MY CRAZY LOVELY

MY CRAZY LOVELY
Episode 40 #Mereka mengatakan hal yang sama



Arinka kembali ke kelasnya bersama Arif, namun dia harus melewati kelas Arif dulu sebelum ke kelasnya. Arinka sempat berhenti sejenak dan berfikir dia pasti akan bertemu Farel.


“Loe kenapa berhenti?” Arif bingung.


“Gue harus lewat kelas loe kak, kalo ketemu kak Farel gimana?”


“Gimana apanya maksud loe?”


“Ya gue harus gimana waktu ketemu dia nanti?”


Arif paham maksud adeknya, ini pasti soal Arinka yang akan meminta maaf atau enggak ke Farel.


“Hmm,biasa aja lah dek. Nggak usah loe pikirin dulu.” Jawab Arif dan Arinka mengangguk.


Saat Arif memasuki kelasnya,ternyata ada Farel disana. Arinka  melewati Farel sedang melihat kameranya di depan kelas sambil menyender ke dinding. Arinka berpikir untuk minta maaf tapi masih gengsi. Akhirnya Arinka  hanya melewati begitu saja, Farel sempat melirik Arinka  tapi tidak bisa berkata apa-apa.


 


Arinka masuk ke kelasnya dan disambut pelukan oleh Ine dan Ely.


“Arin, loe tadi kemana?” kata Ely


“Kita tadi langsung cari loe, tapi nggak ketemu.” Kata Ine. Mereka berdua mendengar kejadian Ega dan Farel tadi, tapi ketika akan mengejar Arinka, mereka tidak menemukannya.


“Gue ke abang gue”. Arinka duduk dikursinya


“Loe nggak apa-apa kan?” tanya Ine.


“Iya, gue udah nggak apa-apa” jawab Arinka


“Gue heran deh, kenapa sih tuh si mak lampir? Dari kita masuk sekolah, perasaan dia nyari gara-gara terus sama loe” kata Ely


“Gue juga nggak tau, dia selalu bilang gue yang bikin kak Farel jauhin dia, gue ganjen ke kak Farel, gue selalu deketin kak Farel. Tapi gue nggak pernah ngerasa gitu” curhat Arinka


“Tapi memang loe deket sama kak Farel, Rin..” ucap Ine


“Ucapan loe sama aja kayak abang gue” . Ine dan Ely langsung menoleh bersamaan.


“Maksud loe??” ucap mereka bersamaan


“Ya bilang gue deket sama kak Farel,padahal gue ngerasa sikap gue biasa aja, gitu juga sikap kak Farel.” Jawab Arinka lagi


“Tapi Farel lebih banyak ngomong kalo sama loe, nggak seperti ke cewek lain.” Tiba-tiba Yugha ngomong. Dia ke kelas  Arinka, tentu saja untuk bertemu pacarnya, Ely.


“Loe ucapin hal yang sama juga kayak abang gue Kak..” kata Arinka


“Itu karena gue dan abang loe temen Farel, yang tahu bagaimana sikap dia dari dulu ke cewek-cewek. Hai pacar...” Yugha langsung menyapa pacarnya....


“Hai juga pacar...” jawab Ely


“Ish, apa-apaan sih kalian, eneg gue” Ine melengos dan Ely langsung menjulurkan lidahnya.


“Dan jawaban gue sama seperti ke abang gue, kalau sikap kak Farel ke gue itu karena gue adik temennya, adiknya kak Arif, sama seperti sikap loe ke gue kak” jawab Arinka lagi.


“No, beda nenk...” jawab Yugha lagi.


“Beda dimana coba kak?? sama seperti sikap loe ke gue sebagai adik kak Arif, ya begitu juga sikap kak Farel ke gue.” Arinka makin menjelaskan


Yugha mengelengkan  kepalanya


“So, beda dimana kak?jelasin ke gue” Arinka melipat tangannya


“Dan Farel adalah tipe cowok yang pendiam, dia nggak pernah banyak ngomong ke cewek. Yang buat semua cewek penasaran sama dia”. Kali ini Ine dan Ely yang mengangguk membenarkan ucapannya Yugha.


“Tapi semenjak ketemu sama loe, menurut gue dia agak berubah, dia udah banyak ngomong sama loe, bahkan mau antar loe pulang. Bisa dibilang loe cewek yang beruntung yang bisa dibonceng sama Farel.” Ucap Yugha


Ine dan Ely langsung menutup mulutnya kaget, sedangkan Arinka mengernyitkan alisnya.


“Sikap kak Farel biasa aja sama gue. Loe sama si mak lampir aja yang halu” Arinka makin jengah.


“Gue nggak halu nenk” Yugha mengacak rambut Arinka. Ely  terkejut melihatnya.


“Pacar nggak usah cemburu, dia adik sohib gue, dia udah jadi adik gue” Yugha langsung menjelaskan ke Ely, dan Ely pun kembali tersenyum.


“Naaahhh kan... loe sendiri yang jawab kak, jadi gue bener kan, sikap loe dan  semua temen-temen abang gue tuh sama. Karena gue adik kak Arif dan kak Haga, jadi si mak lampir nggak perlu nuduh gue macem-macem” Arinka langsung membalas Yugha.


“Oke deh, gimana menurut loe aja. Tapi seperti yang gue bilang, selama gue berteman sama Farel, baru kali ini gue lihat kayak gini. Gue aja sempat heran. Ya mungkin karena dia ngerasa nyaman deket loe” Yugha mengalah, mengakhiri debat kusir ini.


“Heeuuhhh..... kata loe sama lagi sama abang gue” Arinka menundukkan kepala lalu terdiam.


Yugha, Ely dan Ine heran melihatnya.


“Loe kenapa lagi?” tanya Ine.


“Heuuhh, gue bingung” kata Arinka


“Bingung kenapa lagi?” tanya Ely


“Loe tahu kan kata-kata gue yang terakhir tadi” Ely dan Ine menganggukkan kepalanya.


“Menurut loe, kata-kata gue keterlaluan nggak sih?” tanya Arinka lagi. Ely menggelengkan kepala sedangkan Ine menganggukkan kepalanya.


“Kalian berdua ini gimana sih? Jawab yang bener donk!” Arinka kesal


“Hmm, loe  sekarang maunya gimana?” Yugha menengahi.


“Ya gue bingung, gue harus minta maaf atau nggak ke kak Farel” Arinka memegang kepalanya dengan kedua tangannya


“Menurut loe?” Yugha balik bertanya


“Gue nanya ke kalian karena gue nggak tahu harus gimana kak” Arinka makin kesal karena Yugha tidak memberikan jawaban yang pasti.


“Okeh, menurut gue, itu balik lagi ke loe sendiri mau minta maaf atau enggak.” Jawab Yugha


“Gue setuju kata kak Yugha, Ya karena loe sendiri yang lebih tahu harus gimana.” Jawab Ine juga


“Heeuuhhhh..... dan kesekian kalinya,kalian mengucapkan hal yang sama seperti abang gue”. Arinka menghela napasnya dan berjalan keluar kelasnya.


“Itu karena kita semua sayang sama loe Rin...” teriak Ely


Arinka balik badan dan memberikan bentuk hati dengan jarinya.


“Thanks”


“She is okey?” Ely menatap Yugha dan Ine


“She is fine. Loe tenang aja, biar aja dia sendiri dulu.” Kata Yugha, Ine pun mengangguk.


\=======================================================================================