
Nisha dan Ayra telah sampai di depan restoran yang cukup megah dengan papan nama yang terpampang "Restoran Sriwijaya".
Nisha menatap seksama papan nama tersebut.
"Ra, benerkan ini tempatnya?" tanya Nisha memastikan.
"Iya Nish bener," ujar Ayra sambil tersenyum.
"Ehm... sampai sini aja Nish, makasih banyak ya," ujar Ayra lagi.
"Oke deh," ujar Nisha.
"Ati-ati ya Nish, jangan melamun lagi," ujar Ayra.
"Iya- iya Ra," jawab Nisha.
Ayra berjalan memasuki restoran tersebut. Baru saja melangkahkan kaki kedalam restoran, mata sudah dibuat takjub dengan hiasan-hiasan antik yang berjajar rapi disetiap sudut ruangan.
Ayra lalu menghentikan langkahnya sesaat menikmati keindahan hasil karya tangan-tangan profesional ini. Namun lamunannya terbuyarkan oleh tepukan dipundaknya.
"Maaf dek, mau pesen apa ya?" kata wanita cantik berseregam khas restoran ini. Ayra menyapukan pandangannya melihat seksama perempuam dihadapannya ini.
"Eh.. i-iya kak, saya dapat panggilan kerja ditempat ini," ujar Ayra gugup.
Perempuan itu mengernyitkan dahinya, memandang tajam Ayra, dari atas sampai bawah.
"Hem..siapa namamu?" tanya perempuan itu sambil terus memandang Ayra penuh penilaian.
Ayra mengulurkan tangan nya.
"Ayra kak," kata Ayra sopan sambil tersenyum.
Perempuan tersebut melempar senyum ramah dan menyambut tangan Ayra.
"Saya Azizah, saya juga karyawan disini."
"Iya kak, salam kenal," ujar Ayra.
"Oke Ayra, kamu duduk dulu ya disitu." Tangannya menunjukan kursi tunggu yang berbaris tak jauh dari meja kasir.
"Silahkan Ayra, aku akan menemui Pak Aldi, beliau adalah orang kepercayaan yang mengurus dan mengelolah restoran ini," kata perempuan cantik yang diketahui bernama Azizah tersebut.
"Baik kak, terima kasih," ujar Ayra.
Perempuan itu berjalan perlahan kedalam.
Ayra masih memperhatikan langkah Azizah sampai ia menghilang dibalik tembok besar yang berhiasakan ornamen antik. Tiba-tiba mata Ayra menatap tiga lukisan yang tersusun rapi.
"Wow...keren banget lukisan itu," ujar Ayra pelan. Arya terkagum-kagum melihat lukisan karya Affandi Koesoema. Beliau sudah menjadi legenda pelukis di Indonesia. Affandi dikenal dengan gaya melukisnya yang menumpahkan cat-cat berwarna ke atas kanvas, ia kemudian menyikat warna cat itu dengan jarinya dan hasilnya bakal buat semua mata terpana.
*****
Tak lama kemudian Azizah sudah kembali lagi. Azizah tiba-tiba menepuk pundak Ayra yang masih terlihat melamun.
"Hey Ayra," ujar Azizah.
Ayra spontan menggedikan bahunya dan melompat dari duduknya.
"Eh.. i-iya kak," jawab Ayra kaget.
"Melamunin apaan sih Ra?" ujar Azizah sambil menutup mulutnya, menahan tawa melihat ekspresi Ayra barusan.
Azizah mengikuti pandangan Ayra yang tak lepas menatap lukisan-lukisan itu.
"Hem...lukisan-lukisan itu memang sengaja dipasang disitu Ra, agar lebih menarik minat pengunjung," ujar Azizah menjelaskan.
Ayra hanya tersenyum mendengar penjelasan Azizah.
"Yuk Ra, kita keliling dulu." Ajak Azizah dan terus melangkah mengelilingi restoran ini.
"Iya kak, tapi apa saya sudah diterima bekerja hari ini kak?" tanya Ayra yang masih terus mengikuti langkah Azizah dari belakang.
Tiba-tiba Azizah menghentikan langkahnya, dan langsung berbalik menghadap Ayra.
Ayrapun spontan menabrakan diri tepat dipelukan Azizah.
"Eh ... ehm ... maaf kak, Ayra gak sengaja," ujar Ayra gugup.
"Hahaha ... iya Ra gak papa, ternyata kamu orangnya kagetan juga ya."
Ayra hanya tersenyum kemudian menunduk memperhatikan lantai. Ayra begitu malu karena ia sadar daritadi banyak yang memperhatikan mereka.
