
Ayra masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedih dan tentu saja ia kelaparan. Ayra langsung menuju ruang makan disana ada Papa, Mama dan Angga yang sedang makan siang.
"Udah pulang kamu, Ra?" tanya Mama.
"Tadi Rayhan ada client, jadi kami buru-buru pulang. Tadi aja Ayra sampe di anterin sama sepupunya Rayhan," ujar Ayra menjelaskan.
"Oh jadi yang tadi itu sepupunya Rayhan toh. Dia kelihatan baik ya," ucap Mama.
Ayra mengernyitkan kedua alisnya heran,
"Kenapa Mama bisa ngomong gitu? Jelas-jelas Andri itu sangar dan nyebelin," batin Ayra.
"Cie ... ehm ... ehm... Baru juga kerja udah dua cowok aja yang nganterin Kakak pulang," ujar Angga menggoda Ayra.
Papa hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Ayrapun mengambil makanan ke piring lalu menyantapnya.
"Resek deh Ngga, kepo aja dengan urusan orang," ucap Ayra dengan mulut penuh makanan.
"Ditelen dulu dong, Ra makananya. Anak cewek kok kayak gitu," ucap Mama.
Ayra hanya diam melanjutkan makannya. Mama menggeleng pelan melihat tingkah putrinya.
"Paling juga lagi kesel tuh Ma, makanya makannya kayak kesetanan gitu. Hahahhah," goda Angga sambil tertawa.
"Angga, udah jangan godain Kakak kamu terus lagi makan gini juga," ucap Papa.
"Sok tau kamu Ngga, anak kecil tau apa sih!" ucap Ayra sinis.
"Cukup!" bentak Mama.
"Mama gak pernah ya ngajarin kalian ribut di meja makan. Angga berenti godain Kakak kamu, dia tu capek baru pulang," ucap Mama.
"Kamu juga Ra, gak biasanya di bercandain gini aja udah sinis gitu jawabnya, kalo ada masalah di luar jangan dilampiasin ke Adik kamu," ujar Mama melanjutkan.
Klontang ... Terdengar bunyi sendok dan garpu yang jatuh diatas piring Ayra. Ayra pergi ke kamar mininggalkan ruang makan yang suasananya mulai tak berrsahabat.
"Ayra!" panggil Mama tetapi Ayra hanya menoleh sekilas dan tidak menghiraukannya.
Ayra masuk kedalam kamar dengan perasaan kesal, sedih, dan juga marah.Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya itu. Bingung, mau marah pada siapa?
"Angga tak salah, ia hanya bergurau seperti biasa. Rayhan? Ia bahkan tak memiliki hubungan yang jelas. Nisha? Sahabat terbaik yang ia punya itu jelas terlebih dahulu mengenal Rayhan. Andri...?" batin Ayra.
"Eh, kok tiba-tiba Andri sih?" gumam Ayra pelan.
Ayra bangun dan membersihkan diri, bersiap-siap berangkat kerja sore ini. Dia berangkat sedikit lebih cepat dari biasanya, ia malu menyapa Angga karena tadi sudah marah-marah tidak jelas kepadanya. Terpaksa ia memesan ojek online melalui aplikasi pintar pada gawainya itu.
Tak lama ojek online itu sudah ada di depan pagar rumah Ayra. Ayra bergegas keluar kamar dan langsung berangkat kerja tanpa berpamitan seperti biasanya.
Sesampainya di tempat kerja, Ayra langsung menuju dapur, ia mengambil beberapa makanan dan minuman dingin. Ayra asal duduk di bangku kosong tanpa menyadari ia telah duduk di sebelah Andi dan di hadapannya telah duduk Andri.
Ayra menyantap makanannya dengan lahap karena memang ia sangat lapar, di rumah tadikan ia belum selesai makan.
"Laper banget ya, Ra?" tanya Andi.
Ayra kaget, iris hitamnya membulat sempurna. Setengah malu dan kikuk setelah menyadari ada Andi dan dihadapannya Andri.
"Sampai gak sadar kita ada disini," kara Andi melanjutkan.
"Aku ..." Ayra tidak melanjutkan ucapannya. Ia berusaha cuek dan tetap menyantap dengan lahap makanan di hadapannya itu. Dia benar-benar lapar, emosi dan cemburu juga mungkin.
"Dia gak laper Ndi, tapi emosi dan sedikit cemburu," celetuk Andri.
Ayra berhenti mengunyah makanan dan menatap Andri dengan tatapan menyelidik.
"Darimana kamu tau?"
"Jangan-jangan dia ini paranormal kali ya,"
pikir Ayra.
"Emang penting?" tanya Andri.
