
Nisha Rahardian itu adalah nama yang diberikan oleh mamaku. Aku anak dari keluarga Rahardian yang merupakan pemilik mall terbesar di Palembang.
Menurut sebagian besar orang, aku cukup cantik dengan tinggi badan 165cm dan berat badan yang ideal.
Aku juga cukup ahli di bidang fashion, ya karena latar belakang bisnis keluargaku juga.
Sehingga mau tak mau, aku juga ikut terbawa lingkungan yang ada di keluargaku.
Setiap hari aku dihadapkan dengan berbagai majalah fashion yang harus aku baca. Kata mama, itu bagus untuk menambah ketrampilanku dalam bidang fashion.
Mamaku seseorang yang perfectionist, sehingga dia ingin segala sesuatunya terlihat sempurna.
Bahkan ia tak segan-segan, memasukkan ku di berbagai les modeling dan fashion serta kursus tatarias wajah dan rambut.
Jika dilihat, keluarga kami seperti keluarga harmonis pada umumnya.
Mama yang cantik dan papa yang merupakan pengusaha sukses. Aku tak pernah kekurangan materi, bisa dibilang sangat berlebih.
Sebagai anak tunggal, aku selalu diberi kemewahan- kemewahan materi yang berlimpah.
Tapi, satu hal yang selalu aku sayangkan. Mama dan papa tidak pernah punya waktu untukku. Aku sampai-sampai lupa kapan terakhir kali mereka memelukku.
Sedari kecil aku selalu di temani pembantu pembatu dan beberapa bodyguard di rumah.
Papa selalu pulang malam, dan dengan aroma parfum yang selalu berbeda. Mama dan Papa selalu bertengkar karena hal ini, karena bagi Mama, bau parfum itu adalah bukti, kalau Papa selalu berpergian dengan berganti ganti wanita setiap malamnya.
Ya, Mama mengetahui itu, tapi beliau selalu berusaha bertahan dan terlihat baik baik saja di depan media.
Mama selalu sibuk berbelanja dan berkumpul bersama teman-temannya. Saat pulang kerumah, jangankan menanyakanku bahkan untuk menyapa ku pun dia enggan.
Menurut mama aku hanyalah kesalahan, kehadiranku menjadi penghalang karirnya sebagai model go international.
Ya, mama dulunya adalah seorang model sampai menikah dengan papa, tapi tak lama kemudian dia mengandungku. Otomatis segala impiannya harus ia tangguhkan demi aku.
Sekarang umurku sudah 18tahun, dan aku baru saja menyelesaikan pendidikan di salah satu SMA terbaik di Palembang
Disana aku berteman dengan Ayra, gadis cupu dan introvert yang terkenal dengan berbagai kepintarannya di bidang akademis.
Bahkan Ayra merupakan salah satu murid akselerasi di sekolahku.
Ayra sebenarnya cukup manis, hanya saja dia tidak mengerti fashion dan tidak mau sedikit saja berdandan.
Awalnya, aku hanya ingin memanfaatkannya saja, untuk membantu menaikan nilai akademisku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa dia adalah sahabat terbaik yang aku punya.
Ayra satu satu nya orang yang kupercaya untuk menjadi tempat curhatku. Aku selalu meceritakan setiap kekesalanku dirumah pada Ayra yang selalu siap mendengarkan, dia tak segan-segan menasihatiku. Kemudian berakhir dengan tangis kami berdua.
Ayra mudah terbawa suasana dan sangat mudah menangis. Entahlah, itu mungkin karena hatinya yang begitu baik. Dia sangat polos dan tentu saja tulus.
Dia sangat tulus berteman denganku, dan akupun begitu menyayanginya. Bahkan aku menganggapnya seperti adikku sendiri, karena perbedaan umur nya yang terpaut dua tahun dibawahku.
Keluarga Ayrapun sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, mereka selalu mencoba menyamakan perhatian yang diberikan pada anak-anaknya seperti kepadaku juga.
*****
Hari ini aku sedang tiduran dikamarku, menikmati sedikit waktu yang aku punya.
