My Chef

My Chef
#10 Perubahan Diri



Hari ini Ayra sudah mulai bekerja. Sebelum berangkat kerja ia harus bersiap-siap dan tentunya berdandan karena ia bekerja sebagai pelayan disebuah restoran.


Tapi ia bingung bagaimana caranya berdandan. Selama ini yang sering dipakai Ayra hanyalah parfum dan lotion biasa.


Akhirnya Ayra memutuskan untuk meminta bantuan Nisha. Ayra segera menelpon Nisha dan tak lama kemudian Nishapun datang.


Ayra langsung mengajak Nisha kekamarnya.


"Ckckck ... mau make-up aja harus manggil aku, kapan kamu bisa make-up sendiri?" ledek Nisha.


Ayra mengerucutkan bibirnya saja.


"Hemm ... nanti aku belajar deh."


Nisha hanya tersenyum.


"Ra, kamu duduk di situ deh." Nisha menunjuk meja rias Ayra, yang hampir tak ada alat make-up nya.


Lalu kemudian Nisha mengeluarkan semua alat make-up dari tasnya. Dan menaruhnya di meja rias Ayra.


"Wah," Ayra kagum melihatnya.


"Banyak banget Nish." Arya menatap kagum.


"Iya Ra, ini semua buat kamu," ujar Nisha sambil tersenyum membelai rambut Ayra.


"Makasih ya Nish." Ayra langsung memeluk Nisha.


Nisha hanya tersenyum.


"Ya udah sini, kamu diam saja ya Ra, turiti saja apa yang aku lakukan nanti," ujar Nisha.


Ayra duduk menatap ke arah meja riasnya, Dia hanya menuruti Nisha.


"Buka kacamata kamu Ra, aku mau pakaikan soflens dulu."


Ayrapun membuka kacamata bulat besar yang menghiasi wajahnya selama ini.


Nisha mulai memasang soflens dan dengan cekatan mengambil alat-alat make-up dan mulai mengoleskan beberapa make-up kewajah Ayra.


Namun hanya wajah sebelah kirinya saja. Nisha dari dulu ingin sekali mendandani Ayra tapi Ayra selalu menolak. Sekarang Nisha ingin menunjukan perbedaannya hasil make-up nya. Sekalian menguji kemampuannya dalam merias wajah.


"Ra, coba deh buka mata kamu," kata Nisha.


Ayra terkejut melihat wajahnya di cermin. Semua jerawat kecil-kecil yang menghiasi wajahnya tetutup sempurna.


"Ini beneran aku Nish," Ayra memegangi mukanya dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya.


"Iya Ra itu kamu," ujar Nisha.


"Aku kan dari dulu ingin dandanin kamu, kamu aja yang gak mau." Nisha bersungut kesal.


"Iya Nish, maafin sikap aku kemarin-kemarin ya," kata Ayra sambil menangkupkan kedua tangannya memohon maaf dan tentu saja dengan memasang pupy eyes nya.


"Hem..kamu bisa aja Ra, iya aku maafin, sini aku selesaikan dulu," ujar Nisha.


Nishapun melanjutkan kegiatannya merias seluruh wajah Ayra sampai selesai.


Setelah itu Nisha mulai menata rambut Ayra yang selalu terkuncir itu. Nisha mengurainya dan sedikit meluruskan surai kecoklatan itu.


"Ternyata kamu cantik juga ya Ra." Nisha menatap pantulan wajah Ayra dari balik cermin.


"Aku mah emang udah cantik dari lahir. Makanya kamu harus hati-hati ya make-up in aku!"


Nisha menarik kencang rambut Ayra setelah mendengar kata-kata itu.


"Aduh, sakit tau!"


"Makanya kalau gak bisa make-up itu diem aja." ledek Nisha.


Setelah semuanya selesai. Ayra memandangi dirinya yang terlihat aneh dicermin.


"Make-up-nya aku buat senatural mungkin kok Ra. Tenang aja gak aneh kok." Nisha tersenyum senang melihat hasil karya nya.


"Makasih ya Nish," ujar Ayra dengan mata berbinar, memandang takjub didepan cermin.


"Iya Ra, sama-sama." Nisha tersenyum membelai rambut Ayra.


"Uhh ... aku terharu ni," ujar Ayra memasang pupy eyes-nya.


"Apaan sih Ra, gak usah lebay deh," ujar Nisha menahan senyumnya.


"Dih, siapa juga yang lebay." Ayra beranjak dari duduknya. Ayra berganti baju dan berkali-kali meminta pendapat Nisha.


