
@paginya
“Mbak, dipanggil tuan nyonya buat sarapan” Bi Inah mengetuk pintu kamar Arinka
“Iya bi..” Arinka keluar kamarnya tapi sambil manyun ke ruang makan. Papa Fathur , Bunda Atika dan Haga yang sudah berada diruang makan tersenyum melihat tingkah lakunya.
“Loe kenapa dek??? pagi-pagi sudah manyun gitu” sapa Haga
“Gimana gue nggak manyun. Loe liat aja gue gimana, sadis banget sich kak OSPEK disekolah loe! belum apa-apa sudah bikin ribet kayak gini, gue kayak orang gila”. jawab Arinka
Haga melirik penampilan adiknya.
"Astaganaga.... loe kenapa jadi begini dek? Arin mau ke RSJ mana??" Haga sengaja mendramarisir kekesalan Arinka.
"Sialan loe kak, sekolah loe nggak ada kerjaan ya sama anak baru???" Arinka makin gondok melihat kelakuan kakaknya.
Kalo dipikir pantas aja Arinka manyun. Penampilannya pagi itu mirip orang gila.
Rambut diikat dua, yang satu pakai pita warna merah, yang satu warna putih, terus pakai topi kerucut dari karton warna putih dan talinya merah. Dilehernya ada kalung tali rafia warna merah yang dihiasi pete, cabe merah, dan permen. Ditambah lagi kalung papan namanya “ARINKA ADIARIZKI PUTRI”
Pakaiannya sich standar yaitu kemeja putih dan rok hitam selutut tapi bagian bawahnya yaitu kaos kakinya lain sebelah, yang kanan warna hitam, yang kiri warna putih. Hal ini membuat Arin makin seperti orang gila.
Papa,bunda dan Haga hanya bisa senyum melihat Arin yang manyun.
“Ya udah, sarapan dulu yuk biar ada tenaganya” kata Papa.
Arin yang masih manyun langsung duduk deket Haga dan mengambil roti yang sudah disiapkan Bundanya.
"Kak Arif mana???”Arin menyadari kakak sulungnya tidak ada.
“Udah berangkat setengah jam tadi” jawab Haga
“Kok berangkat duluan???kok gue ditinggalin??”
“Gue kan udah bilang semalem loe berangkat bareng gue,kak Arif itu ketua OSIS, dia kasi pengarahan dulu ke panitia yang lain. Kak Arif juga jadi penanggung jawabnya. Kita nggak bakalan ketemu dilapangan.”jelas Haga ke adiknya
“Kok bisa??? loh kan loe juga jadi OSIS kak, kok loe nggak bareng sama kak Arif???
“Dasar oon,kalo gue berangkat bareng kak Arif, loe berangkat sama siapa??” Haga getok kepala Arinka pakai sendok yang ada didekatnya.
ada apa-apa” Haga menjelaskan ke adiknya panjang lebar.
Ooooo.... Arinka Cuma bisa meng-Ooo-kan aja sambil mengelus kepalanya yang abis digetok sendok Haga.
Selesai menghabiskan sarapannya Haga dan Ayuni berpamitan dengan orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. Arinka dibonceng Motor merahnya Haga. Mengingat jarangnya kebersamaan mereka yang seperti ini, Arin senyum-senyum ketika akan dibonceng kakaknya. Haga yang melihat Arinka senyum-senyum sendiri langsung mencubit paha adiknya.
“Kenapa loe senyum sendiri??”
“Hehehehe nggak ada kak” Arin tidak menyadari kalau Haga memperhatikan dirinya dari spion.
“Eehhh, ntar gue turunin loe agak jauhan dikit dari gerbang sekolah ya”
“Haaa... tega banget sich loe jadi kakak” Arin kaget
“Bukan begitu,biar nggak dilihat sama senior yang lain kalo loe bareng gue. Mau loe jadi bulan-bulanan senior???”
“Ooo iya ya ya” Arin ngangguk tanda mengerti.
“Ternyata kakak-kakak gue perhatian banget sama gue ya” gumam Arin dalam hati.
@di Ruang OSIS
“Pokoknya semua harus menunjukkan sikap yang baik dan menjadi teladan bagi adik-adik baru sekarang. Tidak ada kekerasan untuk anak baru” pesan Arif kepada Panitia OSPEK yang lain.
“Siap...” koor semua panitia
“Eh..Haga mana kak??” tanya Anda. Satu sekolah sudah tahu kalau Arif dan Haga bersaudara.
“Haga lagi ada tugas khusus dari gue” jawab Arif singkat
“Oooo”
“Siapa aja yang belum datang???” tanya Arif
“Sedikit lagi tinggal Mita, Fitri, Ega, Haga dan Farel” Yugha absen teman-temannya.
"Ya udah, nanti sampaikan ke mereka apa yang gue sampein tadi. Inget ini tanggung jawab kita semua yang jadi panitia”. Perintah Arif yang keliatan cool banget di depen teman-temannya.