My Chef

My Chef
#5 Rumah Sakit



Jarum jam terus berirama, beriringan memutar waktu, membuat mereka menanti tiap detik dan menit yang terlewati. Akhirnya Angga dan Nisha pun sampai di rumah sakit Siti Khodijah Palembang.



"Ah ... akhirnya sampai juga kita Kak," kata Angga lega.


"Heemm ... cepet juga kamu bawa motornya, Kakak hampir aja jatuh tu," ujar Nisha sambil mendengus kesal.


"Turun gih Kak, nanti aja ngomel ngomelnya di lanjut ya," jawab Angga sambil tertawa.


Nisha pun turun dan menyerahkan helm yang dipakainya kepada Angga.


"Nih Ngga helm nya." Tangan Nisha terulur mengembalikan helm.


Angga pun mengambil helm tersebut dan tak sengaja tangan mereka bersentuhan.


Angga hanya terdiam, karena ia mulai merasakan degupan aneh di jantungnya.


Namun Nisha buru buru menarik tangan nya. Wajahnya pun tersipu malu, mengeluarkan semburat merah di pipinya.


"Apaan sih Ngga?? Kamu sengaja ya megang tangan aku kayak gitu, humm ... ?" tanya Nisha dengan sedikit kesal, kemudian mengurucutkan bibirnya.


"Kakak apa-apan sih, ge er banget dah," ujar Angga sambil tertawa kecil.


"Lagian ngapain tuh muka, ampe merah kayak tomat gitu? Hahahhahaa," ujar Angga sambil tertawa mengejek Nisha.


"Iih ... apaan si!!" ucap Nisha sambil mendengus kesal.


"Aku tu cuma kepanasan doang, mangkanya muka aku jadi merah gini," ucap Nisha dengan nada sombong.


"Iya deh tau, yang biasa naik mobil," ujar Angga sendu.


"Dih baperan, gitu aja baper, Ngga," ujar Nisha sambil ngeloyor pergi meninggalkan Angga.


"Kak!!" Angga berteriak memanggil Nisha.


Nisha pun berhenti dan berfikir.


"Dimana ya ruangan nya??" batin Nisha.


Huft ... Nisha menarik nafas pelan.


"Ih ... kakak nggak denger apa, aku manggilin Kakak dari tadi?" cerocos Angga sambil ngos-ngosan, karena mengejar Nisha.


"Iya Ngga, Kakak denger kok."


"Mangkanya Kakak berhenti, ngguin kamu dsni," ujar Nisha.


"Kakak sih main pergi pergi aja"


"Ya udah yuk," ujar Angga sambil menarik tangan Nisha.


Nisha terpaku beberapa saat, namun dia segera sadar.


"Dih Ngga, Kakak bisa jalan sendiri, gak perlu kamu gandeng." Nisha menghempaskan pelan tangannya, bersikap cuek berusaha menyembunyikan debaran yang muncul secara tiba-tiba.


"Iya iya Kak, maaf gak sengaja," ujar Angga pelan.


"Iya, gak papa," balas Nisha sambil tersenyum.


****


Lima menit kemudian merekapun sampai di ruangan Pak Abu Bakarโ€”Papanya Angga dan Ayra.


Nisha pun tak kuasa menahan tangis melihat keadaan Pak Abu Bakar. Selama ini Nisha sudah diperlakukan seperti anak kandung mereka sendiri di keluarga Ayra.


Bahkan, Nisha pun sudah menganggap keluarga Ayra adalah keluarganya.


Nisha tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya namun keluarga Ayra mampu memberikan itu semua.


"Hiks ... hiks ... Papa," ujar Nisha sambil terisak


"Ya ampun, kamu kenapa nangis, Nak? Papa gak papa kok, Sayang," ujar Mama Ayra sambil membelai rambut Nisha.


Angga yang berada di belakang Nisha, langsung mengambil tangan Papanya dan menciumnya lama.


"Pa, maafin Angga,"


"Angga baru dateng sekarang, tadi Angga sibuk latihan basket sampe sampe gak tau Pa," ujar Angga, matanya terlihat sendu menahan tangis.


"Kenapa bisa begini Pa? gimana ceritanya?" tanya Nisha sambil terus mengusap air matanya.


Pak Abu Bakar mencoba duduk, dibantu mamanya Ayra.


"Gak papa Nak, hanya kecelakaan kecil," jawab pak Abu Bakar sambil tersenyum tulus.


"Tapi Pa ini bukan kecelakaan kecil?" dengus Nisha kesal.


"Bagaimana orang yang menabrak Papa? Apa sudah dipenjara?" tanya Nisha beruntun.


"Dia kabur saat itu juga, Papa belum sempat melihat plat mobilnya," jawab Papa Ayra sendu.