"Hey ... kayaknya lantai itu lebih menarik ya Ra daripada Aku?" Ujar Azizah dan langsung mensedekapkan tanganya didada.
"Enggak kok Kak, maaf ya Ayra tadi hanya ...." Ayra menggantung ucapannya.
"Sssttt ... udah Ra, Kakak paham kok, pasti Ayra gugupkan karena ini hari pertama?" tebak Azizah.
"Iya Kak, makasih udah mengerti," ujar Ayra lega.
"Santai Ra, kamu udah di terima bekerja disini tadi Pak Aldi sudah memberitahu Kakak bahwa hari ini kamu hanya perlu mengikuti pengarahan Kakak," ujar Azizah menjelaskannya.
Azizah menghembuskan nafasnya pelan.
" Hari ini kamu hanya perlu memperhatikan dan sedikit-sedikit mempelajri cara kerja disini, namun besok kamu sudah bisa bekerja seperti yang lainnya," ujar Azizah melanjutkan penjelasan nya.
"Baik Kak, terima kasih," Ujar Ayra.
"Kamu tau Ra, nama restoran ini terinspirasi dengan bangunan arsitektur abad ke-8, pada jaman Kerajaan Sriwijaya. Dekorasinya sangat keren dan elegan, serta Palembang banget karena Kerajaan Sriwijaya dulunya memang ada di Palembang," ujar Azizah menjelaskan.
"Kamu lihat itu Ra." Azizah menunjuk makanan yang tertata di salah satu meja disana.
"Wow ... apakah itu makanan luar kak? bentuk nya begitu asing," tanya Ayra.
"Bukan Ra, restoran ini menyajikan masakan Indonesia yang ditata apik seperti masakan Perancis." Azizah terus melangkahkan kaki berkeliling ke ruangan lain.
Ayra terus mengikuti dan memperhatikan setiap sudut restoran ini.
"Kamu lihat sendiri Ra, restoran bertema vintage ini sangat kental dengan hal-hal jadul alias tempo dulu. Mulai dari dekorasi interiornya yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen antik," Azizah terus melangkah sambil menjelaskan.
"Iya Kak, keren banget sampai-sampai makanan dan minumannya yang dikemas apik yang akan membuat kita serasa berada di tempo dulu," ujar Ayra bersemangat.
Azizah hanya tersenyum.
"Iya Ra, apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Azizah.
"Ehm ... gimana Kak sistem kerjanya nanti? apa saja yang harus aku kerjakan?" Ayra sedikit gugup.
"Kalo soal kerjaan, tenang aja Ra, nanti aku yang akan bimbing kamu. Ya ... kamy bisa lihatlah apa-apa yang dikerjakan karyawan-karyawan lain," ujar Azizah menjelaskan.
Mereka berdua masih berkeliling dan sampailah di ruang makan khusus karyawan. Ruangan bercat putih itu sangat rapi dengan beberapa meja yang di kelilingin beberapa kursi membentuk lingkaran. Ruangan itu juga ternyata berhubungan langsung dengan ruang bartender minuman.
"Nah, ini adalah tempar kita beristirahat untuk makan dan disitu ada ruangan yang disekat untuk tempat beribadah," ujar Azizah menjelaskan.
Azizah melambaikan tangannya ke arah lelaki yang berada di bartender itu.
"Ndi, sini!" panggil Azizah kepada lelaki itu.
Lelaki dengan kulit sawo matang dan hidung mancung itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya serta gingsul di bagian kanan atas yang membuat senyumnya terlihat manis.
"Iya Zah, kenapa?" tanya lelaki itu.
"Kenalan dulu dong, nih ada karyawan baru." Azizah menunjuk ke arah Ayra.
Lelaki dengan bibir tipis kemerahan itu tersenyum dan mengukurkan tangannya.
"Hai ... aku Andi, bartender terkece disini," ujarnya sambil tertawa renyah.
Ayra menyambut uluran tangan lelaki bernama Andi itu.
"Hai Kak ... aku Ayra, salam kenal ya Kak." Ayraa tersenyum sembari melepaskan jabatan tangannya.
"Sudah-sudah, kita kenalan sama yang lain yuk Ra," ajak Azizah.
"Baik Kak, ayok," ujar Ayra.
"Bye Ra," kata Andi sembari melambaikan tangannya.
Ayra hanya tersenyum dan mengikuti langkah Azizah untuk berkenalan dengan karyawan-karyawan lainnya.
*****
Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁 maafkan aku yang lama update nya 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, coment, rate dan vote y . Biar aku tambah semangat nulisnya.
😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏
Happy Reading.