
Entah mengapa setelah bertemu di rumah Rayhan, Nisha seakan menjaga jarak. Ia tak pernah lagi bermain ke rumah Ayra bahkan untuk bertukar pesan pun sudah sangat jarang dan jikapun terjadi Ayra lah yang harus memulai menghubunginya terlebih dahulu dan itupun hanya dijawab seadanya saja.
*****
Hari ini semua karyawan di liburkan. Mereka diwajibkan datang pada acara pembukaan cabang restoran baru serta pengangkatan Rayhan sebagai Kepala Cabang.
Entah siapa saja yang diundang, yang pasti beberap kolega bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Sanjaya.
Ayra mondar mandir dikamarnya, ia bingung harus memakai baju apa untuk acara nanti malam.
Tanpa pikir panjang ia menghubungi Azizah dan menyuruhnya datang ke rumah.
Tak lama kemudian terdengar klakson motor dari luar pagar.
Angga segera bergegas keluar membuka pintu.
"Maaf, cari siapa ya, Kak?" ujar Angga.
"Ehm ... ini benerkan rumah Ayra?" jawab Azizah yang terlihat sedikit bingung.
"Iya Kak, aku panggilin sebentar ya. Kakak, masuk aja dulu parkir motornya di dalem aja." Angga membuka pagar mempersilahkan Azizah masuk dan menunggu diteras.
Angga berjalan menuju kamar Ayra.
"Kak, buka ih pintunya. Tuh diluar ada yang nyariin, temen Kakak kayaknya. Cantik banget lagi." cerocos Angga tanpa jeda.
"Iya, iya bawel. Tau aja kamu yang cantik ya, dasar bocah!" Ayra tersenyum.
Ayra keluar kamar dan menemui Azizah.
"Kak, masuk yuk. Kita kekamar aku aja." Ayra menggandeng tangan Azizah.
"Eh, orangtua kamu mana, RA?" tanya Azizah yang menperhatikan sekeliling rumah.
"Ada, di taman belakang, Kak. Papa kan kurang sehat Kak, jadi jarang keluar rumah." Ayra menatap lantai keramik — sendu.
"Emang Papa kamu, sakit apa?"
"Papa kecelakaan, Kak. Hingga kakinya harus diamputasi." Seketika bulir bening itu menganak dipelupuk mata Ayra.
Azizah yang menyadari perubahan ekspresi Ayra, buru-buru mengalihkan perhatiannya.
"Hayuk, Ra, katanya kita mau dandan bareng." Azizah merangkul pundak Ayra.
"Eh, iya Kak. Yuk!" Ayra berjalan bersebelahan dengan Azizah masuk kekamarnya.
"Kakak, bawa apa aja?" Ayra memperhatikan paper bag yang daritadi di pegang Azizah.
"Bawa baju ganti lah, Ra sama beberapa alat makeup." Azizah membuka paper bag itu kemudian mengeluarkan segala isinya.
"Ehm ... kamu udah mandi kan, Ra?" Azizah mendengus menghirup dalam aroma tubuh Ayra.
"Kakak apaan sih! Udahlah, Kak. Dih pakek dengus-dengus gitu." Ayra memencet hidung Azizah pelan.
"Kayak kucing tau, Kak." Aura tertawa melihat ekspresi Azizah.
"Dih, sakit tau!" Azizah mengusap-ngusap hidungnya.
Tok ... tok ... tok... Seseorang mengetuk pintu kamar Ayra.
"Kak, buka dulu pintunya. Aku bawain minuman dingin nih sama cemilan," ujar Angga sembari mengetuk pintu.
Arya langsung membuka pintu kamar. Kepalanya menyembul menatap Angga yang memegang nampan dan minuman dingin serta beberapa cemilan.
"Eh ... tumben kamu pengertian banget, Dek?" Ayra membantu Angga meletakkan nampan diatas meja.
Angga hanya tersenyum manis sembari menoleh ke arah Azizah.
"Hai Kakak cantik. Perkenalkan aku, Angga satu-satunya adik Kak Ayra yang paling tamvan." Angga mengedipkan sebelah matanya.
Azizah tersenyum. "Hai Ngga ,Kakak temen kerja Ayra, panggil aja Kak Aiz ya."
Seketika Ayra melotot dan langsung mendorong Angga keluar dari kamarnya.
"Gangguin orang aja. Hus ... sana!" Ayra langsung menutup pintu.
"Jangan didengerin, Kak. Angga emang suka jail." Ayra kembali duduk dan menenggak minuman itu tak lupa ia mempersilahkan Azizah untuk meminumnya.
Setelah selesai berbincang. Mereka langsung memulai berdandan tak lupa Azizah sedikit membantu membenarkan makeup Ayra. Tangan putih nan mulus itu begitu piawai dalam menghias wajah.
