My Chef

My Chef
#16 Belanja



Mereka berdua telah sampai tepat di depan rumah Ayra.


Rayhan menyenggol bahu Ayra.


"Ra, Ra, bangun dong," ujar Rayhan sambil terus mengguncang-guncang bahu Ayra.


"Emmm ... enggg ... bentar lagi Ma," racau Ayra dengan mata terpejam.


"Ya ela ... dia pikir aku mamanya kali, hem...," ujar Rayhan pelan seraya mendekatkan diri menatap wajah Ayra.


"Uh ... manisnya," batin Rayhan.


Cup... Rayhan mengecup singkat kening Ayra.


Ayra tiba-tiba terbangun, mengerjapkan matanya.


"Ahhh ... kamu ngapain?" teriak Ayra yang kaget karena jarak keduanya begitu dekat.


Ayra mendorong pelan Rayhan, kedua netra hitamnya membulat sempurna menatap netra coklat dihadapannya.


Rayhan spontan menjitak kening Ayra.


"Bisa diem gak, jangan teriak-teriak," ujar Rayhan.


"Aku kan cuma bangunin kamu,"


"Aw ... sakit." Ayra mengusap-usap keningnya.


"Bangunin mah bangunin aja, gak usah deket-deket gini juga kali, hummm ...," ujar Ayra sewot.


"Kamu mikir apaan sih?"


"Ni kepala mesum aja ya mikirnya." Rayhan mengetuk ngetuk pelan kepala Arya.


"Eh ... kok jadi aku?" Ayra menunjuk dirinya sendiri dengan tampang polos.


Rayhan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udah, masuk sana!" ujar Rayhan.


"Iya, makasih ya." Ayra membuka pintu kemudian melambaikan tangan melihat mobil Rayhan yang mulai melaju perlahan.


*****


Baru saja ingin mengetuk pintu, Ayra sudah dikagetkan dengan Angga yang tiba-tiba muncuk dibalik pintu.


"Cie ... Kakak." Angga mengedip-ngedipkan matanya.


"Diantar siapa tadi?" ehem ... ehem ... cogan gitu." Angga terseyum-senyum menggoda Ayra.


"Cuma temen kerja Ngga."


"Cie ... baru juga kerja, udah ada aja yang khilaf nganterin Kakak pulang." Angga tertawa mengejek.


"Apaan sih Ngga, udah ah, Kakak capek mau istirahat." Ayra berjalan melewati Angga begitu saja kemudian berlenggang masuk kekamarnya.


****


"Aku masih deg-degkan aja, tadi dia nyium keningku kan?" Asataga aku gak mimpikan tadi."


"Ah...apa aku jatuh cinta ya?" Ayra merebahkan diri dikasurnya sambil tersenyum.


Sayup-sayup Ayra mendengar ponselnya berdering, ada telepon.


"Halo?" sapa Ayra.


"Malem Ra! Besok siang nonton yuk!" terdengar suara Andi dari sebrang.


Ayra berfikir sejenak.


"Lain kali aja gimana Kak?" kata itu muncul begitu saja dari bibir Ayra.


"Yah ...." suara Andi terdengar sangat kecewa.


"Padahal aku udah beli dua tiket lho."


"Maaf. Besok siang aku ada acara, Kak."


"Ya udah gak papa."


Telepon langsung tertutup. Ayra heran tiba-tiba Andi mengajak nonton, tapi Ayra berusaha tidak memikirkannya. Ia ingin fokus pada pekerjaan dan tentu saja sesuatu di hatinya yang selalu bedetak kencang saat berdekatan dengan Rayhan.


*****


Pagi harinya Ayra bangun sedikit kesiangan. Ia segera bersiap-siap karena hari ini ada janji dengan Azizah untuk membeli beberapa kosmetik dan tentu saja Azizah akan mengajarinya make-up singkat.


Ayra berjalan menuju meja makan. Semua anggota keluarga telah duduk disana.


"Eh ... sayang kamu rapi banget. Mau kemana?" tanya Mama Ayra.


"Ayra mau pergi sama kak Azizah Ma, temen Ayra ditempat kerja." Ayra mulai menyuap nasi goreng buatan Mamanya.


"Cie... Bukan sama yang semalem ya Kak?" Uhuy... cogan tu." Angga nyeletuk menggoda Ayra.


Ayra melayangkan tatapan sinis ke Angga.


Kedua orangtua Ayra saling melempar pandangan, bingung.


"Siapa, Nak?" tanya Papa Ayra.


"Bukan siapa-siapa Pa, hanya temen kerja yang kebetulan pulangnya searah," jawab Ayra sedikit berbohong.


*****


Ayra dan Azizah telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan kota Palembang.


"Kak, kita mau beli apa aja ni?"


"Terserah Ra, yang pasti beberapa make-up dan baju ya,biar nanti Kakak aja yang pilih." Azizah menarik Ayra menuju salah satu butik dan mulai memilihkan beberapa baju untuk Ayra.