"Jadi bener? Kenapa, Ra? Tunggu-tunggu, cemburu? Sama siapa?" tanya Andi beruntun.
Ayra menggeleng pelan dan menghabiskan minuman dingin dengan sekali tenggak. Ayra berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkah pelan.
Ayra menoleh dan melepaskan perlahan tangannya.
"Kamu gak papa kan?" tanya Andi khawatir.
"I'm fine, Kak," jawab Ayra kemudian berjalan meninggalkan mereka.
Ketika sampai di loker tempat menaruh tasnya, Azizah datang menghampiri Ayra.
Azizah memicingkan mata sipitnya menatap curiga saat melihat Ayra yang lesu.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Azizah.
Ayra berhambur memeluk Azizah, kemudian Azizah mengajak Ayra duduk di bangku yang tak jauh dari loker.
Azizah menghapus airmata Ayra yang tiba-tiba saja mengalir deras.
"Sudah-sudah, kamu bisa cerita sama aku kok, Ra," ujar Azizah pelan.
Ayra diam dan mulai menceritakan kejadian demi kejadian tentang Rayhan yang mengajak kerumahnya terus bagaimana Rayhan memeluk Nisha juga Andri yang mengantarnya pulang bahkan Angga yang sempat ia marahi tanpa sebab.
"Jadi, intinya kamu cemburu nih?" goda Azizah.
"Ih ... Kakak apaan sih." Ayra merengut, bibir tipis itu nampak pucat setelah menangis, bahkan matanya pun sedikit sembab.
"Kamu sabar ya, mungkin mereka hanya teman lama yang melepas rindu," ujar Azizah sambil mengelus-ngelus pelan pundak Ayra.
Ayra diam mencoba mencerna ucapan Azizah.
"Iya juga ya, Kak," ujar Ayra.
"Iya Ra, lagian kamu sih langsung pergi-pergi aja tanpa pamit lagi sama Rayhan, ya kan kali aja dia sama Nisha mau jelasin semuanya tentang kedekatan mereka," ucap Azizah.
"Tapi kan mereka cuekin aku Kak," ujar Ayra dengan tatapan sendu.
"Yee ... dasar kamu aja yang keburu cemburu buta. Hahahaha," ucap Azizah sambil tertawa.
"Kakak, ih..." ujar Ayra manja.
"O iya Kak, itu Kak Andri ngapain sih disini terus? Emang dia karyawan disini juga apa? Kok nongol-nongol terus?" tanya Ayra beruntun.
"Oh, Andri kan sepupunya pak Rayhan, Ra. Jadi nanti dia yang akan menggantikan pak Rayhan disini, terus nanti pak Rayhan akan dipindahkan di restoran cabang yang baru buka itu loh Ra," ujar Azizah menjelaskan.
"Ooo .... gitu." Ayra manggut-manggut mengerti.
"Eh, berarti dia dong yang bakal jadi bos kita nanti. O iya,Kak emang restoran cabang yang dimana sih,Kak?" tanya Ayra yang nampak bingung.
"hadew ... kamu ketinggalan berita banget sih, Ra padahalkan seminggu lagi kita ada acara disana, dan seluruh karyawan di haruskan datang untuk meramaikan pembukaan restoran itu sekaligus pengangkatan pak Rayhan sebagai kepala cabang baru," ujar Azizah menjelaskan dengan sedikit kesal.
"Hah!" Ayra menutu mulutnya seakan tak percaya.
"Jadi pak Rayhan akan dipindahkan dari sini? terus Andri si resek dan nyebelin itu yang bakal jadi bos kita nanti," ucap Ayra.
"Sstt ... kecilin suara kamu, Ayra. Kamu mau pak Andri tiba-tiba kesini dan mendengar omongan kamu tadi. Lagian ya pak Andri tuh gak kalah tampan dari pak Rayhan," ujar Azizah yang antusias, tatapannya menerawang membayangkan mata biru Andri serta senyum manisnya.
"Ish! Puji aja terus si nyebelin itu," ujar Ayra sebal.
"Hem ... biarin, wek!" Azizah menjulurkan lidahnya mengejek Ayra.
"Eh, kita kerja lagi yuk,Ra!" Azizah berdiri kemudian menggandeng tangan Ayra.
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaannya.
*****
Jangan ketuker ya sama Andri dan Andi, mereka dua makhluk tampan yang berbeda ya 😁😁 Andri si nyebelin versi Ayra dan Andi yang perhatian banget. 😊😀
Makasih ya buat kalian yang masih setia mengikuti cerita ini.
jangan lupa, like ,coment dan tambahkan ke favorite ya biar cepat dapat updatenya.
🙏 nanti aku feedback kok🙏