"Ya udahlah Pa, gak papa, ntar juga pasti dapat balesannya," ujar Mama Ayra tersenyum sambil mengusap usap tangan papa.


"Gak bisa dibiarin Ma, Nisha bakal cari tu orang!!" Dadanya naik turun dengan nafas tang sedikit tersengal โ€”Nisha menahan amarah.


"Iya Ma, mana Kak Ayra?" tanya Angga juga.


"Tadi Kakakmu keluar Ngga. Katanya cuma mau telepon kamu aja,"


"Coba deh kamu cari di taman rumah sakit ini," ujar mama Ayra melanjutkan.


"Iya Ma, Nisha cari di luar dulu ya," kata Nisha.


"Ati- ati ya Kak, Angga gak nemenin ya," kata Angga sambil tersenyum.


"Yeeee ... lagian siapa juga yang mau ditemenin kamu," jawab Nisha sambil meledek Angga.


****


"Huuumm ... mana sih Ayra, bukannya nunggui dikamar eh dia malah keluar," gerutu Nisha pelan sambil terus berjalan.


kedua iris coklat itu memandang kesekeliling taman, menangkap siluet yang ia kenali kemudian berjalan perlahan menghampirinya.


"AYRA!" teriak Nisha memanggil Ayra.


Ayra pun menoleh, dan mendapati Nisha yang sedang berjalan ke arahnya.


"Nisha, kok kamu ada disini?" tanya Ayra yang nampak kbingungan dengan kehadiran Nisha.


"Ya iya lah aku kesini, kan sahabatku lagi sedih sendirian,"


"Tapi sayangnya dia gak mau ngabarin aku." lanjut Nisha sambil bersedekap.


Nisha pura pura marah dan melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya kita sahabatan gak sih Ra?" tanya Nisha kesal.


Ayrapun langsung menghambur memeluk Nisha.


"Maafin aku ya Sha, tadi aku bingung," ujar Ayra sambil terisak.


"Aku khawatir banget sama Papa, kakinya Papa Sha ... kaki Papa ..." Ayrapun menangis tak mampu melanjutkan ucapannya lagi.


"Iya Ra, udah ya gak papa, aku ngerti kok." Nisha pun mempererat pelukannya.


"Kamu yang sabar ya," kata Nisha.


"Iya Sha, makasih," jawab Ayra pelan mencoba meredakan tangis nya.


"Udah sini duduk dulu, jangan nangis lagi Ra," kata Nisha melepaskan pelukannya dan duduk di bangku taman.


"Iya Sha, makasih, tapi kok kamu bisa tau Sha?" tanya Ayra heran.


"Iya lah, aku gitu Ra" jawab Nisha sambil menaik turunkan alisnya.


Mereka berdua tersenyum bersamaan.


"Nah gitu donk, senyum, apus deh airmata kamu."Nisha mengusap wajah sahabatnya itu.


Ayra pun tersenyum melihat tingkah sahabat satu-satunya ini.


"Tapi Sha, kamu tau darimana?" Ayra mengulangi pertanyaannya lagi.


"Adik kamu Ra, Angga tadi nelpon aku," jawab Nisha.


"Eh ... ngomong ngomong sapu tangan siapa itu Ra?" tanya Nisha, mata nya tiba tiba tertuju pada sapu tangan asing yang dipegang Ayra.


"Eh ... in ... ini ... ini punya temen," jawab Ayra sedikit terbata.


Nisha memicingkan matanya mendengar jawaban Ayra.


"Temen?? Siapa? Gak usah bohong deh, aku kan temen kamu satu-satunya Ra, hahahahaa." Nisha tertawa.


Ayra pun mulai menceritakan pertemuan dengan "Cowok Es" yang bahkan namanyapun tidak dia ketahui.


Nishapun terseyum lebar mendengar cerita Ayra.


"Jadi namanya aja kamu gak tau Ra? Heemm ... nanti deh kita cari tau ya," kata Nisha mencoba menggoda Ayra.


"Ish ... apaan sih Sha, siapa juga yang mau tau?" jawab Ayra sebal, sambil mencebikkan bibirnya.


Nisha tersenyum mendengar jawaban Ayra, baginya ini pertama kalinta Ayra bercerita tentang orang lain selain keluarganya. Dan ini tentang cowok.


Nisha tersenyum sendiri.


"Dih ... udah deh Sha, gak perlu senyum-senyum gitu, ini bukan apa-apa juga tau," ujar Ayra yang kesal melihat tingkah sahabatnya itu.


Mereka berduapun berjalan bersama menuju kamar Papa Ayra di rawat.


*****


Hai readers... Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jangan lupa like, coment dan vote ya .๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Happy Reading.