"Nish pakai baju apa ya? Bingung aku." Ayra menarik nafas, lelah. Ayra terus saja mengerucutkan bibirnya β€”kesal.


"Nih! Coba pakai ini aja Ra." Nisha menyodorkan pakaian yang ia ambil kepada Ayra.


Ayra mengerutkan dahi menatap pakaian itu. Namun Ayra tetap mencoba nya.


"Ya udah, aku coba dulu ya" ujar Ayra dan langsung berjalan pelan menuju kamar mandi kecil di dalam kamarnya ini.


*****


Setelah Ayra keluar dari kamar mandi. Nisha membuka mulutnya serta menangkupkan kedua tangan diwajahnya. Nisha menatap takjub Ayra.


"Wow! Kamu cantik Ra," ujar Nisha.


Ayra tersenyum simpul, menatap Nisha dengan malu-malu.


"Udah ah Nish, jangan buat aku jadi ge er."


Nisha tersenyum melihat Ayra memakai setelan rok padahal selama ini Ayra memakai kaos dan celana saja.


"Eh ... aku deg-degan nih, Nish!" Ujar Ayra.


"Ya, kalau kamu nggak deg-degan ya mati dong." goda Nisha sambil tertawa.


"Yuk berangkat." Ajak Ayra.


Mereka berdua melangkahkan kaki keluar kamar. Baru saja sampai didepan teras, tiba-tiba Angga datang mengagetkan mereka.


"Kak Nisha mau kemana?" tanya Angga.


"Eh ... bentar-bentar ...." Angga memperhatikan Arya dengan seksama, matanya bergerak keatas kebawah menatap Ayra, Angga mengernyitkan dahinya.


"Loh?? Ini Kak Ayra?" tanya Angga bingung. belum sempat mereka menjawab pertanyaan Angga, Angga sudah lebih dulu bertanya lagi.


"Beneran ini Kakak?" ujar Angga, sambil memutar-mutar pelan tubuh Ayra kedepan dan kebelakang.


"Ck ... udah deh Ngga," ujar Ayra mendengus kesal.


"Iya ini Kakak kamu Ngga, cantik kan?" kata Nisha dengan bangganya.


Angga menangkupkan kedua tangannya dipipi.


"Wow ... cantik banget Kak, the power of makeup ya." Angga tersenyum menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.


"Eh ... makasih ya Kak Nisha, udah bantuin Kak Ayra jadi modis gini, gak kutu buku lagi," ujarnya seraya tertawa mengejek Ayra.


"Dih ... dasar adik kurang asem, hus ... hus ... sana kamu," ujar Ayra mengusir Angga.


"iya-iya Kak, Angga anterin ya," ujar Angga.


"Eh ... gak perlu Ngga, kan ada Kakak, biar Kakak yang anterin," ujar Nisha.


"Iya Ngga, Kakak sama Kak Nisha aja, kamu tolong jagain Papa aja, sekalian nanti bilangin sama Papa dan Mama kalo Kakak berangkat kerja ya," ujar Ayra sambil menepuk pelan pundak Angga.


"Iya Kak, ya udah, hati-hati ya, ntar pulangnya biar Angga yang jemput, telepon aja ya Kak kalo sudah selesai," jawab Angga.


"Ehmm..satu lagi Ngga." Ayra menunjuk Angga tepat di wajahnya.


"Apaan lagi Kak," kata Angga bingung.


"Jangan berisik. Hahhahahaha." Ayra tertawa melihat ekspresi bingung Angga.


"Dih apaan sih Kak, Angga tuh bukan Anak kecil lagi tau, humm ...." Angga mengerucutkan bibirnya.


"Gak perlu di ingetin terus, Angga tau kok Mama sama Papa lagi istirahat di kamar," ujar Angga sedikit kesal.


"Udah-udah, kalian berdua ini kaya anak kecil aja, huh ..." Nisha menghembuskan nafasnya pelan, kemudian tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.


"Ayo Ra, ntar kamu telat lagi," ujar Nisha yang langsung menggandeng tangan Ayra , mengajaknya naik ke mobil nya.


"Hati-hati Kak," ujar Angga sambil melambaikan tangannya.


Ayra hanya menganggukan kepalanya sedangkan Nisha mengacungkan jempolnya.


*****


Hai readers... Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁


Jangan lupa like, coment, dan vote ya .


😊😊😊 Nanti aku like,coment, dan vote balik kokπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ™


Happy Reading.


*****