"Kak, tadi malam Kak Andi ngajak aku nonton hari ini." Ayra bercerita.


"Apa?? terus kamu tolak gitu?" tanya Azizah.


"Ih...Odong banget sih Ra!!" Azizah gemas.


"Ehh Kak, kan hari ini kita mau belanja.Gimana sih Kak?" omel Ayra.


"Hhehhehe ... iya juga yah. Sayang banget tuh. Berati Andi emang beneran suka sama kamu."


"Masak sih?" Ayra masih tidak percaya.


"Menurut aku sih iya. Dari cara dia memperlakukan kamu tuh udah keliatan banget."


Ayra diam memikirkan apakah benar Andi menyukainya?


Selesai berbelanja mereka menuju salah satu tempat makan didalam mall tersebut.


Namun tiba-tiba ada yang menyenggol bahu Ayra.


"Ra, kamu kok bisa disni?" tanya Nisha.


Ayra kaget dan langsung menoleh.


"Eh ... kamu Sha, kamu belanja disini juga?" tanya Ayra.


"Aku kira kamu lagi sibuk modeling Sha."


"Hehehhe iya ... aku lagi sibuk banget ni Ra, ini juga nyempetin kesini ada yang mau aku beli soalnya," ujar Nisha.


"O iya, kenalin ini Andri." Nisha menunjuk cowok disebelahnya.


Ayra mengulurkan tangannya tetapi cowok itu hanya diam dan memandang Ayra dengan tatapan aneh cukup lama.


"Ayra." Ayra tersenyum.


"Andri," jawabnya namun Andri tidak menyambut uluran tangan Ayra.


Ayra menurunkan kembali uluran tangannya dengan sedikit cemberut.


"Hhehhehe, maaf ya. Dia emang suka kaya gitu. Tapi dia baik kok." Nisha tersenyum.


"O iya Nish, kenalin ini temen kerja aku." Ayra tersenyum menoleh ke arah Azizah.


"Hai ... aku Azizah temen kerjanya Ayra. Salam kenal ya." Mereka berjabatan tangan.


Namun Andri hanya diam dan tersenyum manis ke arah Azizah.


"Dih giliran sama Kak Azizah aja senyum. Lah sama aku tadi diem aja." batin Ayra.


"Eh ... kita makan bareng dulu yuk." Nisha merangkul bahu Ayra mengajaknya ke salah satu stand bakso disana.


"Kita makan bakso aja ya?" tanya Nisha.


"Aku ngikut aja deh, ya kan Ra," jawab Azizah.


"Ya udah, nanti aku yang traktir ya." Nisha tersenyum.


"Eh ... ini Cha." Andri menyerahkan kartu atmnya kepada Nisha.


Nisha menggelengkan kepalanya.


"Gak usah Ndri."


Andi tetap menyerahkan kartu atm itu.


"Pakai aja Cha."


"Baiklah, terimakasih ya." Nisha tersenyum sangat manis.


Muka Andrie seketika memerah. Namun ia berusaha menyembunyikannya.


"Cha?" ujar Ayra heran.


"Eh, iya Ra, Andri biasa manggil aku Cha-Cha."


Mereka berempat pun singgah dan memesan bakso dan minuman. Mereka makan sambil sesekali bercerita.


Tak lupa mereka memesan beberapa macam jajanan untuk dibawa pulang. Seperti pempek, lenggang dan tekwan.


"Eh ... kami duluan ya Ra," ujar Nisha sembari berdiri meninggalkan Ayra dan Azizah.


"Cepet banget Nish? Gak bareng aja, sekalian mampir ke rumah?"


"Gak bisa Ra, aku ada pemotretan setelah ini." Nisha sedikit cemberut.


"Yuk Cha." Andri menggandeng tangan Nisha mesra.


Nisha dan Andrie berjalan meninggalkan Ayra dan Azizah disana.


"Nisha cantik banget ya Ra!"


"Iya Kak, Nisha kan berasal dari keluarga Rahardian Kak. Jadi dia memang selalu tampil cantik dan modis."


"Hah! Rahardian pemilik mall ini Ra?" tanya Azizah kaget.


Ayra mengernyitkan dahinya. Ia terlihat heran sebentar lalu tertawa.


"Hhahaha ... iya Kak. Gak usah kaget gitu deh."


"Ehm ... mereka berdua tadi tetlihat serasi banget ya. Andri juga cakep banget Ra. Matanya biru mirip bule, senyumnya manis bikin aku diabetes." Azizah berceloteh riang sambil tersenyum.


Ayra hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Iya Kak, sama kamu dia senyum. Lah sama aku tadi malah ngeliatin aneh gitu," batin Ayra.


*****


Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁 maafkan aku yang lama update nya 🙏🙏🙏


Jangan lupa like, coment, rate dan vote y . Biar aku tambah semangat nulisnya.


😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏


Happy Reading.