Untuk beristirahat melepas penatnya kegiatan sekolah seharian ini.
Sebentar lagi aku harus berangkat les modeling. Baru saja ingin tertidur, tiba-tiba benda pipih kesayangku berdering. Kulihat nama yang terpampang disana adalah Angga.
"Heuumm ... ngapain sih tuh bocah nelpon aku?"
"Ganguin aja nih, baru juga aku mau tidur,"ujarku kesal.
"Tapi biarlah aku angkat saja kali aja penting," pikirku.
Lalu akupun menggeser ikon tombol hijau pada benda pipi keluaran terbaru itu.
Suara Angga terdengar sangat khawatir. Dia menjelaskan kalau Papanya kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit.
Aku menangis mendengarnya. Bagiku keluarga Ayra sudah ku anggap seperti keluargaku juga.
Kehangatan keluarga mereka selalu kurasakan saat aku berada disana. Mereka bahkan mengizinkanku memanggil "Mama dan Papa". Perlakuan mereka layaknya orangtua kepada anak kandungnya sendiri.
Setelah sambungan telepon terputus. Aku termenung sendiri memikirkan keadaan Ayra dan Papa nya.
"Ayra pasti sedang menangis ni," batinku.
"Anak cengeng itu pasti menangis sendirian agar tak ada yang melihat nya," gumamku pelan.
Akupun berganti pakaian dan bersiap siap menunggu Angga.
Aku berjalan keluar kamar dan menemui pembantuku. Mama dan Papaku sedang tidak di rumah, mereka selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Bi Imah, Bi Imah," panggilku.
"Iya, Neng" jawab Bi Imah.
"Bi, tolong bilang sama Mama ya kalau Nisha pergi les dan akan terlambat pulang, soalnya ada beberapa casting," kataku berbohong.
"Iya Neng, nanti bibik sampaikan," ujar Bi Imah menyunggingkan senyum.
"Makasih ya. Bi," jawabku cepat dan mengambil tangan Bi Imah lalu mengecupnya.
Aku memang memperlakukan perempuan tua yang sudah puluhan tahun mengabdikan hidupnya pada keluargaku itu layaknya memperlakukan keluargaku sendiri.
Aku tak segan memeluk bahkan merengek padanya untuk segala hal sepele.
"Asalamualaikum," ujarku.
"Walaikum salam Neng, hati hati ya," kata Bibi.
Aku berjalan cepat keluar rumah, aku sengaja menunggu Angga di pinggir jalan.
Ya, agar Bibi tak banyak tanya.
****
Tak lama kemudian Angga datang. Aku tersenyum kearahnya.
Angga memberikanku helm dan sedikit ke gombalannya yang tidak jelas itu. Aku tak menanggapinya dan segera naik ke atas motor dan langsung memegang erat ujung jaket Angga.
Aku sudah kama tak menaiki motor karena Orangtuaku memberikan fasilitas mobil yang bisa selalu ku bawa sendiri. Bahkan dari kecilpun aku selalu ditemanin supir jika ingin berpergian atau berbelanja sesuatu.
Angga melajukan motornya dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Angga selalu memulai obrolan-obrolan gak jelas. Bahkan Angga tak segan-segan menggodaku.
Sangking kesalnya aku memukul helmnya itu dengan tas kecil yang ku bawa. Dia bepura-pura kesakitan dan tetap saja menggodaku.
"Dih nih anak ada ada aja kelakuan nya, tapi lucu juga," batinku.
Lalu Angga terdiam dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Aku sedikit terkejut, jujur aku takut juga kalau di ajak ngebut gini.
Tapi aku berusaha menetralkan perasaanku. Akupun diam saja sepanjang perjalanan.
Anggapun hanya diam. Mungkin, kami terlarut dalam pikiran masing masing.
Akhirnya hanya ada keheningan selama perjalanan ke rumah sakit.
"Ayra Ayra, kenapa sih kamu bisa punya adik seajaib ini," batinku.
Akupun tersenyum dalam diam.
*****
*****
Hai readers... Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁
Jangan lupa like, coment dan vote ya .
😊😊😊