untuk kesembuhannya dulu


"Hn"


gumam Pras


Pras terlihat memikirkan sesuatu ,Pras tahu ada yang tidak beres dengan peluru yang di tembakkan ke lengannya ,biasanya Pras tidak akan merasa lemah hanya karena sebuah luka tembak .


sepertinya peluru itu di lumuri racun, Pras akan bertanya pada dokter nanti.


"Pras istirahatlah dulu nanti aku akan kembali lagi ke sini"


tanpa mendengar jawaban dari pras ,Luna bergegas pergi meninggalkan Pras saat Luna pergi, Pras mengambil handphonenya


"halo bagaimana kondisimu Pras?"


belum sempat Pras berkata dokter sudah menanyakan kondisi Pras terlebi dahulu dokter Mirza adalah dokter keluarganya sejak ia kecil ,saat orang tuanya menetap di luar negeri dokter Mirza tetap bekerja untuk Pras jadi wajar bila Mirza menghawatirkan keadaan Pras


"sudah lebi baik"


"syukurlah, kau tahu luna sangat mengkhawatirkan mu sampai ia tidak beranjak dari depan ruang tempat aku mengoprasimu untuk mengeluarkan peluru"


"Hn,apa mereka melumuri racun di peluru itu?"


tenya Pras untuk memastikan opini yang ada di pikirannya


"iya, kau benar ,sepertinya kau sudah mengetahui itu tapi kau tenang saja aku sudah memberikan penawarnya"


Pras sudah menduga kalau apa yang ada di pikirannya itu memang benar"


"baiklah aku tutup telpon dulu"


Pras segera memutuskan telpon saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ,Pras segera meletakkan handphone di atas meja


krettt............


pintu di buka, menampilkan Luna yang membawa nampan dengan mangkuk yang mengeluarkan asap ,sepertinya makanan yang luna bawa baru saja di masak


Luna meletakkan nampan di atas meja


dia mengambil mangkuk itu saja


"sekarang kau harus makan dan minum obat"


Luna duduk di samping Pras


Luna meniup bubur yang ada di atas sendok agar Pras tidak kepanasan saat memakannya.


hati Pras menghangat melihat perhatian Luna Pras jadi tidak menyesal juga terluka seperti ini jika membuat Luna menjadi sangat memperhatikannya.


"buka mulutmu Pras"


Pras menuruti perinta Luna dia membuka mulutnya


"kau pasti memasak sendiri bubur ini"


Pras dapat menebak dari cita rasa dari bubur yang ia makan ,Pras tahu dari rasa makanan karena memang sejak dulu ia sudah terbiasa dengan masakan yang di masak Luna


"iya"


jawab Luna masih sibuk meniupi bubur Pras


"terimakasih Luna"


Luna mendongak menatap Pras yang tersenyum lembut padanya


"sama sama "


Luna membalas senyum yang di berikan Pras


tak berselang lama, bubur Pras sudah habis. Luna meletakkan mangkuk bubur kosong ke atas nampan lagi,luna lalu mengambil obat untuk Pras minum .Luna menyodorkan obat itu pada Pras ,luna lalu memberi air agar Pras dapat dengan mudah menelannya


"sekarang kau harus tidur"


Luna membantu Pras berbaring sekarang ,Luna memegang hati hati luka tembak Pras, Luna juga tidak lupa menyelimuti Pras


"Luna,temani aku sampai aku tidur"


ucap Pras saat melihat Luna yang beranjak pergi meninggalkan Pras


"apa"


Luna menoleh terkejut mendengar permintaan Pras


"sebentar saja"


Pras memohon pada luna ,Luna menghembuskan nafas pasra melihatnya


"baiklah"


Luna naik ke atas ranjang ,dia membaringkan diri di samping Pras ,Pras segera menarik tubuh luna untuk mendekat dengan tangannya yang tidak terluka ,Pras mulai memejamkan matanya untuk menuju alam mimpi