My Chef

My Chef
#27 Retak



Nisha dan Rayhan akhirnya resmi berpacaran. Hampir setiap hari Nisha menemui Rayhan di tempat yang sama dengan tempat Ayra bekerja. Seperti siang ini dengan memakai setelan rok selutut dan kemeja yang menampakkan belahan dada—gadis bernetra abu-abu itu berjalan


anggun memasuki restoran. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Ayra.


"Hai Ra," sapanya ramah.


"Eh, Nisha ... mau nemuin Rayhan ya?" tanyanya sedikit kikuk.


"Iya dong,Ra ... aku mau nemuin calon tunanganku." Lengkung tipis berbalut liptin orange itu melengkung ke atas membuat parasnya berbinar sempurna.


"Tu-na-ngan?" tanya Ayra terbata.


"Iya, kami akan segera bertunangan dalam waktu dekat," ujar Nisha dengan bangganya.


Mengulurkan tangan, gadis dengan iris coklat itu berkata, "Ehm ... selamat ya, Nish."


Tanpa menyambut uluran tangan Ayra, Nisha berucap,"Ya, makasih. Aku duluan ya." Nisha berjalan meninggalkan Ayra.


Ayra mematung di tempatnya berdiri. Sepasang bola cemerlang di paras seputih pualamnya mulai menggenang dan mengalirkan sungai pilu.


"Sayang." Suara berat dari seseorang yang sangat menjengkelkan tiba-tiba mengagetkan Ayra.


Buru-buru menghapus airmatanya—Ayra menoleh dan mendapati Andri tepat berada dibelakangnya. "Sejak kapan kau disitu?"


"Sejak kau berdiri seperti gadis bodoh." Senyum sinis tercetak jelas menampilkan ketidaksukaan dalam nada bicaranya.


Airmata yang sejak tadi ditahan akhirnya berlomba-lomba jatuh membasahi wajah Ayra. Sejurus kemudian Andri menarik Ayra— wanita yang beberapa waktu menguasai hati dan pikirannya—dalam dekapan.


"Tak perlu menangisi hal yang tak berharga, jangan membuang airmatamu."


Ayra tak mengucapkan apapun hanya tangisan pilu yang begitu menyayat hati.


Andri mengusap pelan punggung yang berbalut kemeja batik dan terus mempererat pelukan."Tenanglah, masih ada aku kapanpun kau butuh, tumpahkan saja semua kesalmu padaku, tapi berjanjilah kau akan tersenyum setelahnya."


"Kenapa dia sweet banget ya? Astaga bisa-bisa aku meleleh disini," batin Ayra.


Ayra mengurai pelukan menyisakan jarak antara keduanya. Menatap netra biru yang begitu menenangkan. Kemudian kedua tanganya melayang tepat di pipi Andri—menampar pelan bersamaan."Hei ... sadarlah An, kau kerasukan atau apa?" ledeknya.


"Cih ... dasar tak tahu terima kasih. Sudah ku beri hati kau malah menyakiti." Andri mendorong kasar Ayra yang membuat Ayra terjatuh kebelakang.


"Aw ... sakit tau!" pekik Ayra.


Tanpa berniat membantu, Andri tersenyum mengejek kemudian melemparkan sebungkus kecil tisu. "Lap ingusmu itu! Iih ... menjijikan sekali, kau bahkan membuat jasku kotor dengan ingusmu itu." Andri mengibas-ngibaskan tangan pada jas yang ia kenakan.


Membuka mulut sembari melotot tajam, Ayra tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. "Dasar nyebelin, kau selalu berkata seenaknya. Huh ...!" teriak Ayra tepat dihadapan Andri.


"Tapi aku benarkan, cewek cengeng." Memutar tumit, Andri melangkah meninggalkan Ayra.


"Iih ... baperan. Mau kemana kau, bantuin dulu!" perintahnya.


Menghentikan langkah kemudian menoleh sesaat. "Jangan bermimpi!" Andri melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya.


"Hey ...tunggu!" pekik Ayra.


Tiba-tiba Azizah datang menghampiri. "Ra, kamu kenapa duduk dibawah gitu?"


Ayra mengangkat tangannya keatas kemudian dengan cepat Azizah menarik tangannya dan membantu berdiri.


"Sekarang jelaskan kau kenapa, Ra?" tanya Azizah.


"Astaga, aku tak mungkin menjelaskan hal memalukan tadi," Ayra membatin.


"Ah tak apa, Kak. Aku cuma gak biasa pakai high heels jadi sedikit tersandung dan ya ... seperti yang Kakak lihat."


"Hahahahaha ... kamu ada-ada aja, Ra. Aku kira kau mau menangkap kodok." godanya.


Memutar bolamatanya malas. " Iih ... Kak Azizah mah," ujarnya manja.


Azizahpun menghentikan tawanya." Ya udah yuk kita lanjut kerja lagi," ajaknya dan merekapun melanjutkan pekerjaan masing-masing.


*****


Nisha berjalan memasuki dapur, ia menangkap siluet yang sangat dirindukannya.


"Sayang." Nisha memeluk Rayhan dari belakang. Aroma Vanila dari tubuhnya menguar—memberi sensai menyegarkan.


Tanpa menoleh, Rayhan berkata, "Honey ... please! Jangan menggangguku, kau tahu aku sedang memasak."


Nisha melepaskan pelukakan. "Jadi aku mengganggu nih?" rajuknya.


Rayhan menghentikan kegiatan memasaknya, mengecilkan api kompor kemudian berbalik menghadap Nisha. "Cha, Kakak sedang kerja Sayang."