"Sudah selesai, Ra. Gimana dandanan Kakak? Terlalu menor gak ya, Ra?" Azizah mematut diri dikaca.
"Cantik, Kak." Ayra tersenyum mengamati tubuh Azizah, lengkuk tubuhnya begitu mempesona membuat siapa saja tak kuasa menjauhkan pandangannya.
Azizah memang cantik, bentuk badan yang proporsional dan wajah khas orang Arab dengan hidung mancung serta kukit Asia yang kuning langsat.
"Kamu juga cantik, Ra. Yuk kita berangkat," ajak Azizah.
"O iya Ra, tadi aku udah whatsapp Andi buat jemput disini, kan Andi bawa mobil Ra," ucap Azizah.
"Hah! Kak Andi! Kakak kok gak bilang-bilang dulu." Ayra memicingkan mata menatap curiga Azizah.
"Dih ... kenapa, Ra. Kok ngeliatinnya gitu banget dah?" tanya Azizah.
"Kakak sejak kapan tuh deket sama Kak Andi, sampe gak canggung lagi minta jemput," ucap Ayra sedikit curiga.
"Sejak Andi selalu menanyakan tentangmu, Ra. Yang terkadang membuat sesak didada," batin Azizah.
Tin ... tin ... terdengar suara klakson mobil.
"Nah itu pasti Andi. Yuk Ra." Azizah menggandeng tangan Ayra namun sebelum keluar rumah ia menemymui orang tua Ayra dan berpamitan.
Andi keluar dari mobil lalu menyalami kedua orang tua Ayra yang telah duduk di teras kemudian langsung berpamitan.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil kemudian Andi membukakan puntu mobil depan untuk Ayra. "Tuan putri, silahkan masuk."
"Cie ... uhuy ... kayaknya bentar lagi ada yang bakal traktir aku makan nih!" Azizah berusaha tersenyum walau hatinya sesak melihat itu.
"Dih ... apaan sih, Kak." Ayra tersipu. Semburat merah menghiasi wajah seputih pualam itu.
"Udah-udah, ayok masuk ntar kita telat nih, udah hampir jam 7 juga," ajak Andi.
Mobil melaju cepat membelah jalanan kota Palembang.
Tak lama kemudian mereka telah sampai dan membaur kedalam pesta itu . Pesta yang diadakan didalam restoran dengan taman yang dihiasi lampu warna warni menambah kesan indah dan elegan.
Ayra meninggalkan Azizah dan berjalan menyusuri ruangan mencari Rayhan sampai ke taman belakang gedung. Akhirnya ia menemukan Rayhan yang sedang mengobrol dengan Nisha.
"Loh kok ada Nisha disini? Kok gak bilang ya, kan bisa bareng," batin Ayra.
Ayra mendekat tetapi kemudian menjaga jarak dan tertarik untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Aku sudah suka sama kamu sejak kecil, Rey," ucap Nisha sambil memeluk Rayhan mesra.
Degg!!
Jantung Ayra seakan berhenti berdetak. Tak sampai sedetik sepasang iris hitam diparasnya yang ayu mulai menggenang dan mengalirkan sungai pilu.
"Aku sayang kamu, Rey. Selama kamu diluar negeri aku selalu menunggu kamu, mikirin kamu, aku takut kamu jadi milik orang lain." Nisha sudah mendaratkan ciuman mesra, melum*at menikmati bibir Rayhan yang diam mematung.
Ayra masih terpaku ditempatnya. Bulan seakan mengintip, mendung menguasai wajah cantik seputih pualam itu. Buliran bening mengalir deras tak tertahan. Selain Ayra ada seorang cowok yang juga sedang menyaksikan kejadian itu.
Ayra tak kuasa mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka. Ia berlari menerobos beberapa kerumunan orang . Tanpa perduli dengan pandangan penuh tanya para tamu yang hadir. Ia terus berlari keluar restoran dan melewati Azizah yang sedang berbincang bersama Andi. Sangking sibuknya mereka tak menyadari. Ayra tak kuat menahan perasaannya, ia berhenti dan duduk di bangku taman tak jauh dari gedung itu. Ayra menangis sejadi-jadinya di tempat yang sepi.
*****
**Kira-kira siapa ya cowok yang ikut menyaksikan kejadian itu selain Ayra? 👉👈
Terus Rayhan sama Nisha udah resmi jadian gak tuh? Secara kan Rayhan belum jawab apa-apa.😁
Makasih ya buat kalian yang masih setia membaca cerita ini, jangan lupa like ,coment dan vote ya biar aku tambah semangat nulisnya. Tenang aja bakal aku feedback balik.🙏🙏😁**