Nisha bergeming—mengatupkan bibir dengan kedua tangan terlipat didada—tanpa menjawab apapun.


Rayhan mendekat lalu menarik Nisha dalam pelukan."Berhenti merajuk. Kau terlihat jelek." Nisha melepas pelukan dan bergumam pelan," Jadi aku jelek."


Rayhan sedikit kesal lalu mengecup pelan bibir tipis yang begitu menggoda.


Seperdetik kemudian kedua benda kenyal itu bertautan, menyesap setiap inci, tanpa mau melerainya.


Tiba-tiba Andri melangkah masuk dan mengintrupsi. "Ehem ... ehem ... ini dapur, tempat kerja! Kelakuan kalian begitu merusak pemandangan." Andri berjalan mengambil secangkir minuman dan menenggaknya hingga habis tak bersisa.


Rayhan dan Nisha melepaskan pagutan sembari mengatur napas dan terdiam mengamati Andri.


Berjalan mendekati Nisha, Andri berdecak kesal." Cih ... murahan!"


Rayhan langsung menarik kerah kemeja Andri dan siap melayangkan pukulan namun Nisha langsung mencegahnya.


"Kak, plise ... biarkan saja."


Melepaskan cengkramanya, Rayhan menunjuk tepat di muka Andri. "Kau, pergilah! Sebelum kesabaranku habis."


Andri diam, mengacuhkan ucapan Rayhan kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


Rayhan kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Mencampur berbagai rempah, menumisnya kemudian memasukkan beberapa daging yang telah di potong-potong kecil. Nisha sedari tadi diam mengamati lelaki kesayangannya itu. Senyum manis menghiasi wajahnya.


Rayhan yang merasa diamatipun menoleh sesaat."Aku tau kalo aku tampan."


"Iya Kak, kau memang lelaki tertampan yang aku miliki," imbuh Nisha.


"Ah ... andai saja Ayra, dia pasti akan menyanggah setiap perkataanku bahkan tak segan mengataiku," batin Rayhan.


Rayhan mendekati Nisha."Ya, aku tau. Berhenti menggodaku dan cepat kancing kemejamu," pinta Rayhan sambil mengancingkan salah satu kancing bagian atas pada kemeja Nisha.


*****


Semantara itu diruangan lain.


Andri yang baru keluar dari dapur dan membanting pintu dengan keras lalu menarik tangan seseorang yang sedari tadi mengintip. "Ayo ikut aku."


Ayra mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Andri."Pelan-pelan! Sakit, Kak."


Andri menghentikan langkahnya."Udah tau sakit, masih aja kamu lihatin."


"A-aa-aku ... aku tak mengerti maksudmu, Kak?" sanggah Ayra.


"Berhenti pura-pura. Dasar tukang ngintip," sindir Andri.


Ayra mendongak menatap wajah didepannya. "Cih ... kalo aku memang ngintip kenapa Hah! Masalah buat Kamu?"tantangnya.


Andri mengernyitkan dahi, matanya menatap sinis, seketika auranya berubah, lebih mengintimidasi lawan dihadapannya. Ayra yang ditatap sedemikian menjadi sedikit gugup. Ayra terus saja menautkan kedua jarinya sambil menunduk.


"Lihat aku!" Andri menangkupkan kedua tanganya dipipi Ayra, menatapnya dalam.


"A-aa-apa," jawab Ayra.


"Berhenti menyakiti diri sendiri, coba berdamai dengan keadaan." Andri memandang sendu netra yang diselimuti awan mendung itu.


Ayra tak kuasa menahan bulir-bulir bening yang jatuh bagai rintikan hujan.


"Kau tau, ada sesuatu yang retak disini." Tunjuknya pada dada bagian sebelah kanan atas. "Bahkan mungkin sudah hancur berkeping-keping." Isaknya makin tak bisa dikendalikan.


Dengan lembut Andri menghapus airmata itu." Relakan sajaj. Bukankah masih ada aku!" Tersenyum semanis madu—Andri bahkan mengedipkan sebelah matanya.


Ayra terdiam dan kemudian tersenyum.


"Kau selalu saja seenaknya." Ayra memukul pelan dada Andri.


Menarik Ayra dalam pelukannya, Andri berujar pelan, "Sudahlah, aku tak mau melihat airmatamu lagi apalagi itu karena mereka."


"Apa sudah jadi kebiasaanmu, memelukku sesuka hatimu saja?" cicit Ayra tanpa melepaskan dekapan.


"Hey ... bukankah kau tak pernah menolaknya? Aku pikir kau begitu menyukainya." Andri terkekeh pelan sembari mengusap lembut puncak kepala Ayra.


Dengan gemas Ayra mencubit dada Andri." Kau percaya diri sekali ya Tuan arogan." Ayra melepaskan pelukan.


"Aku anggap itu pujian darimu," tukas Andri dan berbalik meninggalkan Ayra.


"Hei ... terimakasih," celetuk Ayra.


Andri menghentikan langkah kamudian menoleh sesaat." Sama -sama. Lanjutkanlah pekerjaanmu, Sayang." Andri tersenyum dan berlalu meninggalkan Ayra.


"Hah ... Sayang? Hem ... seenaknya saja," gumam Ayra.


"Tapi benar juga ya, kan kami kemarin bertunangan secara tidak sengaja," gumamnya lagi.


*****


Hai readers makasih ya masih setia nunggui kelanjutan ceritaku. Maaf kalau aku suka lama updatenya.😊🙏🙏🙏😅


Selalu tinggalkan Like, comment, dan vote ya biar aku semakin semangat nulisnya.


Terima kasih.🙏😊🤗